Akhir pekan ini sudah ada rencana ke mana Mums? Bagi Mums yang tinggal di Jakarta, bisa datang ke ABCD Land di Urban Forest, Jakarta. ABCD Land atau Ayo Bersama Cegah Demam berdarah diadakan Cuma dua hari saja, pada tanggal 20-21 Juni 2026.
ABCD Land diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Dengue ASEAN (ASEAN Dengue Day), momentum tahunan yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi dengue sebagai salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Ada Apa Saja di ABCD Land?
ABCD Land merupakan bagian dari inisiatif Langkah Bersama Cegah DBD yang telah dijalankan Takeda sejak 2023 bersama mitra dari Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, komunitas, dan masyarakat luas.
“Ini merupakan kelanjutan dari kerja sama kami dalam edukasi pencegahan DBD bersama Kementerian Kesehatan. Jadi, selama dua hari ke depan di akhir pekan ini (20-21 Juni 2026), di seluruh kawasan Urban Forest Cipete, akan ada banyak sekali stan, berbagai kegiatan untuk anak-anak, lomba, workshop anak, dan permainan. Jadi, Anda bisa datang ke sini bersama seluruh anggota keluarga untuk bersenang-senang sekaligus belajar cara mencegah DBD dan melindungi keluarga (dari infeksi virus dengue),” jelas Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines.
ABCD Land hadir untuk mengajak masyarakat, khususnya keluarga, memahami pentingnya pencegahan DBD secara menyeluruh dan mengambil langkah perlindungan sejak dini. Apalagi menjelang musim liburan sekolah, membekali diri dengan pemahaman yang tepat tentang pencegahan DBD menjadi langkah penting agar keluarga dapat menikmati waktu liburan dengan tenang, bukan dibayangi kekhawatiran akan risiko DBD.
Mums dapat mengikuti berbagai aktivitas edukatif, konsultasi kesehatan, permainan interaktif untuk keluarga, serta sesi berbagi informasi bersama para ahli guna membantu masyarakat mengenali risiko DBD dan langkah pencegahannya secara praktis.
Ancamam Dengue tidak Pandang Bulu
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini semakin mengkhawatirkan akibat dampak perubahan iklim yang kian nyata., salah satunya El Nino.
El Nino memengaruhi suhu udara dan pola curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, berpotensi memperluas habitat dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, sehingga meningkatkan risiko penyebaran DBD secara lebih luas dan potensi wabah yang berkepanjangan.
Ibukota Jakarta, juga menghadapi tantangan tersendiri dalam pengendalian DBD. Hingga 15 Juni 2026, tercatat 5.700 kasus infeksi dengue di DKI Jakarta. Angka ini menunjukkan bahwa DBD masih menjadi ancaman nyata bagi warga Jakarta, terutama di wilayah dengan mobilitas dan kepadatan penduduk yang tinggi.
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat berbagai upaya pengendalian dengue, mulai dari peningkatan edukasi dan kesadaran masyarakat, penguatan peran kader Jumantik, penggerakan 3M Plus dan pengendalian vektor, hingga kolaborasi lintas sektor.
Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), memaparkan, hingga saat ini masih banyak orang tua yang menganggap DBD sebagai penyakit musiman yang hanya perlu diwaspadai pada waktu-waktu tertentu.
Padahal, risiko penularan dapat terjadi kapan saja, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, termasuk syok dengue yang memerlukan penanganan segera.
“Perlindungan terhadap anak tidak bisa hanya mengandalkan satu langkah. Menerapkan 3M Plus dan mengenali gejala DBD sejak dini tetap penting. Selain itu, pendekatan yang benar-benar komprehensif termasuk perlindungan dari dalam melalui vaksinasi, juga dapat membantu mengurangi risiko hospitalisasi dan komplikasi akibat DBD,” jelas Prof. Hartono.
IDAI mendorong orang tua untuk aktif berkonsultasi dengan dokter anak mengenai langkah perlindungan untuk buah hati mereka. IDAI sudah memberikan rekomendasi untuk vaksin dengue pada anak untuk perlindungan optimal dari DBD.


