Kehamilan adalah momentum penting dalam hidup yang penuh kesan, apalagi kehamilan pertama yang biasanya disambut dengan sangat antusias. Tidak hanya dari sisi agama, dari sisi tradisi dan budaya pun, kehamilan selalu diperlakukan dengan khusus, salah satunya lewat tradisi syukuran 4 dan 7 bulan kehamilan.
Tradisi yang dirawat secara turun temurun ini tidak lekang oleh waktu, bahkan di era serba digital dan AI saat ini. Acara syukuran 4 dan 7 bulan kehamilan tetap dilakukan oleh generasi saat ini, tentu saja dengan arahan atau pendampingan dari para orang tua dan sesepuh yang ada.
Mengenal tradisi 4 bulanan dan 7 bulanan
Dalam budaya Indonesia, terutama budaya Jawa dan Sunda, tradisi 4 bulanan dan syukuran 7 bulanan kehamilan masih sering dilakukan oleh masyarakat. Acara ini biasanya diisi dengan pengajian, doa bersama, dilanjutkan dengan makan bersama keluarga dan tamu yang hadir.
Tidak lupa, berbagai ritual tertentu sesuai adat daerah pun ikut dilakukan dalam tradisi acara syukuran 4 atau 7 bulan kehamilan ini. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk syukur atas kehamilan yang sedang berjalan, dan doa untuk keselamatan serta kelancaran kehamilan hingga melahirkan.
Tradisi syukuran kehamilan yang sudah ada sejak lama dan menjadi bagian budaya turun-temurun di Indonesia ini, dipandang sebagai akulturasi budaya dan Islam. Penelitian dalam jurnal Qurrata: Quranic Research and Tafsir (2024) menjelaskan bahwa tradisi tujuh bulanan atau mitoni merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dengan nilai Islam.
Penelitian menggunakan pendekatan Living Qur’an ini menemukan bahwa masyarakat sering mengisi acara dengan pembacaan Al-Qur’an, doa keselamatan ibu dan janin, serta sedekah atau makan bersama.
Perbedaan tradisi 4 bulanan dan 7 bulanan
Baik tradisi 4 bulanan maupun 7 bulanan, keduanya memiliki dasar dan tujuan yang sama, yaitu sebagai momentum memanjatkan doa agar ibu dan bayi selamat selama kehamilan hingga proses persalinan.
Yang membedakan keduanya hanyalah pada pemilihan waktu diadakannya tradisi syukuran tersebut. Sesuai dengan namanya, syukuran 4 bulanan biasanya dilakukan saat usia kandungan memasuki 4 bulan.
Dalam Islam, usia 4 bulan ini dikaitkan dengan hadis tentang momen ditiupkannya ruh ke dalam janin. Karena itu, sebagian masyarakat mengadakan doa bersamaan dengan momentum ditiupkannya ruh ke dalam janin, sebagai bentuk rasa syukur dan harapan agar janin sehat dan selamat hingga lahir.
Sementara itu, tradisi 7 bulan kehamilan atau mitoni lebih identik dengan budaya Jawa. Acara ini dilakukan saat usia kandungan memasuki tujuh bulan, terutama pada kehamilan pertama. Dalam tradisi adat, 7 bulanan sering disertai berbagai simbol dan ritual budaya, seperti siraman, pergantian kain batik, memasukkan kelapa gading, hingga prosesi adat tertentu.
Hukum syukuran kehamilan dalam Islam
Dalam Islam, pada dasarnya, bersyukur adalah hal yang sangat dianjurkan. Syukuran 7 bulan kehamilan adalah bentuk rasa syukur dengan mengadakan pengajian, doa dan makan bersama, sedekah, atau berbagi kebahagiaan.
Namun, para ulama menekankan bahwa tidak ada kewajiban khusus melakukan syukuran 4 bulanan maupun 7 bulan kehamilan, tidak ada tuntunan khusus dari Rasulullah SAW mengenai ritual tertentu, dan acara tersebut termasuk tradisi budaya, bukan ibadah wajib.
Karena itu, hukumnya umumnya diperbolehkan (mubah) selama tidak mengandung kesyirikan, tidak meyakini ritual tertentu membawa kekuatan gaib, tidak berlebihan, dan tidak bercampur dengan hal yang dilarang agama.
Sebaliknya, jika syukuran diisi keyakinan mistis, sesajen untuk makhluk gaib, atau ritual yang bertentangan dengan tauhid, maka hal tersebut tidak dianjurkan dalam Islam.
Dalam pandangan agama, sebenarnya tidak ada yang lebih wajib atau lebih utama antara 4 bulanan dan 7 bulanan. Keduanya hanyalah tradisi masyarakat. Jika ingin mengadakan syukuran, fokuslah pada doa dan rasa syukur kepada Allah, lakukan dengan sederhana, dan hindari keyakinan yang tidak sesuai syariat.
Tips mengadakan syukuran sesuai syariat
Mums, agar syukuran kehamilan tetap bernilai positif dan tidak keluar dari ajaran agama Islam, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:
1. Niatkan sebagai rasa syukur kepada Allah
Fokus utama acara syukuran 7 bulan kehamilan sebaiknya adalah berdoa dan bersyukur, bukan sekadar mengikuti ritual adat, apalagi gengsi sosial.
2. Hindari ritual yang mengandung unsur syirik
Tidak perlu melakukan ritual yang dipercaya memiliki kekuatan gaib atau meminta perlindungan selain kepada Allah.
3. Isi acara dengan kegiatan positif
Misalnya, pengajian, membaca doa bersama, ceramah agama, sedekah makanan, santunan anak yatim, atau berbagi kepada tetangga.
4. Tidak berlebihan
Syukuran tidak harus mewah atau menghabiskan biaya besar. Dalam Islam, kesederhanaan lebih dianjurkan daripada memaksakan diri demi acara besar.
5. Pisahkan budaya dan keyakinan agama
Tradisi budaya boleh dilakukan selama dipahami sebagai budaya, bukan kewajiban agama atau ritual yang harus dipercaya secara mutlak. Jadi, bedakan keduanya ya, Mums, jangan dicampuradukkan karena keduanya merupakan hal yang berbeda.
Mums, syukuran 4 bulanan dan 7 bulanan pada dasarnya merupakan tradisi budaya yang bertujuan mengungkapkan rasa syukur atas kehamilan. Dalam Islam, hukumnya diperbolehkan selama tidak mengandung unsur syirik, ritual mistis, atau keyakinan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Apa pun yang Mums pilih, baik itu syukuran 4 bulanan maupun 7 bulanan, selama tidak memberatkan dan tetap sesuai ajaran Islam, keduanya boleh dilakukan. Yang terpenting adalah niat bersyukur kepada Allah, memperbanyak doa untuk ibu dan bayi, serta menjalankannya secara sederhana dan sesuai syariat.
Referensi :
Qurrata: Quranic Research and Tafsir. 2024. Tradisi Tujuh Bulanan Dalam Perspektif Living Qur'an: Antara Budaya Lokal Dan Stigma Bid'ah.


