Anak bisulan bikin orang tua khawatir, apalagi bila muncul di area tubuh yang sensitive dan menghambat aktivitas si Kecil. Lepas dari kondisi bisulan yang sangat nyeri bahkan dapat menimbulkan demam, kondisi ini sering kali dikaitkan dengan alergi telur sebagai pemicunya.
Penelitian menyatakan, alergi telur dimediasi oleh IgE, dananak atau ornag dewasa sehat mampu menghasilkan IgE spesifik antigen setelah terpapar alergen telur. Dipercaya bahwa mungkin ada komponen genetik dalam perkembangan alergi telur karena keturunan individu atopik lebih mungkin menderita alergi sendiri.
Telur memang dikenal sebagai salah satu makanan yang paling umum memicu alergi pada anak. Namun, benarkah bisul berkaitan langsung dengan alergi telur? Untuk menjawabnya, orang tua perlu memahami terlebih dahulu apa itu alergi telur dan bagaimana gejalanya.
Studi prospektif terbaru (2024–2025) menunjukkan bahwa alergi makanan pada anak umumnya sering dipicu oleh protein telur dan susu sapi, terutama pada masa bayi. Dalam cohort yang diteliti, sekitar 66–67% kasus alergi makanan anak melibatkan alergi telur, yang muncul sejak masa bayi.
Anak bisulan karena kebanyakan makan telur?
Bisul merupakan infeksi kulit yang umumnya disebabkan oleh bakteri, terutama Staphylococcus aureus. Infeksi ini terjadi ketika bakteri masuk ke dalam kulit melalui pori-pori atau luka kecil, lalu menyebabkan peradangan dan pembentukan nanah.
Namun, ada kondisi tidak langsung yang sering membuat orang tua mengaitkan anak bisulan dengan alergi telur. Anak dengan alergi makanan, termasuk alergi telur, sering kali juga memiliki dermatitis atopik (eksim). Kulit yang sering gatal, kering, dan terluka akibat garukan menjadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri. Inilah yang dapat meningkatkan risiko timbulnya bisul.
Jadi, bisul bukanlah gejala khas alergi telur. Alergi telur tidak secara langsung menyebabkan bisul, tetapi kondisi kulit yang menyertai alergi dapat mempermudah terjadinya infeksi kulit yang memicu timbulnya bisul.
Gejala alergi telur pada anak
Alergi telur terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap protein tertentu dalam telur. Tubuh menganggap protein tersebut sebagai zat berbahaya, lalu melepaskan zat kimia seperti histamin yang memicu berbagai gejala alergi.
Baik kuning maupun putih telur dapat menyebabkan reaksi alergi, tetapi yang lebih sering terjadi adalah alergi terhadap putih telur.. Alergi telur dapat muncul sejak bayi, bahkan pada bayi yang masih menyusu, karena protein telur bisa masuk ke ASI jika ibu mengonsumsi telur. Kabar baiknya, sebagian besar anak akan “sembuh” dari alergi telur seiring bertambahnya usia, dan banyak yang tidak lagi alergi saat memasuki usia remaja.
Gejala alergi telur biasanya muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah anak mengonsumsi telur atau makanan yang mengandung telur. Tingkat keparahannya bervariasi, dari ringan hingga berat. Gejala yang paling umum meliputi:
Biduran atau bentol merah yang gatal pada kulit
Ruam atau pembengkakan kulit
Hidung tersumbat atau berair, bersin
Sakit perut, kram, muntah, atau diare
Batuk, mengi, atau sesak napas (gejala seperti asma)
Pada kondisi yang sangat jarang tetapi berbahaya, alergi telur dapat menyebabkan “anafilaksis”, yaitu reaksi alergi berat yang mengancam nyawa. Gejalanya meliputi pembengkakan tenggorokan, kesulitan bernapas, detak jantung cepat, penurunan tekanan darah, pusing, hingga pingsan.
Faktor risiko alergi telur
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko alergi telur pada anak antara lain:
1. Riwayat eksim atau dermatitis atopik
Dermatitis atopik atau yang juga disebut eksim menjadi salah satu faktor munculnya reaksi alergi pada anak. Anak-anak dengan kondisi kulit seperti ini jauh lebih mungkin terkena alergi makanan daripada anak-anak yang tidak memiliki kondisi masalah kulit.
2. Riwayat alergi dalam keluarga
Anak dengan riwayat keluarga alergi, memiliki risiko alergi makanan yang lebih tinggi jika salah satu atau kedua orang tuanya memiliki kondisi kesehatan tertentu. Kondisi ini termasuk asma, alergi makanan, atau jenis alergi lainnya, seperti demam alergi, gatal-gatal, atau eksim.
3. Usia anak yang masih kecil
Alergi telur paling umum terjadi pada anak-anak. Kabar baiknya, seiring bertambahnya usia, sistem pencernaan menjadi lebih matang dan reaksi alergi terhadap makanan cenderung lebih jarang terjadi.
Anak dengan alergi telur juga berisiko memiliki alergi lain, seperti alergi susu, kedelai, atau kacang, serta risiko asma yang lebih tinggi.
Kapan anak alergi harus ke dokter?
Mums, bawa segera ke dokter bila anak bisulan yang disertai dengan salah satu atau lebih kondisi berikut ini :
Jika si Kecil menunjukkan gejala alergi setiap kali makan telur
Muncul biduran hebat, muntah berulang, atau sesak napas
Sering mengalami bisul disertai eksim yang berat
Terjadi gejala anafilaksis, yang memerlukan penanganan darurat segera
Dokter akan memastikan apakah anak benar-benar alergi telur melalui riwayat gejala dan pemeriksaan lanjutan. Pada anak yang berisiko mengalami reaksi berat, dokter dapat meresepkan epinefrin autoinjektor sebagai pertolongan pertama saat terjadi reaksi alergi serius.
Untuk mencegah anak bisulan, penting menjaga kebersihan kulit anak, mengobati eksim dengan tepat, menghindari garukan berlebihan, dan segera menangani luka kecil agar tidak terinfeksi bakteri.
Mums, anak yang sering bisulan tidak selalu berarti alergi telur. Alergi telur lebih sering menimbulkan gejala seperti biduran, gatal, gangguan pencernaan, atau gangguan pernapasan. Namun, anak dengan alergi telur dan eksim memang lebih rentan mengalami infeksi kulit, termasuk bisul.
Karenanya jika anak sering bisulan dan dicurigai memiliki alergi, segera periksa ke dokter untuk mendapakan penanganan medis yang tepat.
Referensi :
NCBI. Egg Allergy.


