Perselingkuhan bisa terjadi bukan karena memang sudah tidak ada cinta di antara suami dan istri, kadang hanya kedekatan emosi yang mulai renggang.
Kalau suami berpaling, bisa jadi ia merasa kesepian karena istri tidak hadir secara emosional. Kedekatan sehari-hari hanya sebatas rutinitas. Percakapan mungkin hanya berkisar pada anak, pekerjaan, tagihan, atau urusan rumah tangga. Lama-kelamaan, pasangan bisa merasa tidak lagi menjadi tempat untuk bercerita.
Ketika hubungan mulai hambar, lakukan pendekatan lagi dengan lebih hadir secara emosi ke pasangan. Menemani, memberikan semangat, melakukan pembicaraan dalam atau deep talk setiap malam.
Aktivitas seksual atau keintiman yang berkurang adalah tanda tidak ada lagi kedekatan emosi dan ini bisa memicu pria berpaling ke wanita lain.
Ada banyak faktor yang memicu perselingkuhan. Kalau kasusnya suami yang berpaling pada wanita lain, bisa jadi karena ia tidak merasakan kehadiran istri secara emosi. Dalam pernikahan, hadir secara fisik tidak selalu berarti hadir secara emosional. Suami dan istri bisa tinggal serumah, makan bersama, bahkan mengurus anak bersama, tetapi jarang benar-benar berbicara, mendengarkan, atau memberikan perhatian satu sama lain.
Kondisi seperti ini dapat membuat salah satu pasangan merasa kesepian di dalam hubungan. Lalu, apakah kurangnya kehadiran istri bisa menjadi penyebab suami selingkuh? Jawabannya tidak sesederhana itu. Sebelum terlambat, segera sadari ketika ikatan emosi Mums dan Dads mulai dingin, mulai semua terasa seperti formalitas. Karen jangan-jangan sedang ada bahaya diam-diam yang mengancam.
Segera perbaiki dengan melakukan upaya seperti mendekatkan diri dan hadir secara emosi, deep talk setiap hari, tidak perlu lama. Minimal menjelang tidur. Atau minta bantuan konseling pernikahan atau psikolog.
Berbagai Penyebab Perselingkuhan
Perselingkuhan tidak memiliki satu penyebab tunggal. Faktor individual, kualitas hubungan, kepuasan pernikahan, kesempatan, nilai pribadi, hingga dinamika seksual dan emosional dapat berperan.
Penelitian di jurnal Family Process (2024) yang menganalisis pasangan dalam National Couples Survey menemukan bahwa perselingkuhan berkaitan dengan kepuasan hubungan yang lebih rendah pada suami maupun istri.
Artinya, kualitas hubungan memang merupakan salah satu hal yang relevan ketika membicarakan perselingkuhan, tetapi bukan berarti pasangan yang kurang hadir otomatis membuat pasangannya selingkuh.
Berikut beberapa penyebab perselingkuhan dikaitkan dengan ketiadaan ikatan emosi:
1. Ketika kebutuhan emosional tidak lagi terasa terpenuhi
Salah satu masalah yang dapat muncul ketika pasangan jarang memiliki waktu berkualitas adalah semakin berkurangnya koneksi emosional. Percakapan mungkin hanya berkisar pada anak, pekerjaan, tagihan, atau urusan rumah tangga. Lama-kelamaan, pasangan bisa merasa tidak lagi menjadi tempat untuk bercerita.
Kondisi ini berbeda dengan sekadar kurang bertemu.Yang dibutuhkan dalam hubungan bukan hanya kehadiran fisik, tetapi juga rasa didengar, dihargai, diperhatikan, dan memiliki ruang untuk terhubung.
Penelitian di Jurnal Marital Family (2025) mengenai partner phubbing—ketika seseorang lebih fokus pada ponsel dibandingkan pasangannya—menunjukkan bahwa perasaan diabaikan dapat berhubungan dengan emotional loneliness dan kepuasan hubungan yang lebih rendah, yang kemudian berkaitan dengan komitmen terhadap hubungan.
2. Kedekatan seksual berkurang
Selain kedekatan emosional, kehidupan seksual dapat menjadi bagian dari kualitas hubungan pasangan. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam BMC Psychology pada 2025 terhadap 292 orang yang telah menikah menemukan hubungan antara kepuasan kehidupan seksual dan kepuasan hubungan. Kedua hal tersebut juga berkaitan dengan niat melakukan perselingkuhan, dengan kepuasan hubungan berperan sebagai mediator.
Namun, temuan tersebut tidak berarti istri harus selalu memenuhi kebutuhan seksual suami agar suami tidak selingkuh. Perselingkuhan tetap merupakan pilihan dan tanggung jawab orang yang melakukannya. Ketidakpuasan dalam hubungan seharusnya menjadi alasan untuk berkomunikasi dan mencari solusi bersama, bukan pembenaran untuk mengkhianati pasangan.
Jadi, apa yang sebenarnya perlu diperhatikan?
Pernikahan membutuhkan “hadir”, bukan hanya “ada” Pekerjaan, anak, aktivitas sosial, dan berbagai tanggung jawab memang bisa membuat waktu pasangan semakin sedikit. Karena itu, menjaga hubungan bukan berarti harus selalu bersama setiap saat.
Kadang, 15 menit berbicara tanpa memegang ponsel, makan malam bersama, menanyakan bagaimana hari pasangan, atau sekadar memberikan pelukan dapat menjadi bentuk kehadiran yang bermakna.
Yang terpenting adalah membangun hubungan di mana kedua pasangan merasa bahwa mereka masih memiliki tempat untuk pulang secara emosional. Sebab, ketika hubungan mulai terasa jauh, solusinya bukan mencari orang ketiga. Solusinya adalah membicarakan jarak tersebut—sebelum jarak itu semakin lebar.
Referensi jurnal
1. BMC Psychology (2025). Sex life dissatisfaction contribute to intention toward infidelity among Malaysians: relationship satisfaction as a mediator.
2. Journal of Marital and Family Therapy. (2025). How Does Being Phubbed Affect Commitment? Exploring the Roles of Emotional Loneliness and Relationship Satisfaction.
3. Family Process. (2024). “I know what you did”: Associations between relationship satisfaction and reported and suspected extramarital sex. 6


