Ekspektasi berlebihan pada anak laki-laki untuk selalu tegar, kuat, tidak boleh cengeng, tidak boleh menangis, adalah bagian dari toxic masculinity.
Tanpa sadar toxic masculity sudah jadi bagian dari interaksi sehari-hari dan sudah ada sejak generasi terdahulu yang diwariskan hingga kini.
Tuntutan berlebihan yang mengabaikan sisi humanis seorang laki-laki dalam toxic masculinity inilah yang diam-diam menggerus keinginan seseorang untuk mengakui bahwa dirinya punya kelemahan, bahwa ia pun butuh bantuan, dan berhak untuk mendapatkan perhatian.
Yuk, Kenali Toxic Masculinity
Sekilas, kalimat-kalimat seperti “Anak laki-laki harus kuat, tidak boleh cengeng, tidak boleh menyerah” adalah motivasi untuk menjadi pribadi yang kuat, berani, tegar, tangguh. Namun di sisi lain, jika hal itu disampaikan terus menerus akan melahirkan mindset bahwa lemah, takut, atau sedih bagi laki-laki itu adalah sebuah kelemahan, memalukan, bahkan kesalahan.
Inilah yang disebut dengan toxic masculinity, ketika sikap keberanian dan kekuatan mental seorang laki-laki justru menimbulkan masalah baru bagi anak laki-laki karena mengabaikan sisi humannis seperti empati dan kerentanan mental seseorang.
Mums, perlu dipahami bahwa toxic masculinity bukan berarti semua sifat maskulin seperti keberanian, tegar, tegas, itu buruk atau anak laki-laki tidak boleh jadi kuat dan pemberani. Namun sering kali problemnya adalah ketika menanamkan sifat-sifat masukulin tersebut, anak laki-laki harus menekan emosi, mendominasi orang lain, atau mengganggap perilaku kasar itu normal bagi laki-laki.
Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Community Psychology (2021) menunjukkan bahwa kepatuhan yang lebih kuat terhadap norma gender yang kaku, termasuk pembatasan ekspresi emosi, berkaitan dengan lebih banyak masalah kesehatan mental internal dan lebih rendahnya dukungan sosial.
Artinya bagi orang tua, jika anak laki-laki tetap perlu diberi kesempatan menangis, mengungkapkan rasa takut, dan bercerita ketika mengalami masalah. Mengajarkan pengelolaan emosi jauh lebih bermanfaat daripada sekadar meminta anak berhenti menangis.
American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa norma maskulinitas tertentu, terutama penekanan emosi dan tuntutan untuk selalu mandiri, dapat menjadi hambatan bagi laki-laki untuk mencari bantuan ketika mengalami masalah kesehatan mental.
Contoh Sikap Toxic Masculinity
Berikut ini contok sikap toxic masculinity yang sering ditemui sehari-hari :
Ketika seorang anak laki-laki berperilaku maskulin, dan dia diintimidasi oleh anak laki-laki di kelasnya karena dianggap terlalu feminin.
Ketika seorang anak laki-laki menangis dan ayahnya menyuruhnya untuk bersikap tegar atau melarangnya menangis karena dianggap lemah.
Selalu menuntut anak laki-laki harus selalu berani dan tidak boleh merasa takut.
Mengajarkan bahwa laki-laki harus menang dalam setiap persaingan.
Membenarkan perilaku kasar karena dianggap sebagai sifat alami laki-laki.
Menganggap pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan bukan tanggung jawab laki-laki.
Mengejek anak laki-laki yang dianggap kurang maskulin, misalnya karena menyukai aktivitas yang tidak sesuai stereotip gender.
Ketika seorang pria mendikte pasangannya mengenai apa yang boleh atau tidak boleh dikenakan, serta dengan siapa pasangannya boleh atau tidak boleh menghabiskan waktu.
Ketika seorang pria takut untuk menunjukkan kerentanan emosional di hadapan pasangannya karena khawatir dianggap lemah.
Ketika seorang pria yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya enggan menemui terapis karena merasa harus bersikap jantan atau bertahan melewatinya begitu saja.
Dampak Toxic Masculinity terhadap Anak Laki-Laki
Ada sejumlah dampak buruk dari toxic masculinity yang tanda disadari justru berbahaya bagi anak laki-laki, di antaranya :
1. Kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi
Sedih, menangis, kecewa, adalah emosi dasar yang dimiliki manusia. Namun ketika larangan untuk menangis dan bersedih yang diberikan pada anak laki-laki, maka ia selalu menyembunyikan kesedihan, ketakutan, atau kekecewaannya. Mungkin ia terlihat tegar namun kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosinya sendiri. Hal ini akan membuatnya semakin tertekan.
2. Enggan mencari bantuan
Tekanan emosional yang dialami anak laki-laki membuatnya enggan atau malu mencari bantuan yang dibutuhkan dalam mengatasi beban mental yang dirasakannya. Cenderung menyembunyikan apa yang dirasakan ketimbang mencari bantuan.
3. Terisolasi dan merasa kesepian
Bahkan untuk sekadar membicarakannya, ia tak punya keberanian, tak ada ruang untuknya bercerita, menyampaikan keluh kesahnya. Karena menganggap tidak pantas bagi laki-laki untuk mengungkapkan perasaannya. Sehingga anak menghindari percakapan tentang masalah atau emosi yang dapat meningkatkan perasaan terisolasi dan kesepian.
4. Melakukan tindakan agresif
Anak yang tidak terbiasa menyampaikan kesusahannya secara verbal, cenderung melampiaskannya melalui tindakan agresif seperti memukul, membentak, atau membully temannya. Menurut American Psychological Association (APA), norma yang menekankan dominasi, agresivitas, dan pembatasan ekspresi emosi dapat meningkatkan risiko perilaku agresif pada sebagian laki-laki dan anak laki-laki.
5. Sulit membangun hubungan yang sehat
Tuntutan berlebihan bahwa anak laki-laki harus selalu kuat dan tanggung menyulitkan anak untuk menunjukkan kerentanan bahkan pada orang terdekatnya. Hubungan yang sehat butuh untuk saling mendengarkan, berbagi perasaan, menunjukkan kepedulian, menghormati batasan orang lain.
Mums, toxic masculinity bukan melarang anak menjadi kuat, berani, mandiri, atau tegas. Yang perlu dihindari adalah pola pengasuhan yang membuat anak percaya bahwa ia harus menekan emosi, mendominasi orang lain, atau menggunakan kekerasan agar dianggap sebagai laki-laki sejati.
Untuk menjadi tangguh dan kuat, anak laki-laki tidak harus kehilangan kelembutannya. Ada kalanya ia harus gagah berani, namun ada saatnya ia boleh merasa takut. Meminta bantuan bukan berarti tanda anak laki-laki lemah namun ia paham batas kemampuannya.
Bedakan maskulinitas yang sehat dan tidak sehat. Jangan jadikan sifat-sifat maskulinitas alasan untuk merendahkan orang lain, menekan emosi, atau membenarkan kekerasan.
Referensi :
1. American Journal of Community Psychology (2021) A Systematic Review of Adolescent Masculinities and Associations with Internalizing Behavior Problems and Social Support.


