Mums, protein hewani adalah zat gizi penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Biasanya, ibu rumah tangga memilih sumber protein hewani yang mudah dan murah seperti telur, ikan, dan daging unggas seperti ayam. Ikan adalah sumber protein hewani yang bernilai tinggi. Selain protein, ikan dan hewan perairan lainnya kaya akan omega-3. Jadi masih enggan makan ikan dan organisme akuatik lainnya?
Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan protein hewani, akuakultur tropis saat ini memiliki peran yang semakin strategis. Akuakultur tropis adalah pengembangan ilmu, teknologi, dan praktik budidaya organisme akuatik seperti ikan, udang, kerang, hingga rumput laut.
Berada di wilayah beriklim tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun dan sumber daya perairan yang melimpah, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan budidaya perikanan secara berkelanjutan.
Akuakultur tropis bukan sekadar upaya meningkatkan produksi ikan dan hasil perairan, tetapi juga menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang bergizi, terjangkau, dan dapat diakses masyarakat luas. Dengan pengelolaan yang tepat, akuakultur dapat memperkuat ketahanan pangan, mendukung perekonomian masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan bagi generasi mendatang.
Kerjasama Pengembangan Akuakultur Tropis

Dalam rangka mengembangkan kualitas akuakultur tropis, Singapore Food Agency (SFA) dan Japfa Pte. Ltd (JAPFA), perusahaan agrifood terkemuka di Asia, menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU). Tujuannya untuk menjajaki dan mengembangkan kemitraan strategis di bidang riset dan pengembangan (R&D) guna mendorong kemajuan akuakultur tropis.
Melalui kerja sama ini, SFA dan JAPFA akan bersama-sama mengembangkan solusi praktis di bidang kesehatan organisme akuatik (aquatic health) dan digitalisasi untuk menjawab berbagai tantangan di industri akuakultur.
Kemitraan ini akan berfokus pada dua bidang, yaitu meningkatkan ketahanan dan produktivitas budidaya kesehatan organisme akuatik dan pengelolaan penyakit, serta pemanfaatan teknologi digital.
Ruang lingkup kolaboras yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut mencakup pemantauan dan diagnosis penyakit berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pengambilan keputusan dalam budidaya berbasis AI, serta sistem ketertelusuran (traceability).
SFA dan JAPFA juga akan mengeksplorasi peluang untuk menggabungkan kemampuan riset Singapura dengan keahlian komersial, operasional, dan digital JAPFA serta lini bisnis akuakulturnya, PT Suri Tani Pemuka (STP). Dengan pengalaman lebih dari 50 tahun dalam memproduksi protein hewani di berbagai negara di Asia, mulai dari peternakan hingga akuakultur, JAPFA memiliki pemahaman mendalam mengenai praktik budidaya di wilayah tropis.
Kemitraan ini juga membuka peluang bagi lembaga riset, penyedia teknologi, dan mitra industri di Singapura untuk bersama-sama mengembangkan solusi yang memungkinkan deteksi dini penyakit dan risiko lingkungan, sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan kegiatan budidaya.
Damian Chan, Chief Executive Officer SFA, mengungkapkan, “Nilai dari riset dan pengembangan terletak pada kemampuan menerjemahkan inovasi ilmiah menjadi solusi praktis yang dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Dengan memadukan kemampuan riset Singapura dengan keahlian operasional, teknologi, dan skala bisnis JAPFA, kita dapat mempercepat pengembangan dan adopsi solusi praktis di bidang kesehatan organisme akuatik, manajemen penyakit, dan akuakultur digital.”
Direktur sekaligus Chief Operating Officer, Corporate Shared Services Japfa Pte. Ltd., Gabriella Santosa, menyampaikan, “Kemajuan akuakultur akan memberikan hasil terbaik ketika riset berjalan beriringan dengan kegiatan produksi dan didasarkan pada pemahaman yang kuat terhadap kondisi di lapangan. Produksi pangan yang efisien, berkelanjutan, dan berskala besar di kawasan ini memerlukan pendekatan yang adaptif terhadap kondisi lokal serta didukung oleh teknologi terkini. Kami menyambut baik kerja sama dengan SFA dan komunitas riset Singapura untuk mengeksplorasi solusi yang memberikan dampak nyata.
Melalui nota kesepahaman ini, SFA dan JAPFA bertujuan mermpererat hubungan antara dunia riset dan industri, sekaligus mempercepat pengembangan solusi praktis yang dapat diterapkan dan diperluas dalam kegiatan budidaya komersial.
Selain memperkuat kapabilitas Singapura di bidang akuakultur topis, kemitraan ini juga diharapkan menjadi wadah untuk mengembangkan berbagai inovasi yang dapat membantu menjawab tantangan akuakultur di Kawasan dan berkontribusi terhadap sistem pangan regional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.


