Anggapan yang mengatakan bahwa vape relatif aman dibandingkan dengan rokok konvensional adalah hal yang keliru. Bagaimanapun, vape mengandung nikotin yang, dalam bentuk apa pun, tetap berpengaruh buruk pada tubuh, termasuk pada ibu menyusui.
Meski terlihat lebih “ringan”, vape tetap mengandung berbagai zat kimia yang dapat memengaruhi kesehatan ibu menyusui dan bayi. Kandungan nikotin dalam vape juga dapat masuk ke dalam ASI dan berisiko memengaruhi tumbuh kembang bayi.
Dampak vape pada ibu menyusui bisa berupa turunnya produksi ASI, mengganggu proses yang disebut reflek-let-down saat memberikan ASI, dan yang paling bahaya kandungan nikotinnya menyebabkan adikasi. Jangan lupakan juga dampaknya terhadap kesehatan jantung dan paru.
Risiko Vape untuk Bayi
Vape adalah alat elektronik yang bekerja dengan memanaskan cairan tertentu menjadi aerosol atau uap untuk dihirup. Cairan vape biasanya mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, perasa tambahan, dan zat kimia lainnya. Sebagian produk vape mengandung kadar nikotin yang cukup tinggi, bahkan ada yang melebihi rokok biasa.
Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat atau Centers for Disease Control and Prevention (2025) menyebutkan bahwa nikotin dan bahan kimia dari rokok maupun rokok elektronik dapat masuk ke ASI. Paparan ini berisiko menyebabkan gangguan tidur bayi, masalah pernapasan, peningkatan risiko infeksi telinga, serta gangguan fungsi paru pada bayi.
Hal ini semakin dikuatkan oleh hasil penelitian dari European Journal of Nutrition & Food Safety (2025) yang menjelaskan bahwa nikotin dari vape dapat ditemukan dalam ASI dan berpotensi menyebabkan bronkospasme, gangguan tidur, detak jantung cepat, muntah, agitasi, hingga tremor pada bayi yang terpapar.
Nikotin dari vape dapat masuk ke aliran darah ibu dan berpindah ke ASI. Saat bayi menyusu, nikotin tersebut dapat ikut masuk ke tubuh bayi. Nikotin juga dapat bertahan beberapa waktu di dalam tubuh setelah ibu menggunakan vape.
Semakin sering ibu nge-vape, semakin besar kemungkinan paparan nikotin terhadap bayi. Selain nikotin, beberapa zat kimia lain dari vape juga diduga dapat memengaruhi kualitas ASI dan kesehatan bayi.
Selain itu, efek nikotin dari vape pada bayi membuat bayi lebih rewel, mengalami gangguan tidur, memengaruhi perkembangan saraf dan fungsi otak bayi. Bayi juga berisiko mengalami gangguan pernapasan.
Tidak hanya dari ASI, bayi juga terpapar residu zat kimia vape yang menempel pada pakaian, rambut, kulit, sofa atau tempat tidur.
Risiko Vape untuk Ibu Menyusui
Dampak buruk vape bagi ibu menyusui pada akhirnya secara tidak langsung akan berpengaruh pada bayi. Berikut ini beberapa dampak buruk vape pada ibu menyusui yang perlu diketahui:
1. Mengurangi produksi ASI
Bagi ibu menyusui, kandungan nikotin akan menurunkan prolaktin, hormon yang bertanggung jawab untuk merangsang produksi ASI. Jika prolaktin lebih rendah, berarti produksi ASI lebih sedikit. Efek ini terjadi terlepas dari apakah nikotin berasal dari rokok atau vape.
Selain mengurangi produksi ASI, beberapa ibu menyusui yang menggunakan vape juga mengeluhkan ASI terasa lebih sedikit, bayi lebih sering lapar, dan proses pumping menjadi kurang optimal.
2. Mengganggu refleks let-down
Nikotin dapat menghambat refleks pengeluaran ASI sehingga ASI lebih sulit keluar saat menyusui atau memompa.
3. Meningkatkan risiko ketergantungan nikotin
Vape sering dianggap lebih aman sehingga penggunaannya menjadi lebih sering tanpa disadari. Hal ini dapat meningkatkan ketergantungan nikotin pada ibu.
4. Merusak kesehatan jantung dan paru-paru
Meski berbeda dengan rokok biasa, vape tetap dapat memengaruhi kesehatan pernapasan dan pembuluh darah. Paparan ini sering disebut sebagai third-hand exposure.
Tips Berhenti Vape untuk Ibu Menyusui
Mums, tidak mudah memang berhenti dari ketergantungan atau kecanduan vape yang sudah dilakukan dalam waktu lama. Namun, bukan berarti mustahil. Artinya, jika ada tekad yang kuat dan strategi yang tepat, maka ibu menyusui ngevape perlahan bisa berhenti total dari kebiasaan buruk ini.
Beberapa tips berhenti vape untuk ibu menyusui ialah kenali pemicu keinginan nge-vape, alihkan dengan aktivitas lain, dan jauhkan vape dari jangkauan.
Cari dukungan yang besar dari pasangan, keluarga, sahabat, maupun komunitas untuk berhenti ngevape. Sebab dukungan emosional akan sangat dibutuhkan di saat masa transisi yang krusial ini.
Kesimpulan
Mums, itulah bahaya vape bagi bayi maupun kesehatan ibu menyusui. Kunci dalam berhenti ngevape ialah fokus pada manfaat besar yang akan diperoleh ibu dan bayi setelah berhenti vape.
Ingat, vape bukan pilihan yang aman bagi ibu menyusui. Kandungan nikotin dan zat kimia dalam vape dapat masuk ke ASI serta memengaruhi kesehatan bayi, mulai dari gangguan tidur hingga risiko gangguan perkembangan dan pernapasan.
Semakin sedikit paparan nikotin yang diterima bayi, semakin baik untuk tumbuh kembangnya. Karena itu, berhenti vape menjadi langkah terbaik untuk menjaga kesehatan ibu sekaligus memberikan lingkungan yang lebih aman bagi si kecil.
Referensi :
CDC. 2025. Tobacco and Electronic Cigarettes - Breastfeeding special circumstances.
European Journal of Nutrition & Food Safety. 2025. Breastfeeding and Electronic Cigarettes: A Health Perspectives.


