Melihat tubuh mungil bayi baru lahir selalu gagal fokus dengan perutnya yang kelihatan besar dan dominan. Perut bayi besar yang tampak buncit itu, mengusik tanya di kepala, bentuk perut yang menonjol sering membuat orang tua takut ada gangguan pencernaan atau penyakit tertentu.
Kabar baiknya, dalam banyak kasus perut bayi besar sebenarnya merupakan sesuatu yang normal dan biasa saja. Meski demikian, ada juga kondisi tertentu yang perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda gangguan kesehatan pada si Kecil. Jadi, pertanyaannnya bukan soal ini normal atau tidak, melainkan kapan perut bayi dianggap normal, dan kapan harus segera diperiksa dokter?
Kapan perut bayi besar dianggap normal?
Secara medis, belum ada definisi tunggal tentang perut buncit pada bayi. Namun beberapa literatur pediatri mendefinisikannya sebagai sesuatu yang normal karena peningkatan ukuran perut, perubahan lingkar perut, atau posisi dinding perut yang tampak lebih menonjol dibanding dada saat bayi berbaring.
Seperti yang terungkap dari penelitian terbaru Pubmed (2025) menjelaskan bahwa bayi memang secara alami memiliki otot perut yang masih lemah, pola napas “perut”, usus yang masih berkembang, serta sering menelan udara saat menyusu. Akibatnya, perut bayi sering tampak bulat dan menonjol, lebih besar dibanding dada.
Perut besar pada bayi bisa terjadi karena proses perkembangan normal (fisiologis) atau kondisi penyakit tertentu (patologis).
Penyebab normal perut bayi besar
Lebih rinci berikut ini penyebab perut bayi besar dan termasuk dalam kategori normal sehingga tidak perlu dikhawatirkan :
1. Otot perut bayi masih lemah
Mums, bayi baru lahir belum memiliki kekuatan otot perut seperti anak besar atau orang dewasa. Karena dinding perut masih lembek sehingga organ di dalam perut tampak lebih menonjol. Itulah sebabnya perut bayi terlihat buncit. Ini merupakan bagian normal dari perkembangan tubuh bayi.
2. Sistem pencernaan belum matang
Hampir semua sistem organ tubuh bayi masih berkembang menuju matang. Termasuk usus bayi, yang masih berkembang dan belajar beradaptasi. Gerakan usus (motilitas) pada bayi juga belum stabil sehingga gas lebih mudah menumpuk, bayi lebih mudah kembung, dan perutnya tampak lebih besar. Kondisi ini sangat umum, terutama pada bayi baru lahir dan bayi prematur.
3. Bayi banyak menelan udara
Saat menyusu, menangis, mengisap dot, atau minum susu terlalu cepat, saat-saat itulah bayi banyak menelan udara. Sehingga membuat perutnya jadi lebih kembung. Udara di lambung dan ususnya menyebabkan perut tampak penuh, kembung ringan, dan bayi sering sendawa maupun kentut.
4. Setelah menyusu
Perhatikan, setiap kali selesai menyusu, perut bayi pasti membesar. Baik ASI maupun susu formula yang dikonsumsi bayi membuat lambungnya langsung terisi, usus bekerja lebih aktif, udara ikut masuk. Karena itu perut bayi biasanya tampak lebih besar setelah menyusu, lalu mengecil lagi setelah sendawa, BAB, atau kentut.
5. Struktur usus bayi lebih menonjol
Memang struktur usus bayi baru lahir lebih menonjol. Selain itu ukuran ususnya relatif besar dibanding tubuhnya, sementara otot perut belum berkembang sempurna. Akibatnya perut tampak lebih menonjol dibanding proporsi tubuh lainnya.
Namun seiring pertumbuhan, tinggi badannya akan bertambah, otot menguat, proporsi tubuh menjadi lebih seimbang sehingga perut tampak lebih normal.
Ini tanda bahaya perut bayi besar
Walaupun perut bayi besar umumnya bersifat normal namun ada beberapa kondisi yang tidak bisa dipungkiri menjadi alarm bahaya perut bayi besar tidak normal.
Berikut ini beberapa gejala yang muncul di balik perut bayi besar yang tidak normal :
Perut keras dan tegang
Membesar cepat
Muntah hijau atau kuning
Tidak BAB atau tidak kentut
BAB berdarah
Bayi sangat rewel atau kesakitan
Demam, lemas
Tidak mau menyusu
Berat badan sulit naik
Kulit perut tampak mengilap atau berubah warna
Penyakit pemicu perut bayi membesar
Ada beberapa penyakit yang dapat menyebabkan perut bayi membesar, di antaranya :
1. Kembung dan gangguan pencernaan
Ini kondisi paling sering terjadi dan umumnya bersifat ringan. Gangguan pencernaan pada bayi biasanya ditandai dengan gejala banyak gas, rewel, muntah ringan, perut penuh.
2. Konstipasi
Susah BAB atau konstipasi pada bayi membuat tinjanya keras dan tertahan. Hal ini dapat menyebabkan perut kembung, bayi susah payah mengejan, perut terasa lebih keras. Kondisi ini umumnya sering terjadi pada bayi yang diberikan susu formula.
3. Alergi atau intoleransi susu
Beberapa bayi sensitif terhadap protein susu sapi maupun komponen tertentu dalam ASI atau formula. Intoleransi laktosa, begitu biasanya disebut. Gejalanya meliputi kembung, lendir pada BAB, kolik, ruam, dan diare.
4. Penyakit Hirschsprung
Gangguan usus bawaan yang menyebabkan bayi sulit BAB. Ditandai dengan gejala khas seperti perut membesar, tidak BAB sejak lahir, muntah, kembung berat.
5. Sumbatan usus
Ini merupakan kondisi serius yang dapat memicu muntah hijau, perut sangat besar, tidak BAB, dan bayi kesakitan.
6. Infeksi atau sepsis
Pada beberapa kasus, perut membesar disertai demam, napas cepat, bayi lemas, perubahan suhu tubuh. Ini perlu penanganan segera.
Mums, itulah tanda perut bayi besar yang normal dan tidak normal. Kenali kondisinya agar tidak mengundang kepanikan yang tidak perlu. Atau dalam kondisi yang tidak normal, bisa segera mencari pertolongan medis, sehingga cepat teratasi.
Referensi :
PubMed. 2025. Science of the burp: understanding aerophagia and eructation in newborns.


