Postpartum anxiety adalah kecemasan berlebihan setelah melahirkan yang berlangsung terus-menerus, sulit dikendalikan, dan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kondisi ini dapat dipicu oleh perubahan hormon, kurang tidur, stres, riwayat kecemasan atau depresi, serta kurangnya support system.
Gejalanya bisa berupa jantung berdebar, sulit tidur, gelisah, sulit fokus, serangan panik, hingga terus-menerus mengecek kondisi bayi.
Penanganannya dapat berupa dukungan keluarga, perubahan gaya hidup, konseling atau CBT, hingga obat-obatan sesuai kondisi, dan bantuan profesional perlu dicari jika gejalanya memburuk atau mengganggu perawatan bayi.
Mengenal Gangguan Kecemasan Pacapersalinan
Kekhawatiran para ibu setelah melahirkan biasanya terjadi karena takut sesuatu yang bakal terjadi pada bayinya. Misalnya, khawatir bayi tidur terlalu lama sehingga kehausan dan tidak menyusu. Atau bayi bersin sedikit, muncul pikiran: jangan-jangan bayi sedang sakit?
Sesekali khawatir masih dalam batas wajar apalagi untuk ibu yang baru pertama kali punya anak. Namun jika kekhawatiran ini berlebihan dan terus menerus, jangan dianggap sepele. Bisa jadi sudah masuk dalam kategori gangguan kecemasan pascapersalinan.
Beberapa tanda gangguan kecemasan pascapersalinan ialah timbul kecemasan berlebihan terhadap bayi yang baru dilahirkan, berlangsung terus-menerus, berlebihan, sulit dikendalikan, dan bikin Mums overthingking membayangkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi.
Bahkan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, mengabaikan kebutuhan makan dan istirahat, maka kondisi ini jelas sudah tidak wajar. Hal inilah yang disebut dengan gangguan kecemasan pascapersalinan atau Postpartum Anxiety.
Kondisi ini jelas sangat mengkhawatirkan, apalagi ia sedang dalam masa pemulihan setelah melahirkan dan butuh istirahat yang cukup untuk dapat menyusui dan merawat bayi yang baru dilahirkan. Situasi ini jelas merupakan masalah kesehatan mental yang mesti segera ditangani.
Review terbaru dari The Lancet Psychiatry (2025) menyebutkan bahwa secara global sekitar 12,3% ibu mengalami postpartum anxiety. Penelitian juga menemukan bahwa gangguan kecemasan pascapersalinan berkaitan dengan beberapa faktor, termasuk usia ibu yang lebih muda dan kehamilan pertama.
Review tersebut menekankan bahwa postpartum anxiety masih relatif kurang diteliti dibandingkan depresi postpartum. Padahal gangguan kecemasan pascamelahirkan cukup banyak terjadi dan perlu mendapat perhatian klinis.
Penyebab dan Faktor Risiko Gangguan Kecemasan
Walaupun hingga saat ini belum dapat diketahui secara pasti penyebab gangguan kecemasan pascapersalinan, namun para ahli berpendapat ada sejumlah faktor yang ikut andil memicu terjadinya gangguan kecemasan pascamelahirkan ini.
Seperti yang disebutkan dalam systematic review pada Journal of Affective Disorders (2025) menemukan tujuh kelompok faktor yang berkaitan dengan postpartum anxiety, di antaranya riwayat psikopatologi dan karakter kepribadian; faktor sosial; sosiodemografi; kondisi kesehatan; faktor kognitif; kehamilan dan persalinan; dan karakteristik bayi serta pengalaman setelah melahirkan.
Artinya, postpartum anxiety tidak dapat dijelaskan hanya oleh perubahan hormon. Faktor psikologis, hubungan sosial, pengalaman persalinan, dan kondisi setelah bayi lahir juga berperan.
Lebih detailnya, berikut ini beberapa faktor risiko gangguan kecemasan pascapersalinan:
1. Perubahan hormon
Setelah melahirkan, hormon kehamilan menurun tajam yang menyebabkan perubahan suasan hati dan juga mempersulit pengelolaan stres yang dialami oleh ibu melahirkan.
2. Kurang tidur
Merawat bayi baru lahir merupakan pekerjaan 24 jam. Sehingga kurang tidur tak terhindarkan. Di sinilah ibu melahirkan rentan mengalami masalah kesehatan fisik maupun mental.
3. Beban tanggung jawab
Tanggung jawab yang tidak mudah dan tidak ringan dengan hadirnya seorang bayi, membuat sebagian ibu diliputi perasaan harus melindungi dan merawat bayi semaksimal mungkin.
4. Peristiwa pemicu stres
Peristiwa atau problem besar yang muncul membuat stres juga menjadi penyebab seorang ibu mengalami gangguan kecemasan pascamelahirkan. Termasuk pengalaman traumatis masa lalu.
Sementara itu sejumlah faktor risiko terjadinya gangguan kecemasan pascapersalinan, meliputi :
Riwayat depresi atau kecemasan pribadi maupun keluarga
Keguguran atau kehilangan anak sebelumnya
Memiliki bayi atau anak dengan masalah kesehatan
Riwayat gangguan makan
Merawat banyak anak
Tipe kepribadian, misalnya orang yang mudah cemas atau panik
Tidak memiliki support system yang kuat
Gejala Gangguan Kecemasan Pascapersalinan
Mums, secara umum kecemasan itu sendiri merupakan respons alami tubuh akan bahaya atau ancaman yang mungkin terjadi. Dalam hal ini, kecemasan bisa berkaitan dengan bayi, kondisi ibu, proses menyusui, atau apa pun segala bentuk ketakutan terhadap sesuatu yang buruk yang menurutnya akan terjadi.
Tanda-tanda gangguan kecemasan pascapersalinan dapat bersifat fisik, emosional, maupun perilaku. Biasanya gejala-gejala ini mengganggu kemampuan dan fungsi sehari-hari. Berikut ini manifestasi dari tiga bentuk gejala dari gangguan kecemasan pascapersalinan yang umumnya dialami:
1. Gejala Fisik
Berikut ini gejala fisik yang ditimbulkan dari gangguan kecemasan pascapersalinan:
Sesak napas atau merasa kesulitan bernapas
Mengalami gangguan tidur
Merasa tegang
Denyut jantung meningkat atau jantung berdebar-debar
Kehilangan nafsu makan
Mual atau sakit perut
Tidak bisa duduk diam
2. Gejala Emosional
Sementara itu, gejala emosional dari gangguan kecemasan pascapersalinan meliputi:
Kesulitan fokus atau gangguan konsentrasi
Merasa gelisah
Tidak mampu rileks atau tenang
Iritabilitas
Terobsesi dengan ketakutan yang tidak rasional
Memikirkan skenario terburuk
Serangan panik
Cemas berlebihan
3. Gejala Perilaku
Selain gejala fisik dan emosional, gangguan kecemasan pascapersalinan juga muncul dalam bentuk gejala perilaku, seperti :
Menghindari aktivitas, orang, atau tempat tertentu
Terlalu berhati-hati terhadap situasi yang bahkan tidak berbahaya
Memeriksa berbagai hal secara berulang-ulang. Misal : memastikan tidak ada benda-benda yang berbahaya di sekitar bayi.
Memastikan bayi tetap bernapas dengan mengecek dada, atau denyut nadinya.
Sulit tidur karena membayangkan bayi berhenti bernapas.
Takut meninggalkan bayi walaupun bersama orang yang dipercaya.
Menghindari tempat tertentu karena takut sesuatu terjadi.
Mengalami serangan panik, muncul pikiran tentang bayi terluka
Kapan Harus ke mencari pertolongang ke psikiater atau psikolog?
Jika mendapati salah satu atau lebih dari gejala yang disebut tadi, baik gejala fisik, gejala perilaku, maupun gejala emosional, maka jangan tunda untuk segera mencari pertolongan. Bawa ke dokter atau konsultasi psikolog motherhood guna mendapatkan terapi yang tepat.
Mums perlu berkonsultasi dengan ahlinya, terutama jika gangguan kecemassan tersebut:
Berlangsung terus menerus, terjadi hampir setiap hari.
Kondisi semakin memburuk dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Tidur terganggu walaupun ada kesempatan untuk tidur.
Mengalami serangan panik.
Mengganggu perawatan bayi baru lahir.
Membuat ibu terus mengindari aktivitas tertentu atau merasa tidak mampu menjadi ibu.
Merasa tidak memiliki ikatan dengan bayi
Mengalami tanda-tanda depressi, seperti sedih berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai.
Jika muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri juga menyakiti bayi.
Kebingungan berat, halusinasi, atau kehilangan kontak dengna kenyataan.
Cara Mengatasi Gangguan Kecemasan Pascapersalinan
Ketika seorang ibu mengalami gangguan kecemasan pascapersalinan, maka jangan tunda untuk segera dibawa ke dokter atau psikolog agar mendapatkan terapi yang tepat. Untuk mengatasi gangguan kecemasan pascapersalinan ini, para ahli sudah merekomendasikan tatalaksana sesuai dengan gejala, riwayat kesehatan, termasuk apakah menyusui atau tidak.
Pada kasus yang relatif ringan, perubahan aktivitas sehari-hari atau berbicara dengan konselor, umumnya cukup membantu mengurangi gejalanya. Namun, jika gangguan kecemasan pascapersalinan ini sudah mengganggu kehidupan atau kondisinya semakin memburuk, maka perlu diberikan obat-obatan yang tepat.
Berikut ini beberapa cara untuk mengatasi gangguan kecemasan pascamelahirkan sesuai dengan kondisi atau derajatnya :
1. Tanpa obat-obatan
Membentuk support system yang berfungsi memberikan dukungan bagi orang tua yang baru melahirkan ini, baik secara online maupun offline yang menjadi tempat berbagi perasaan dengan orang-orang dalam situasi serupa.
Meminta bantuan keluarga, teman, atau asisten rumah tangga untuk membantu mengerjakan pekerjaan domestik dan menjaga bayi sehingga dapat mengurangi beban pikiran yang bersangkutan.
Berusaha untuk tetap aktif, misalnya berjalan kaki pagi hari atau olahraga rutin setiap hari.
Merawat diri sendiri dengan mengonsumsi makanan sehat dan tidur sebanyak mungkin.
Meminta bantuan jika memang sudah kewalahan dalam mengurus bayi maupun pekerjaan rumah lainnya. Menjadi orang tua merupakan tugas yang berat. Jadi jangan ragu meminta bantuan pada orang terdekat.
2. Terapi Perilaku Kognitif atau Cognitive Behavior Therapy (CBT)
Dalam terapi CBT ini, dokter atau psikolog akan membantu mengenali emosi dan mengubah pola pikir pasien. Metode ini membantu pasien meninggalkan pola pikir dan perilaku negatif dan mulai menerapkan pola pikir dan perilaku yang lebih sehat.
Melalui sesi konsultasi yang intensif, tanya jawab mendalam, terapi, atau konseling, pasien akan belajar merespons stres dan kecemasan dengan lebih baik. Terapi dan pendampingan ini sangat efektif dalam mengatasi gangguan kecemasan pascapersalinan.
3. Terapi dengan obat-obatan
Jika membutuhkan terapi obat, maka dokter akan memilih jenis obat yang paling efektif dan umum digunakan sesuai standar medis. Dalam hal ini, biasanya akan dipilih jenis SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) yang merupakan jenis obat untuk mengatasi kecemasan serta depresi pascamelahirkan.
Obat-obatan lain jika diperlukan seperti antidepresan, dopamine juga dapat diberikan untuk mengatasi gangguan kecemasan.
Selain itu, pada kondisi tertentu, terapi kombinasi antara CBT dan obat-obatan akan lebih efektif bila dibandingkan hanya menjalani satu terapi atau pengobatan saja.
Cara Mencegah Gangguan Kecemasan Pascapersalinan
Sayangnya, tidak semua kasus gangguan kecemasan pascapersalinan dapat dicegah. Namun, perlu diingat bahwa kondisi ini sebenarnya bukanlah semata kesalahan atau kelemahan seorang ibu yang baru saja melahirkan.
Kendati demikian, ada beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko atau mendeteksi masalah ini lebih awal, sebelum derajatnya terlalu berat.
Berikut ini beberapa langkah pencegahan gangguan kecemasan pascapersalinan :
Sebelum melahirkan, pastikan bahwa jika Mums memiliki riwayat kecemasan, depresi, atau pengalaman traumatis, bicarakan dengan dokter kandungan sejak masa kehamilan.
Konseling dan pelajari strategi coping sebelum bayi lahir. Hal ini dapat membantu ibu lebih siap menghadapi perubahan setelah persalinan.
Setelah melahirkan, bangun support system dengan pasangan dan keluarga. Jangan ragu meminta bantuan, prioritaskan tidur dan istirahat.
Tetap lakukan aktivitas yang menyenangkan
Jangan memendam kecemasan, ceritakan tekanan atau beban yang dihadapi.
Perhatikan perubahan kondisi mental, segera cari bantuan jika gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Mums, langkah pencegahan tidak hanya dapat dilakukan oleh ibu yang bersangkutan. Namun, pasangan dan keluarga pun dapat berperan lebih aktif dalam mencegah risiko terjadinya gangguan kecemasan pascapersalinan.
Untuk pasangan dan keluarga, dukungan bukan sekadar “membantu ibu supaya tidak capek”. Dukungan sosial merupakan salah satu faktor penting yang dapat dimodifikasi dalam kesehatan mental ibu. Dalam hal ini, bantuan paling berarti bukan nasihat panjang, tetapi membuat ibu melahirkan merasa tidak sendirian.
Jika melihat ibu melahirkan terindikasi mengalami kecemasan, ini yang harus dilakukan oleh pasangan maupun keluarga, cobalah untuk:
Dengarkan tanpa menghakimi
Jangan mengatakan “kamu terlalu overthinking”
Bantu pekerjaan rumah
Tawarkan diri menjaga bayi agar ibu bisa beristirahat
Dampingi ketika ingin berkonsultasi
Tanyakan, “Aku bisa bantu apa?”
Kesimpulan
Mums, gangguan kecemasan pascapersalinan bukan sekadar rasa khawatir biasa setelah bayi lahir. Melainkan sebuah kecemasan yang jauh lebih kompleks dan lebih berbahaya dari yang dibayangkan.
Bukan kesalahan atau tanda seorang ibu lemah, tetapi kondisi yang di luar kendali dirinya membuatnya jatuh pada rasa cemas dan khawatir berlebihan yang di luar nalar.
Penyebabnya tidak sederhana, ada kombinasi berbagai faktor yang ikut andil memperburuk keadaan. Kabar baiknya, gangguan kecemasan pascapersalinan ini dapat diatasi dengan berbagai pilihan terapi sesuai penyebab, kondisi, dan derajat gangguan itu sendiri.
Namun, satu hal yang pasti, dukungan pasangan, keluarga, teman, dan orang terdekat lainnya akan sangat menentukan keberhasilan terapi yang dijalani.
Memang gangguan kecemasan pascapersalinan ini tidak sepenuhnya dapat dicegah, namun dengan kepekaan dan kepedulian orang-orang terdekat, rasanya sangat memungkinkan untuk dicegah maupun terdeteksi sejak dini sehingga segera mendapatkan pertolongan yang tepat.
Jadi, jangan normalisasi kelelahan dan kekahwatiran setelah melahirkan, pastikan itu bukan gangguan kecemasan pascapersalinan. Jangan ragu untuk mencari bantuan jika diri sudah kewalahan.
Meminta bantuan bukan berarti merepotkan atau gagal menjadi seorang ibu, melainkan hak untuk mendapatkan kondisi kesehatan fisik dan mental yang tetap dalam kondisi baik agar dapat melewati masa pemulihan dan merawat bayi yang baru dilahirkan.
Referensi :
1. The Lancet Psychiatry. 2025. Postpartum anxiety: a state-of-the-art review.
2. Journal of Affective Disorders. 2025. Risk factors associated with postpartum anxiety in Australia, Europe, and North America: A systematic review and narrative synthesis.


