Sering kali kesabaran orang tua habis lantaran ulah anak yang menurutnya sudah keterlaluan. Walhasil membentak anak jadi salah satu cara orang tua memberi peringatan bahkan mendisiplinkan anak.
Membentak atau berkata keras ke anak di satu sisi mendisiplinkan walaupun dengan meluapkan emosi, sementara di sisi lain bentakan mungkin menyakiti bahkan membuat anak trauma.
Kalau Mums lepas kendali dan menyesalinya, lakukan tindakan seperti tenangkan diri, datengi anak dan minta maaf dengan tulus, berikan pelukan, namun tetap konsisten dengan paraturan.
Mengapa Orang Tua Sering Kelepasan Membentak Anak?
Mums, coba ingat, kapan terakhir membentak anak? Kenapa bentakan harus dilontarkan? Pertanyaan ini tidak hanya membutuhkan jawaban, melainkan juga memaksa orang tua untuk mengingat kembali kejadian tidak menyenangkan tersebut.
Bagi sebagian orang tua membentak anak jadi rutinitas yang dilakukan karena berbagai alasan. Intonasi yang meninggi, kata dan kalimat yang penuh ketegasan bahkan emosi, sering keluar ketika orang tua sedang lelah, stres maupun kehilangan kesabaran.
Di satu sisi, anak melakukan kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan. Atau melanggar peraturan yang disepakati, maupun tidak mengindahkan ucapan orang tua.
Jadilah bentakan keluar untuk mengingatkan anak secara keras, bahwa dirinya bersalah dan membuatnya jera. Namun pada sebagian lain, membentak anak dianggap sebagai sebuah kesalahan di mana orang tua tidak mampu menahan emosi dan menjaga kesabarannya.
Menjadi orang tua memang bukan berarti harus selalu sabar setiap saat. Namun, ketika sudah terlanjur membentak, jangan berhenti pada rasa bersalah. Ada hal yang jauh lebih penting: memperbaiki hubungan dengan anak dan belajar merespons lebih baik pada situasi berikutnya.
Alasan Membentak Anak Sebaiknya Dihindari
Ada sejumlah alasan mengapa tindakan membentak anak sebaiknya sebisa mungkin dihindari. Di antaranya :
1. Kepatuhan sementara
Harus diakui, membentak anak memang kadang cukup efektif membuat anak berhenti melakukan sesuatu untuk sementara. Namun, berhenti karena takut jelas berbeda dengan berhenti karena paham bahwa tindakannya salah atau keliru.
2. Saat takut, sulit menerima masukan
Saat dibentak keras, anak bisa lebih dulu merasa takut, terancam, malu, bingung, atau sedih. Dalam kondisi takut, anak juga lebih sulit menerima pesan atau pelajaran yang sebenarnya ingin disampaikan orang tua.
3. Berdampak pada masalah perilaku
Jika bentakan menjadi pola yang berulang, dampaknya bisa lebih serius. Disiplin verbal yang keras dikaitkan dengan berbagai masalah perilaku dan kesehatan mental pada anak dan remaja. Peneliti Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (2024) menemukan bahwa berkurangnya penggunaan disiplin verbal keras merupakan salah satu perubahan pengasuhan yang paling kuat dalam menjelaskan keberhasilan program parenting terhadap masalah perilaku anak.
Artinya mengurangi bentakan bukan hanya membuat suasana rumah lebih nyaman, tetapi merupakan salah satu target penting dalam intervensi parenting untuk mengurangi perilaku bermasalah anak.
4. Anak meniru
Anak yang sering dibentak akan menganggap bahwakonflik bisa diselesaikan dengan suara keras. Ia menerima bentakan sebagai salah satu cara menyelesaikan masalah. Akibatnya, anak bisa ikut berteriak, menjadi defensif, atau justru menjauh dari orang tua.
Lakukan ini Setelah Membentak Anak
Jika kesabaran seolah habis dan terpaksa harus membentak anak, lakukan beberapa langkah berikut ini setelah episode membentak anak mereda atau ketika situasi sudah memungkinkan :
1. Tenangkan diri terlebih dahulu
Langkah pertama adalah tenangkan diri terlebih dahulu, jangan buru-buru melanjutkan percakapan ketika emosi masih tinggi. Tarik napas dalam-dalam, minum air, atau menjauh sebentar jika anak berada dalam kondisi aman. Beri diri sendiri waktu beberapa menit untuk menurunkan emosi.
Tujuannya bukan menghindari anak, tetapi memastikan Mums kembali dalam kondisi cukup tenang untuk berbicara tanpa perlu meledak-ledak. Bisa juga menggunakan cara sederhana seperti menghitung sampai 10, berjalan sebentar, melakukan peregangan, atau berbicara sesedikit mungkin sampai emosi mereda.
2. Datangi anak dan akui kesalahan
Setelah lebih tenang, jangan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Sebagai orang dewasa, tunjukkan kedewasaan itu dengan datangi anak dan akui bahwa cara Mums berbicara tadi tidak tepat. Jangan ragu akui kesalahan dan mintalah maaf atas bentakan tadi. meminta maaf tidak serta merta menurunkan wibawa. Justru membuat anak belajar bahwa orang dewasa pun bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
3. Validasi perasaan anak
Setelah dibentak, anak mungkin menangis, diam, marah, atau bahkan tidak mau berbicara.
Tidak perlu buru-buru mengatakan, “Sudah, jangan nangis.” Coba beri ruang untuk emosinya, dan validasi perasaan anak. Validasi bukan berarti membenarkan perilaku anak. Validasi berarti mengakui bahwa perasaan anak memang ada dan layak didengarkan.
4. Tetap pertahankan aturan
Meminta maaf bukan berarti semua aturan menjadi hilang. Misalnya, anak memukul adiknya dan orang tua terlanjur membentak. Setelah suasana tenang, orang tua bisa meminta maaf karena sudah berteriak juga menegaskan bahwa tidak boleh memukul. Dengan begitu, anak belajar dua hal sekaligus: orang tua bisa memperbaiki kesalahan, dan aturan perilaku tetap berlaku.
5. Berikan pelukan jika anak menginginkannya
Tidak semua anak langsung ingin dipeluk atau disentuh setelah dimarahi. Jadi, jangan dipaksa. Cukup katakan: “Kalau kamu sudah siap, Mama ada di sini.” Kalimat sederhana ini memberi pesan bahwa anak tetap aman dan dicintai meski sedang mengalami emosi yang tidak nyaman.
6. Perbaiki dengan perilaku, bukan hanya kata-kata
Permintaan maaf akan terasa lebih bermakna jika diikuti perubahan. Misalnya, biasanya ketika anak menumpahkan sesuatu Anda langsung berteriak: “Aduh! Kamu tuh gimana sih!” Coba ubah menjadi: “Tumpah ya. Yuk, kita bersihkan bersama.”
Dalam hal ini anak tetap belajar bertanggung jawab atas kesalahannya, tetapi tanpa harus dipermalukan. Disiplin positif dapat dilakukan dengan menetapkan batas yang jelas, mengarahkan perilaku, memberikan konsekuensi yang sesuai, dan memperkuat perilaku baik.
Mums, itulah beberapa langkah yang dapat dilakukan ketika orang tua membentak anak. Apa pun alasannya dan pemicunya, membentak anak memang sebaiknya dihindari karena mendidik dan memberikan pemahaman pada anak, dapat dilakukan dengan lemah lembut dan ketenangan.
Referensi :
Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. 2025. Individual Participant Data Meta-Analysis: Individual Differences in Mediators of Parenting Program Effects on Disruptive Behavior.


