Usai ASI eksklusif, bayi mulai mengonsumsi makanan padat lewat MPASI. Tentu saja Si Kecil mulai beradaptasi dengan rutinitas barunya ini. Dan sangat wajar jika di fase MPASI ini bayi mulai mengalami gangguan pencernaan salah satunya bayi susah BAB.
Bukan bermaksud mengabaikan bayi susah BAB, kondisi ini memang terbilang wajar apalagi di masa-masa awal MPASI ketika tubuh atau sistem pencernaannya yang sedang berkembang itu, mulai mengadopsi kebiasaan baru berupa MPASI atau makanan padat.
Tanda Bayi Susah BAB
Mums, ketika perubahan pola makan dimulai dengan makanan padat, kotoran bayi juga akan berubah, sehingga bayi mungkin buang air besar atau kecil dan tinja itu sendiri mungkin berubah menyerupai kotoran orang dewasa.
Terkait hal ini penelitian yang dimuat dalam jurnal PubMed (2023) menyebutkan bahwa setelah MPASI, perubahan pola BAB pada bayi dapat terjadi karena adanya transisi dari pola makan berbasis ASI atau susu formula menuju makanan padat. Namun, bayi yang lebih jarang BAB belum tentu mengalami konstipasi. Konsistensi feses, nyeri saat BAB, kesulitan mengeluarkan feses, serta pola makan bayi perlu diperhatikan.
Sementara itu bayi susah BAB biasanya ditandai dengan kondisi berikut ini :
Anak mengejan kuat-kuat dan tersipu-sipu lebih dari 10 menit saat buang air besar
Tiba-tiba menangis saat mencoba BAB yang keras dan kering
Frekuensi BAB lebih jarang dari biasanya.
Kotoran yang keras, kering, dan berbentuk bulat
Sakit perut akibat kejang usus saat mengalami konstipasi
Terkadang darah di popok karena fisura anus. Hal ini mungkin terjadi akibat feses bayi yang terlalu keras dan kering
Buang air besar dan tinja lebih sedikit dari biasanya
Kehilangan nafsu makan
Kotoran keras atau teraba
Perubahan perilaku, seperti menjadi lebih mudah tersinggung
Penyebab Bayi Susah BAB saat MPASI
Selama 6 bulan pertama kehidupannya, terbiasa dengan ASI atau susu formula. Selama itu pula sistem pencernaannya sudah jauh lebih berkembang dan bersiap menerima MPASI atau makanan padat.
Berikut ini beberapa penyebab bayi susah BAB :
1. Sistem pencernaan sedang beradaptasi
Bayi yang sebelumnya hanya mendapat ASI atau susu formula mulai mengenal makanan padat. Perubahan ini dapat memengaruhi tekstur dan frekuensi BAB. Saat memulai MPASI, sistem pencernaannya butuh waktu untuk beradaptasi dengan cara makan baru ini.
2. Kurang serat
Makanan pertama yang diberikan orang dewasa kepada bayi sering kali berupa makanan rendah serat, seperti nasi bayi atau sereal bayi. Padahal kekurangan serat dalam makanan bisa menyebabkan sembelit. Hal yang sama juga berlaku pada tubuh anak-anak. MPASI yang minim buah dan sayuran dapat membuat feses lebih keras. Pir, prune, alpukat, dan sayuran dapat menjadi pilihan sumber serat sesuai usia dan tekstur yang aman.
3. Kurang cairan
Ketika mulai makan makanan padat, kebutuhan cairan tetap perlu diperhatikan. ASI atau susu formula tetap menjadi sumber utama, sementara air dapat mulai diperkenalkan sekitar usia 6 bulan.
4. Menu terlalu monoton
Pola makan yang terlalu banyak mengandalkan jenis makanan tertentu, terutama yang rendah serat, dapat membuat BAB lebih sulit. Hal ini ditekankan dalam hasil penelitian The American Journal of Clinical Nutrition (2025) bahwa MPASI yang beragam, termasuk berbagai sumber serat dari buah, sayuran, dan pangan nabati yang sesuai usia, mendukung perkembangan mikrobioma usus selama masa penyapihan. Karena itu para ahli sangat menganjurkan agar MPASI tidak monoton dan mulai mengenalkan berbagai sumber pangan nabati yang sesuai usia Si Kecil.
5. Pernah mengalami BAB yang sakit
Feses yang keras dan menyakitkan dapat membuat bayi menahan BAB. Akibatnya, feses semakin keras dan siklus sembelit bisa berulang.
Mums, itulah beberapa penyebab bayi susah BAB ketika memasuki fase MPASI. Karena itu pastikan menu MPASI yang tinggi serat seperti berbagai buah dan sayuran yang dapat disajikan dalam bentuk puree (halus) atau dicincang sebagai makanan pendamping.
Selain itu pastikan bayi tetap terhidrasi. Berikan air putih di sela-sela waktu menyusu atau makan. Saat konstipasi, sebaiknya tidak diberi terlalu banyak bubur beras bayi. Sebab bubur beras bayi diduga dapat memperparah sembelit, jadi batasi pemberiannya sebisa mungkin saat anak sedang mengalami sembelit.
Sembelit adalah kondisi yang sering dialami anak-anak, terutama saat mereka mulai mengonsumsi makanan padat. Oleh karena itu, orang tua perlu mengenali gejalanya dan melakukan penyesuaian nutrisi yang tepat. Jika sembelit berkepanjangan menyebabkan anak kehilangan nafsu makan dan merasa tidak nyaman, anak perlu dibawa ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan dan pengobatan guna mencegah komplikasi berbahaya.
Referensi :
1. PubMed. 2023 — Functional constipation symptoms and complementary feeding methods: A randomized clinical trial.
2. The American Journal of Clinical Nutritions. 2025. Associations between dietery fibers and gut microbiome composition in the EDIA longitudinal infant cohort.


