Tanpa sadar orang tua sering membandingkan anak dengan temannya atau dengan saudara kandungnya. Misalnya, “Coba lihat kakakmu, dia bisa lebih cepat.” “Temanmu saja nilainya bagus, kenapa kamu tidak?” “Adikmu lebih penurut daripada kamu.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana bagi orang tua. Bahkan, terkadang perbandingan dilakukan dengan niat memotivasi anak agar menjadi lebih baik. Namun, bagi anak, sering dibandingkan dapat memberikan pesan yang berbeda: “Aku tidak cukup baik.”
Anak membangun gambaran tentang dirinya melalui berbagai pengalaman, termasuk bagaimana orang-orang terdekat memberikan respons terhadap dirinya.
Dampak jangka panjangnya tidak selalu berhenti pada rasa tidak percaya diri. Jika orang tua sering menunjukkan bahwa salah satu anak lebih pintar, lebih rajin, atau lebih mudah diatur, anak dapat merasa orang tua lebih menyayangi saudaranya.
Persepsi Anak yang Kerap Dibanding-bandingkan
Penelitian di Journal of Research on Adolescence (2026) menyatakan bahwa perbandingan sosial sebenarnya tidak selalu negatif karena dapat memiliki fungsi adaptif, seperti menumbuhkan motivasi dan mendukung pembelajaran. Namun, harus diingat bahwa perbandingan yang bersifat kritis dan mengkritik tajam justru akan merugikan.
Anak membangun gambaran tentang dirinya melalui berbagai pengalaman, termasuk bagaimana orang-orang terdekat memberikan respons terhadap dirinya. Ketika orang tua berulang kali membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain, anak dapat mulai menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Child Psychology pada 2024 menemukan bahwa perbandingan sosial yang dilakukan orang tua berkaitan dengan self-concept anak.
Dari perspektif anak, parental social comparison berhubungan negatif dengan mastery motivation melalui konsep diri. Artinya, perbandingan yang dirasakan anak dapat memengaruhi bagaimana ia memandang dirinya dan dorongannya untuk belajar atau menguasai sesuatu.
Dampak Jangka Panjang Perbandingan Soaial
Sebelum terlanjur, Mums sebaiknya menghindari hal-hal berikut sehingga tidak pernah membanding-bandingkan anak dengan anak lain, bahkan dengan saudara kandung sekalipun:
1. Bisa membentuk identitas
Ketika perbandingan terjadi terus-menerus, anak mungkin tidak lagi melihatnya sebagai komentar tentang satu perilaku tertentu, tetapi sebagai penilaian terhadap dirinya secara keseluruhan.
Misalnya, daripada berpikir, “Aku belum bisa matematika,” anak dapat mulai berpikir, “Aku memang tidak sepintar kakakku.”
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya bisa besar. Anak bukan hanya melihat ada sesuatu yang perlu diperbaiki, tetapi mulai memberi label pada dirinya sendiri.
2. Bisa memicu iri dan konflik antarsaudara
Perbandingan tidak selalu berhenti pada rasa tidak percaya diri. Jika orang tua sering menunjukkan bahwa salah satu anak lebih pintar, lebih rajin, atau lebih mudah diatur, anak dapat merasa orang tua lebih menyayangi saudaranya.
Cara memotivasi tanpa membandingkan
Bukan berarti orang tua tidak boleh memberikan contoh atau membicarakan keberhasilan anak lain. Yang perlu diperhatikan adalah cara dan pesan di balik perbandingan tersebut.
Daripada mengatakan: “Lihat kakak, dia bisa dapat nilai bagus. Kamu kapan bisa seperti itu?” Coba ubah menjadi: “Bagian mana yang menurut kamu masih sulit? Yuk, kita cari cara supaya kamu lebih paham.”
Daripada: “Temanmu saja berani tampil di depan kelas.” Bisa menjadi: “Kamu kelihatan masih gugup. Mau latihan dulu bersama Mama?”
Dengan begitu, fokus berpindah dari “siapa yang lebih baik” menjadi “apa yang bisa aku kembangkan?”
Anak tidak perlu menjadi seperti orang lain
Setiap anak memiliki kemampuan, kecepatan belajar, karakter, dan tantangannya masing-masing. Tugas orang tua bukan membuat anak memenangkan perbandingan dengan anak lain, tetapi membantu anak mengenali potensinya sendiri.
Kecenderungan membandingkan ini bisa jadi sudah muncul sejak anak masih kecil, ketika orang tua mulai memperhatikan pencapaian anak lain, mulai dari kemampuan berbicara, berjalan, membaca, hingga prestasi akademik.
Tanpa disadari, orang tua mungkin menjadikan perkembangan anak lain sebagai tolok ukur untuk menilai kemampuan si Kecil. Padahal, setiap anak memiliki tahapan tumbuh kembang dan proses belajar yang berbeda. Perbandingan yang terus-menerus justru dapat membuat orang tua luput melihat kemajuan kecil yang sebenarnya sudah dicapai anak.
Alih-alih berfokus pada pencapaian anak lain, orang tua perlu belajar memahami kebutuhan, minat, dan potensi unik si Kecil. Berikan apresiasi atas usaha yang ia lakukan, bukan hanya hasil akhirnya.
Ketika anak merasa diterima dan dihargai tanpa harus menjadi seperti orang lain, ia akan lebih percaya diri untuk mencoba hal baru, belajar dari kesalahan, dan mengembangkan kemampuannya. Dengan begitu, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu menghargai dirinya sendiri tanpa merasa harus selalu lebih unggul dari orang lain.
Referensi:
1. Journal of Research on Adolescence. (2026). Types of parental social comparison and links with adolescent psychological outcomes.
2. Journal of Experimental Child Psychology. 2024. Comparing upward: How parental social comparisons shape children's self-concept and mastery motivation in China.


