Silent treatment adalah mendiamkan pasangan sebagai bentuk hukuman, menunjukkan kemarahan, atau membuat pasangan merasa bersalah.
Tandanya adalah mengabaikan pasangan tanpa penjelasan, termasuk tidak merespons saat diajak bicara.
Silent treatment dapat memicu konflik berkepanjangan, merusak kepercayaan, dan membuat hubungan terasa tidak aman secara emosional.
Kadangkala pasangan juga diam namun bukan silent treatment melainkan upaya menenangkan diri, mengelola emosi, dan menghindari perkataan atau tindakan yang menyakiti pasangan.
Perbedaan Silent Treatment dan Butuh Waktu Sendiri
Tidak ada hubungan yang bebas konflik. Sekecil apa pun, konflik dan pertentangan selalu ada. Bukan soal besar kecilnya konflik, melainkan bagaimana menyiasati dan menyikapinya. Dalam hal ini ada dua pendekatan yang biasanya dilakukan oleh mereka yang sedang berkonflik, yaitu silent treatment atau butuh waktu untuk sendiri.
Keduanya sama-sama rasional dan sama-sama “diam”, namun bila dijabarkan lebih lanjut, keduanya punya alasan dan bentuk yang berbeda. Diam sendiri dapat memiliki arti yang jauh berbeda dari silent treatment. Ada diam karena seseorang sedang kewalahan dan butuh waktu untuk menenangkan diri. Seolah saking beratnya, sampai-sampai tak sanggup harus berkata apa lagi.
Namun ada pula diam yang disengaja, karena untuk menghukum, membuat pasangan merasa bersalah, atau untuk mengendalikan situasi dan mengelola emosi agar lebih stabil dan mereda. Inilah yang disebut dengan silent treatment.
Menurut berbagai literatur, silent treatment adalah pola ketika seseorang sengaja menarik komunikasi atau mengabaikan orang lain sehingga pasangan merasa ditolak, dihukum, bingung, atau tertekan.
Misalnya, setelah bertengkar seseorang sengaja tidak menjawab pesan, menolak berbicara, bersikap dingin, tetapi tidak memberi tahu apa yang sedang terjadi atau kapan ia siap kembali berkomunikasi.
Masalahnya bukan semata-mata karena seseorang diam.
Sementara itu, butuh waktu sendiri adalah ketika seseorang dengan secara sadar mengambil jeda untuk mengatur emosinya sebelum kembali membicarakan sebuah masalah. Dalam hal ini ada komunikasi, ada alasan, dan ada niat untuk kembali membicarakan masalah.
Jadi, mengambil jeda bukan berarti menghindari konflik. Justru, bagi sebagian orang, jeda dapat membantu mencegah percakapan berubah menjadi pertengkaran yang semakin panas.
Hal ini sesuai dengan systematic review yang terbit di Frontiers in Psychology (2026) yang menemukan bahwa silent treatment berkaitan dengan penghindaran komunikasi, regulasi emosi, konteks hubungan, dan pada sebagian kasus dapat digunakan sebagai strategi manipulatif. Pada penerima maupun pelaku, penggunaan yang bermasalah dikaitkan dengan distress emosional dan kepuasan hubungan yang lebih rendah.
Jadi, dalam hal ini yang membedakan silent treatment dengan “aku butuh waktu sendiri” bukan sekadar lamanya diam, tetapi fungsi dari diam tersebut dalam hubungan.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini point-point yang mendeskripsikan bedanya silent treatment dengan butuh waktu sendiri, di antaranya :
Silent treatment:
Tidak memberi penjelasan dan sengaja mengabaikan
Tujuannya dapat berupa menghukum, mengontrol, atau menghindari secara destruktif
Membiarkan pasangan dalam ketidakpastian, menebak-nebak
Masalah terus digantung atau digunakan sebagai hukuman
Dapat membuat pasangan merasa ditolak atau tidak berharga
Diam menjadi pola konflik, tidak jelas kapan komunikasi dilanjutkan
Konflik dibiarkan tanpa penyelesaian
Butuh waktu sendiri :
Memberi tahu bahwa sedang membutuhkan jeda
Memberikan penjelasan
“Aku sedang terlalu emosi”
Tujuannya untuk menenangkan diri
Mengomunikasikan kebutuhan untuk jeda
Ada kemungkinan atau niat kembali membahas masalah
Tetap menghargai pasangan meski mengambil jarak sementara waktu
Jeda digunakan untuk kembali ke percakapan
Masalah kembali dibicarakan setelah lebih tenang
Menjadi cara mengatur atau mengelola emosi dengan lebih sehat
Mana yang Lebih Baik?
Dari penjelasan di atas, jelas yang lebih baik dari dua pilihan : silent treatment atau butuh waktu sendiri, adalah pilihan kedua. Sebab butuh waktu sendiri bukan sekadar jeda biasa. Sementara silent treatmen memang berbeda dari sekadar butuh jeda atau butuh waktu sendiri.
Butuh waktu sendiri merupakan sikap yang diambil secara sadar dan sengaja, tanpa mengabaikan keberadaan pasangan dan menafikan konflik itu sendiri. Melainkan memberi ruang pada diri sendiri untuk mengelola emosi, mengendalikan diri, dan akan kembali terhubung untuk menyelesaikan konflik dengan kondisi diri yang jauh lebih baik.
Mums, butuh waktu sendiri bukan berarti menghilang. Melainkan jeda yang sehat, karena biasanya konflik yang ada akan dikomunikasikan dan diarahkan untuk kembali dibicarakan dan dicari solusi bersama. Membicarakan masalah untuk diselesaikan, jelas lebih penting daripada menghindarinya.
Sebaliknya, silet treatment melibatkan penghindaran komunikasi yang dapat menjadi bentuk hukuman, kontrol, atau pengucilan, terutama ketika dilakukan sengaja dan berulang.
Pada akhirnya mengambil waktu sendiri dapat menjadi bagian dari regulasi konflik yang sehat dengan pasangan. Sedangkan silent treatment yang disengaja, berulang, dan digunakan untuk menghukum atau mengontrol pasangan, berkaitan dengan dampak relasional yang lebih buruk. Sehingga bukannya menyelesaikan konflik, melainkan menumpuknya tanpa kesudahan. Dan ini adalah bom waktu bagi sebuah hubungan.
Referensi :
Frontiers in Psychology. 2026. Antecedents and consequences of silent treatment in close adult relationships: a systematic review.


