Bayi di bawah usia 1 tahun, apalagi bayi baru lahir sebaiknya tidak diberikan makanan tertentu, seperti telur mentah atau setengah matang, madu, ramuan herbal, dan makanan yang tidak direkomendasikan dokter.
Bayi sebaiknya menerima makanan padat pertama melalui MPASI di usia 6 bulan.
Makanan terbaik bayi sampai usia 6 bulan adalah ASI. Apabila ASI tidak tersedia atau tidak dapat diberikan, bayi bisa diberikan formula dengan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Saat bayi baru lahir demam, jangan memberikan obat atau makanan sembarangan, namun tetap berikan ASI dan konsultasi ke tenaga kesehatan
Peristiwa Bayi Meninggal Karena Diduga Diberi Telur Mentah
Kabar duka datang dari Surabaya, Jawa Timur. Bayi bernama Alena yang baru berusia 28 hari meninggal dunia pada Minggu, 11 Oktober 2026, setelah sempat menjalani perawatan intensif di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUD Dr. Soetomo. Sebelumnya, Alena dilaporkan mengalami demam dan diduga diberi telur mentah oleh neneknya dengan alasan untuk membantu menurunkan demam.
Menurut pemberitaan media, pihak rumah sakit menyampaikan bahwa Alena mengalami infeksi serius pada saluran pencernaan. Namun, hubungan langsung antara konsumsi telur mentah dan penyebab kematiannya belum dapat dipastikan hanya berdasarkan informasi yang tersedia. Karena itu, kasus ini perlu disikapi secara hati-hati tanpa menarik kesimpulan medis yang belum terkonfirmasi.
Meski demikian, peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi orang tua dan keluarga bahwa bayi baru lahir tidak boleh diberi makanan atau minuman sembarangan, termasuk telur mentah maupun ramuan tradisional. Pada usia ini, kebutuhan nutrisi bayi dipenuhi melalui ASI atau susu formula yang sesuai apabila ASI tidak tersedia atau tidak dapat diberikan, dengan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Bahaya Telur Mentah bagi Bayi, Benarkah Bisa Memicu Infeksi?
Telur merupakan sumber protein yang baik untuk mendukung pertumbuhan anak. Namun, manfaat tersebut tidak berarti telur boleh diberikan dalam keadaan mentah, terlebih kepada bayi baru lahir.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), telur dapat mengandung bakteri Salmonella yang berisiko menyebabkan infeksi saluran pencernaan atau salmonellosis. Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui telur yang terkontaminasi, termasuk telur yang tampak bersih dari luar.
Infeksi akibat Salmonella dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti:
Demam.
Diare, terkadang disertai darah.
Mual dan muntah.
Nyeri atau kram perut.
Dehidrasi akibat kehilangan banyak cairan.
Pada bayi, infeksi saluran pencernaan perlu mendapat perhatian serius. Sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang, sementara diare dan muntah dapat menyebabkan dehidrasi dengan cepat. Anak berusia di bawah lima tahun juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat penyakit bawaan makanan dibandingkan orang dewasa.
Penting dipahami: telur mentah bukanlah obat untuk menurunkan demam. Memberikan telur mentah kepada bayi tidak terbukti mengatasi demam dan justru menimbulkan risiko paparan bakteri.
Jika telur akan diberikan kepada bayi yang sudah memasuki usia MPASI, telur harus dimasak hingga putih dan kuningnya matang sempurna. Akan tetapi, untuk bayi baru lahir, telur maupun makanan padat lainnya belum boleh diberikan.
Bayi Baru Lahir Sebaiknya Hanya Mendapatkan ASI atau Susu Formula
Bayi baru lahir memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda dari anak yang lebih besar. Pada periode ini, ASI merupakan pilihan utama karena mengandung zat gizi dan komponen imunologis yang mendukung tumbuh kembang bayi.
Apabila ASI tidak tersedia atau tidak dapat diberikan, susu formula bayi yang sesuai usia dapat digunakan berdasarkan kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.
Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) umumnya baru dimulai ketika bayi berusia sekitar enam bulan. Pada usia tersebut, bayi mulai membutuhkan tambahan nutrisi dari makanan selain ASI atau susu formula, dengan memperhatikan kesiapan perkembangannya.
Artinya, meskipun suatu makanan dianggap bergizi atau dipercaya memiliki manfaat tertentu oleh keluarga, bukan berarti makanan tersebut aman diberikan kepada bayi sejak lahir.
Daftar Makanan dan Minuman yang Tidak Boleh Diberikan kepada Bayi Baru Lahir
Selain telur mentah, ada sejumlah makanan dan minuman yang perlu dihindari pada bayi baru lahir maupun selama tahun pertama kehidupannya.
1. Telur mentah atau setengah matang
Telur mentah dan setengah matang berisiko mengandung Salmonella. Hindari juga makanan yang mengandung telur mentah, seperti adonan kue mentah, mayones rumahan dari telur mentah, dan hidangan tertentu yang tidak dimasak sempurna. Telur baru dapat diperkenalkan saat MPASI dan harus dimasak matang.
2. Madu
Madu tidak boleh diberikan kepada bayi di bawah usia 12 bulan, baik secara langsung maupun dicampurkan ke makanan, minuman, atau susu. Madu dapat mengandung spora bakteri Clostridium botulinum yang menyebabkan botulisme bayi, kondisi serius yang dapat mengganggu fungsi saraf dan pernapasan.
3. Susu sapi sebagai minuman utama
Susu sapi biasa tidak boleh menggantikan ASI atau susu formula sebagai minuman utama sebelum bayi berusia 12 bulan. Kandungan protein dan mineralnya tidak sesuai untuk kebutuhan bayi pada usia tersebut. Susu mentah yang tidak dipasteurisasi juga berisiko membawa bakteri penyebab infeksi.
4. Jamu, air rebusan herbal, dan ramuan tradisional
Ramuan tradisional tidak boleh diberikan sembarangan kepada bayi baru lahir, termasuk untuk mengatasi demam, kembung, atau gangguan pencernaan. Komposisi, dosis, kemurnian, serta keamanan bahan-bahannya belum tentu sesuai untuk bayi. Sebagian ramuan juga berpotensi menyebabkan keracunan atau kontaminasi.
5. Air putih
Bayi yang berusia di bawah enam bulan umumnya tidak membutuhkan tambahan air putih karena kebutuhan cairannya sudah dipenuhi melalui ASI atau susu formula yang disiapkan dengan benar. Pemberian air tambahan tanpa indikasi medis dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dan mengurangi asupan nutrisi.
6. Daging, ikan, dan makanan laut mentah atau kurang matang
Makanan seperti sashimi, kerang mentah, daging kurang matang, dan olahan sejenis berisiko membawa bakteri atau parasit. Makanan tersebut bukan untuk bayi baru lahir. Ketika bayi sudah mulai MPASI, sumber protein hewani dapat diberikan dalam bentuk yang matang sempurna dan bertekstur sesuai kemampuan makan bayi.
Daftar di atas mencakup makanan yang tidak sesuai untuk bayi baru lahir dan beberapa pantangan khusus selama tahun pertama. Tidak semua makanan memiliki batas usia yang sama. Telur matang, misalnya, dapat menjadi bagian dari MPASI setelah bayi siap makan, sedangkan madu tetap harus dihindari hingga usia 12 bulan.
Bagaimana Jika Bayi Baru Lahir Mengalami Demam?
Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian dari kasus Alena adalah informasi bahwa bayi tersebut mengalami demam sebelum diduga diberikan telur mentah. Kondisi ini mengingatkan orang tua bahwa demam pada bayi baru lahir tidak boleh dianggap sebagai keluhan ringan.
Bayi berusia kurang dari tiga bulan yang mengalami suhu tubuh 38°C atau lebih harus segera mendapatkan pemeriksaan medis. Jangan menunggu sampai muncul gejala lain atau mencoba mengatasinya dengan makanan, minuman, maupun ramuan tradisional.
Segera bawa bayi ke IGD atau fasilitas kesehatan jika mengalami tanda bahaya, seperti:
Demam atau suhu tubuh terlalu rendah.
Tidak mau menyusu atau menyusu jauh lebih sedikit dari biasanya.
Tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak responsif.
Napas cepat, sesak, atau tampak kesulitan bernapas.
Muntah berulang, diare, atau jumlah popok basah berkurang.
Kejang atau perubahan warna kulit menjadi pucat kebiruan.
Demam pada bayi baru lahir dapat menjadi tanda infeksi serius, sehingga pemeriksaan dan penanganan tenaga medis tidak boleh ditunda.
Peran Orang Tua dan Keluarga dalam Menjaga Keamanan Bayi
Merawat bayi merupakan tanggung jawab bersama. Kakek, nenek, dan anggota keluarga lainnya tentu dapat memiliki pengalaman serta tradisi pengasuhan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, praktik yang dahulu dianggap bermanfaat tetap perlu disesuaikan dengan pengetahuan medis saat ini.
Agar keamanan bayi tetap terjaga, orang tua dapat melakukan beberapa langkah berikut:
Sepakati aturan pemberian makanan sejak awal. Jelaskan kepada seluruh anggota keluarga bahwa bayi baru lahir hanya boleh mendapatkan ASI atau susu formula yang sesuai, kecuali ada instruksi medis khusus.
Jangan memberikan makanan atau ramuan tanpa persetujuan orang tua. Jika ada anggota keluarga yang ingin memberikan sesuatu kepada bayi untuk mengatasi keluhan tertentu, diskusikan terlebih dahulu dengan orang tua dan tenaga kesehatan.
Jangan mengandalkan mitos untuk mengatasi penyakit. Telur mentah, madu, air putih, atau ramuan tradisional bukan pengganti pemeriksaan dan pengobatan medis.
Kenali tanda bahaya pada bayi. Demam, kesulitan menyusu, sesak napas, dan perubahan kesadaran memerlukan perhatian serius, terutama pada bayi baru lahir.
Pastikan semua pengasuh memahami panduan yang sama. Orang tua dapat membagikan informasi dari dokter anak atau bidan kepada anggota keluarga yang ikut merawat bayi.
Jangan Menunggu hingga Kondisi Bayi Memburuk
Kasus bayi Alena menjadi pengingat bahwa keamanan makanan untuk bayi bukan hal sepele. Walaupun telur merupakan sumber protein yang bergizi, memberikannya dalam keadaan mentah kepada bayi dapat membawa risiko infeksi. Terlebih, bayi baru lahir belum memiliki kesiapan untuk menerima makanan selain ASI atau susu formula yang sesuai.
Hal terpenting yang perlu diingat, jangan memberikan makanan, minuman, atau ramuan tradisional kepada bayi baru lahir tanpa indikasi dan arahan tenaga kesehatan. Jika bayi mengalami demam atau menunjukkan perubahan kondisi, segera cari pertolongan medis, bukan mencoba pengobatan sendiri di rumah.
Dengan pemahaman yang tepat dan kerja sama seluruh anggota keluarga, orang tua dapat memberikan perlindungan terbaik bagi bayi sejak hari pertama kehidupannya.
Referensi:
IDAI. 2016. Telur Mentah atau Setengah Matang: Bolehkah Diberikan pada Bayi Anda?
IDAI. 2015. Makanan Pendamping ASI (MPASI)
CDC. 2026. Foods and Drinks to Avoid or Limit
CDC. 2024. Safer Food Choices for Children Under 5 Years Old


