Hubungan yang harmonis tidak bisa diukur hanya dari frekuensi pertengkaran pasangan suami istri. Jarang bertengkar tidak lantas menunjukkan tidak ada masalah antara suami istri.
Konflik dalam hubungan pernikahan, apalagi yang sudah berlangsung lama, akan selalu ada. Perbedaan pendapat dalam menyelesaikan konflik kadang diperlukan.
Pasangan yang jarang bertengkar bisa jadi memilih jalan menghindar dari konflik atau mengabaikan konflik dan justru hal ini tidak sehat.
Pasangan jarang bertengkar tetapi tetap bisa ngobrol tentang hal-hal yang tidak nyaman, kebutuhan masing-masing terpenuhi, dan hubungan terasa saling menghargai, maka ini adalah hubungan yang memang sehat.
Ciri-ciri Hubungan yang Sehat
Memiliki hubungan yang jarang bertengkar memang tampak ideal dan menyenangkan. Semua orang pasti menginginkan pasangan jarang bertengkar. Namun, muncul pertanyaan yang meragukan, apakah mungkin tidak adanya konflik dalam hubungan menandakan bahwa hubungan tersebut sehat?
Jawabannya, belum tentu. Sebab setiap individu punya karakter dan kepribadian masing-masing yang pastinya tidak selalu sama dan sependapat dengan pasangannya. Belum lagi banyaknya faktor yang ikut andil dalam perjalanan sebuah hubungan, baik faktor internal maupun eksternal.
Adanya perbedaan pendapat, perbedaan keinginan, sudut pandang, bahkan cara atau gaya dalam mencapai tujuan bersama pun, jadi salah satu pemicu munculnya pertengkaran dalam hubungan.
Jadi sangat wajar jika pertengkaran kerap muncul dan sulit dihindari. Namun bukan berarti yang minim bertengkar, sebagai indikasi hubungan yang sehat. Mums, yang terpenting bukan sekadar ada atau tidaknya konflik, tetapi bagaimana konflik dikelola.
Penelitian pada Journal of Research in Personality (2025) meneliti konsep intellectual humility, yaitu kemampuan menyadari bahwa pandangan diri sendiri mungkin tidak selalu benar. Studi tersebut menemukan hubungan antara intellectual humility dengan kepuasan hubungan, ikatan emosional, serta karakteristik konflik.
Ini menarik karena menunjukkan bahwa hubungan sehat bukan hanya tentang mengurangi konflik, tetapi juga mempertahankan kedekatan emosional ketika menghadapi konflik.
Hal ini mendukung gagasan bahwa pasangan sehat tidak harus selalu sepakat. Mereka justru perlu mampu mengatakan: “Mungkin aku belum melihat masalah ini dari sudut pandangmu.”
Jadi, kemampuan mendengarkan dan mempertimbangkan perspektif pasangan bisa lebih penting daripada sekadar seberapa jarang pasangan bertengkar.
Pasangan Jarang Bertengkar, Wajar atau Tanda Masalah?
Mustahil menghindari pertengkaran dalam hubungan. Dua orang yang sangat mencintai sekalipun bukan berarti selalu sepakar dalam segala hal. Di sinilah potensi pertengkaran muncul.
Mulai dari cara mengatur uang, pekerjaan rumah, waktu bersama, hingga keputusan besar seperti pendidikan anak, tempat tinggal, perubahan karir dan sebagainya. Bahkan, konflik kecil bisa menjadi kesempatan bagi pasangan untuk belajar bagaimana cara berkomunikasi ketika tidak sepakat.
Namun, bukan berarti semakin sering bertengkar semakin sehat.
Yang perlu diperhatikan adalah pola konfliknya. Jika pasangan terus-menerus bertengkar mengenai masalah yang sama tanpa pernah menemukan jalan keluar, bisa jadi ada persoalan mendasar yang belum terselesaikan.
Sebaliknya, jika Mums dan pasangan jarang bertengkar, tetapi merasa bahagia, kebutuhan terpenuhi, dan sama-sama nyaman berbicara ketika ada masalah, frekuensi konflik yang rendah bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Kapan Pasangan Jarang Bertengkar Justru Perlu Diwaspadai?
Tidak semua pasangan jarang bertengkar menunjukkan keharmonisan sebuah hubungan. Bisa jadi yang dialami bukan adanya kesepakatan atau selalu sependapat dalam segala hal, melainkan ada alasan lain yang tak terungkap.
Mums, perlu diperhatikan dan waspada jika salah satu pasangan, berada dalam posisi :
Selalu mengalah karena takut konflik
Menyimpan masalah sendiri
Tidak berani mengatakan kebutuhan
Menghindari topik tertentu
Merasa tidak punya ruang untuk menyampaikan ketidaksetujuan
Dalam kondisi seperti ini, pasangan jarang bertengkar belum tentu berarti semuanya baik-baik saja. Terlebih pada sebuah hubungan dengan ketimpangan kekuasaan, seseorang juga bisa memilih diam karena merasa bergantung pada pasangannya atau takut mengganggu stabilitas hubungan.
Ada perbedaan besar antara jarang bertengkar karena mampu membicarakan masalah dengan baik dan jarang bertengkar karena salah satu selalu diam dan memendam perasaan. Keduanya terlihat sama dari luar, tetapi secara psikologis bisa sangat berbeda.
Tips agar Pertengkaran tidak Merusak Hubungan
Memang konflik sering kali tidak dapat dihindari, namun cara menghadapinya adalah kunci menjaga sebuah hubungan tetap sehat dan harminis. Berikut ini tips agar pertengkaran dengan pasangan tidak merusak hubungan, justru memperkuat hubungan yang ada :
1. Tetap tenang dan mulai dengan apresiasi
Sebelum menyampaikan keluhan, coba akui dulu hal positif yang dilakukan pasangan. Pendekatan seperti ini dapat membantu percakapan tetap tenang dan tidak langsung terasa seperti serangan.
2. Kritik perilakunya, bukan karakternya
Ini yang sering kali diabaikan dalam sebuah konflik. Hindari kalimat seperti: “Kamu memang jorok.”
Lebih baik: “Aku merasa agak kewalahan kalau barang-barang tidak dikembalikan ke tempatnya.”
Jadi, lebih baik fokus pada perilaku membuat pembicaraan menjadi lebih spesifik dan mengurangi kemungkinan pasangan merasa diserang secara pribadi.
3. Gunakan kata, “Aku” atau “Saya”
Alih-allih mengatakan, “Kamu nggak pernah peduli sama aku.” Coba ubah menjadi: “Aku merasa kurang diperhatikan ketika pesanku lama tidak dibalas.” Kalimat “Aku merasa...” membantu menyampaikan pengalaman dan kebutuhan tanpa langsung menyalahkan pasangan.
4. Jika emosi memanas, beri jeda
Mums, yang perlu diingat dalam bertengkar adalah, tidak semua masalah harus selesai saat itu juga. Jika percakapan mulai berubah jadi saling serang, berteriak, lebih baik ambil jeda untuk menenangkan diri dan kembali membicarakannya ketika emosi sudah mulai terkendali. Dalam hal ini jeda bukan berarti kabur dari masalah. Melainkan cara agar konflik tidak berkembang menjadi sesuatu yang lebih menyakitkan.
5. Bukan jadi pemenang
Jangan jadikan konflik sebagai ajang menang atau kalah. Melainkan mencari titik temu dan kompromi yang menguntungkan kedua pihak, mengurangi ego masing-masing sehingga dapat mencapai kata sepakat. Dengan begitu, fokusnya berpindah dari menyalahkan pasangan menjadi mencari solusi bersama.
Mums, pasangan jarang bertengkar tidak otomatis berarti hubungan sehat. Begitu juga sering bertengkar tidak otomatis berarti hubungan tidak sehat. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pasangan merasa aman untuk berbeda pendapat, bisa menyampaikan kebutuhan, saling menghormati batasan, dan mampu membicarakan masalah tanpa merendahkan atau menyerang satu sama lain.
Jadi, kalau pasangan jarang bertengkar tetapi tetap bisa ngobrol tentang hal-hal yang tidak nyaman, kebutuhan masing-masing terpenuhi, dan hubungan terasa saling menghargai, tidak ada alasan untuk menganggap hubungan tersebut bermasalah hanya karena minim konflik.
Karena dalam hubungan yang sehat, bukan jumlah pertengkarannya yang paling penting, melainkan bagaimana pasangan menghadapi perbedaan dan kembali menemukan jalan bersama
Referensi :
Journal of Research in Personality. 2025. Intellectual humility in romantic relationships: Implications for relationship satisfaction, argument frequency, and conflict behaviors.


