Bepergian selama kehamilan adalah hal yang umum. Data terbaru dari penelitian di Australia dan New Zealand (ANZJOG) menunjukkan bahwa hingga 44% wanita bepergian selama kehamilan, di mana 19% di antaranya melakukan perjalanan internasional.
Di Indonesia mungkin belum ada data pasti berapa jumlah ibu hamil yang melakukan perjalanan atau berlibur baik ke luar negeri maupun ke dalam negeri.
Penelitian juga menunjukkan, sekitar dua pertiga dari ibu hamil yang melakukan perjalanan jauh berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter kandungan, sedangkan sisanya yang tidak merasa bahwa perjalanan mereka aman dan tidak berisiko.
Hal yang perlu dipertimbangkan sebelum Ibu Hamil pergi berlibur
Ada sejumlah risiko dan hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum bepergian saat hamil, berikut di antaranya:
1. Waktu Perjalanan
Secara umum, waktu teraman bagi wanita hamil untuk bepergian adalah selama trimester kedua. Kondisi ibu hamil di trimester pertama umumnya masih belum memungkinkan untuk bepergian jauh, masih ada risiko keguguran dan gangguan mual dan muntah yang berat.
Mual dan muntah adalah gejala umum kehamilan, dengan prevalensi di seluruh dunia sekitar 70%. Mayoritas wanita (55%) mengalami mual ringan hingga sedang; namun, 1% menggambarkan gejala yang parah atau Hiperemesis gravidarum,
Ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum sebaiknya disarankan untuk menghindari perjalanan di awal kehamilan sebisa mungkin, karena gejalanya dapat diperparah oleh mual dan muntah yang terkait dengan perjalanan.
Trimester ketiga juga menimbulkan tantangan signifikan bagi ibu hamil yang bepergian. Ini adalah saat di mana banyak ketidaknyamanan fisik kehamilan mencapai puncaknya. Termasuk lingkar perut, berat badan, bengkak, gangguan tidur, asam lambung naik, dan sering buang air kecil.
2. Persiapan
Jika Mums sudah memasuki trimester kedua dan siap melakukan perjalanan untuk berlibur, langkah selanjutnya adalah berkonsultasi atau mendatangi dokter untuk mendapatkan semua salinan dan catatan perawatan antenatal.
Jika memungkinkan, buat asuransi perjalanan yang secara khusus mencakup perawatan kehamilan dan bayi baru lahir. Apalagi saat bepergian ke tujuan internasional, asuransi perjalanan sangat penting.
Bawa obat-obatan untuk mengobati gejala ringan yang umum terkait kehamilan, misalnya antimuntah, obat pereda asam lambung, pencahar untuk sembelit, analgesik untuk sakit kepala ringan, atau untuk sakit punggung atau nyeri panggul.
3. Menghindari tromboembolisme vena
Wanita hamil memiliki peningkatan risiko mengalami tromboembolisme vena (VTE) atau pembekuan darah vena di kaki. Bekuan darah ini menyebabkan kaki bengkak dan bahkan bisa memicu kematian jika bekuannya mengalir sampai ke jantung dan menyebabkan sumbatan.
Risiko tromboembolisme vena meningkat 4–6 kali lipat pada wanita hamil dibandingkan dengan wanita tidak hamil.
VTE terjadi ketika ibu hamil terlalu banyak duduk di kereta, bis, atau pesawat kelas ekonomi yang menyebabkan aliran darah tidak lancar terutama setelah perjalanan jarak jauh lebih dari empat jam.
4. Aturan Perjalanan Udara
Banyak maskapai penerbangan mengizinkan perjalanan udara domestik hingga usia kehamilan 36 minggu atau lebih. Untuk perjalanan internasional, batasan sering diberlakukan untuk usia kehamilan awal.
Beberapa maskapai penerbangan melakukan pembatasan berdasarkan durasi penerbangan, kondisi kehamilan misalnya kehamilan kembar, dll. Mums yang ingin menggunakan perjalanan udara sebaiknya cek maskapai penerbangan dulu apakah mereka memiliki batasan usia kehamilan atau batasan lainnya
Setelah usia kehamilan 28 minggu, sebagian besar maskapai penerbangan memerlukan sertifikat medis yang menyatakan bahwa wanita hamil tersebut layak untuk terbang. Sertifikat tersebut harus mencakup perkiraan tanggal persalinan, apakah itu kehamilan tunggal atau ganda, dan pernyataan bahwa tidak ada komplikasi kehamilan. Dalam kasus komplikasi kehamilan, sertifikat izin medis kedua yang lebih spesifik mungkin diperlukan.
5. Turbulensi
Turbulensi dalam penerbangan tidak dapat diprediksi dan terkadang bisa parah. Seperti penumpang lainnya, penumpang hamil berisiko jatuh atau mengalami trauma lain dalam kondisi turbulensi parah.
Trauma perut yang signifikan dapat memicu abrupsio plasenta. Dianjurkan agar penumpang hamil mengencangkan sabuk pengaman mereka setiap kali mereka duduk, meskipun tanda "kencangkan sabuk pengaman" mati.
Sabuk pengaman harus dikenakan rendah di pinggul di bawah perut dan bukan langsung di perut yang sedang hamil. Saat bergerak di lorong, wanita hamil juga harus berpegangan erat pada sandaran kursi.
6. Perjalanan dengan Mobil
Seperti halnya perjalanan udara, perjalanan dengan mobil dapat menyebabkan ibu hamil duduk tidak bergerak dalam waktu lama. Ada risiko VTE (tromboembolisme vena) sehingga disarankan melakukan peregangan, banyak minum, dan sering-sering berjalan ke kamar mandi.
Aktivitas yang Harus Dihindari Selama Berlibur
Beberapa aktivitas di tempat wisata populer sebaiknya dihindari selama kehamilan, terutama pada trimester ketiga ketika rahim yang membesar dan janin yang tumbuh berada pada puncaknya.
Misalnya tidak perlu ikut olahraga kontak, aktivitas dengan gaya benturan tinggi pada tubuh seperti menyelam atau berselancar, dan aktivitas dengan risiko jatuh seperti menunggang kuda atau bermain ski.
Perubahan fisiologis yang terkait dengan kehamilan dapat berkontribusi pada peningkatan risiko jatuh, terutama selama aktivitas yang membutuhkan keseimbangan, koordinasi, dan kelincahan yang ekstrem.
Selain itu, aktivitas yang secara dramatis dan cepat meningkatkan suhu tubuh juga tidak dianjurkan selama kehamilan.Misalnya sauna, berendam di bak air panas, atau bahkan aktivitas seperti yoga Bikram.
Vaksinasi
Vaksinasi untuk perjalanan selama kehamilan sangat penting dalam mengurangi risiko tertular penyakit menular pada ibu dan janin. Beberapa jenis vaksin yang dianjurkan untuk ibu hamil adalah influenza.
Referensi:
Australian and New Zealand Journal Obstetric and Gynaecology. The pregnant traveller: An overview of general travel advice
Obgyn. Vaccination recommendations for pregnant people travelling overseas


