Tidak semua proses menyusui ASI eksklusif berjalan mudah terutama bagi orang tua baru. Banyak Mums yang mengalami kesulitan dalam menyusui sehingga bikin si Kecil kekurangan ASI. Dampak terburuknya bayi mengalami dehidrasi.
Salah satu kekhawatiran yang paling sering muncul adalah rasa takut bahwa bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup. Kekhawatiran ini dikenal sebagai Perceived Insufficient Milk Supply (PIMS), yaitu kondisi ketika orang tua merasa produksi ASI mereka kurang, meskipun belum tentu demikian secara medis. Risiko terbesar bayi kurang ASI adalah dehidrasi.
Penelitian dari The Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine menyatakan, dehidrasi pada bayi baru lahir yang mendapatkan ASI, adalah masalah kesehatan yang cukup signifikan. Peneliti menemukan insiden dehidrasi pada bayi yang mendapatkan ASI eksklusi mencapai s4,7%.
Beberapa penyebabnya antara lain:
Keterlambatan memulai pemberian ASI
Teknik pemberian ASI yang tidak memadai
Ada masalah terkait payudara ibu.
Ibu yang baru pertama kali melahirkan memiliki risiko lebih tinggi, dan mereka adalah kelompok yang paling membutuhkan edukasi dan dukungan pemberian ASI. Studi ini menegaskan kembali peran penting pemberian ASI yang sering dan efektif serta pemantauan berat badan harian untuk mencegah dehidrasi.m
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa persepsi kekurangan ASI menjadi salah satu alasan utama kegagalan ASI eksklusif. Sebuah studi di Australia menemukan bahwa sembilan minggu setelah kelahiran, hanya 49% orang tua yang masih menyusui secara eksklusif karena kekhawatiran pasokan ASI yang menurun. Sementara itu, penelitian di Amerika Serikat menunjukkan sekitar 35% orang tua menyapih lebih awal akibat PIMS. Jika kekurangan ASI benar-benar terjadi dan tidak segera diatasi, salah satu dampak yang dapat muncul adalah dehidrasi pada bayi.
Alasan kekurangan ASI sebabkan bayi dehidrasi
Pada bulan-bulan pertama kehidupan, bayi hanya mendapatkan asupan cairan dari ASI atau susu formula. Tubuh bayi yang masih sangat kecil membuat keseimbangan cairan mereka lebih rentan terganggu. Sedikit saja kekurangan cairan berdampak signifikan pada kondisi tubuh bayi.
Ketika bayi tidak mendapatkan cukup ASI, cairan yang masuk ke tubuhnya tidak mampu menggantikan cairan yang hilang melalui urine, keringat, atau proses metabolisme tubuh. Akibatnya, bayi mulai mengalami dehidrasi. Kondisi ini bisa berkembang secara perlahan dan sering kali tidak langsung disadari oleh orang tua, terutama pada bayi baru lahir.
Salah satu tantangan terbesar dalam menyusui, terutama fase ASI eksklusif adalah memastikan pasokan ASI cukup sejak awal. Faktor seperti pelekatan yang kurang optimal, frekuensi menyusui yang jarang, hingga stres pada ibu dapat memengaruhi produksi ASI itu sendiri.
Tanda bayi dehidrasi yang perlu diwaspadai
Setiap bayi yang mengalami dehidrasi memiliki tanda atau gejala yang berbeda-beda tergantung usia dan tingkat keparahannya. Di sinilah orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal bayi dehidrasi agar dapat segera mengambil tindakan.
Mums, berikut ini tanda dehidrasi pada bayi baru lahir :
Ubun-ubun (bagian lunak di atas kepala) tampak cekung atau lebih datar
Popok jarang basah atau jumlah urine berkurang. Waspada jika popok kering selama 6 jam atau lebih.
Rewel berlebihan atau justru sangat lemas
Menangis tanpa atau dengan sangat sedikit air mata
Mata terlihat cekung
Bayi tampak sangat mengantuk atau tidur lebih lama dari biasanya
Kulit tampak kering atau kurang elastis
Tidak tertarik bermain atau menyusu
Tangan dan kaki terasa dingin
Mulut dan bibir kering
Napas dan denyut jantung lebih cepat
Perubahan warna urine jadi lebih gelap dan berbau
Penyebab bayi dehidrasi akibat kekurangan ASI
Pada bayi baru lahir, dehidrasi paling sering disebabkan oleh masalah dalam proses menyusui, antara lain:
Bayi belum bisa melekat dengan baik pada payudara
Pasokan ASI ibu masih rendah di awal kelahiran
Bayi tidak menghisap ASI secara efektif
Bayi sering muntah sehingga cairan yang masuk keluar kembali
Diare, muntah, infeksi virus, atau kepanasa
Cara mengatasi dehidrasi pada bayi
Dua faktor penting yang perlu dipahami dalam mengatasi dehidrasi pada bayi, yaitu mesti disesuaikan dengan usia bayi dan tingkat keparahan kondisinya. Untuk dehidrasi ringan akibat kekurangan ASI, beberapa langkah berikut dapat dilakukan, di antaranya :
1. Menyusui lebih sering dan responsif
Bayi baru lahir memiliki perut seukuran anggur, sehingga mereka hanya dapat minum sedikit ASI setiap kali menyusu. Karenanya, bayi perlu disusui lebih sering, bahkan hingga 8–12 kali dalam 24 jam. Menyusui berdasarkan permintaan bayi dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan sekaligus meningkatkan produksi ASI.
2. Pelekatan yang benar
Pelekatan yang tepat memungkinkan bayi menghisap ASI secara efektif. Jika menyusui terasa nyeri atau bayi sering terlepas dari payudara, segera cari bantuan konsultan laktasi untuk mengatasi masalah pelekatan ini.
3. Alternatif pemberian ASI bila diperlukan
Jika bayi kesulitan menyusu langsung, ASI perah dapat diberikan melalui botol, pipet steril, atau sendok bayi. Dalam kondisi tertentu, dokter mungkin menyarankan penggunaan susu formula sementara untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut.
4. Memantau popok dan berat badan
Jumlah popok basah, warna urine, dan kenaikan berat badan bayi merupakan indikator penting kecukupan asupan cairan dan nutrisi.
5. Hubungi dokter
Dehidrasi pada bayi dapat berkembang dengan cepat dan berbahaya jika tidak ditangani. Segera hubungi dokter jika si Kecil mengalami salah satu atau lebih kondisi : tidak mau menyusu sama sekali, sering muntah dan tidak dapat menahan susu, mengalami demam 380C atau lebih terutama di bawah usia 3 bulan, dehidrasi tak kunjung membaik.
Mums, bayi dehidrasi akibat kekurangan ASI adalah kondisi yang perlu mendapat perhatian serius, terutama pada minggu-minggu awal kehidupan. Tubuh bayi yang kecil membuat mereka lebih cepat kehilangan cairan dan lebih rentan terhadap komplikasi.
Dengan mengenali tanda-tanda dehidrasi, memastikan proses menyusui berjalan optimal, serta segera mencari bantuan medis bila diperlukan, risiko dehidrasi dapat ditekan. Dukungan yang tepat dan pemantauan yang baik akan membantu bayi tumbuh sehat dan mendapatkan manfaat optimal dari ASI.
Referensi :
The Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine. Neonatal hypernatremic dehydration in breastfed neonates.


