Di zaman media sosial, rasanya selalu ada hal baru yang “harus dicoba”. Mulai dari makanan viral, outfit yang sedang tren, skincare terbaru, sampai tempat nongkrong yang ramai di TikTok. Akibatnya, banyak orang membeli sesuatu bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena takut dianggap ketinggalan.
Tren Fear of Missing Out atau FOMO ini kerap jadi jebakan menjadi boros. FOMO tanpa disadari bisa mendorong perilaku konsumtif atau konsumerisme. Bagaimana biar kita terhindar dari FOMO yang tidak perlu, ikuti tips berikut ya Mums!
FOMO dan Sifat Konsumtif
Fear of Missing Out (FOMO) adalah istilah unik yang diperkenalkan pada tahun 2004 untuk menggambarkan fenomena tentang persepsi ketinggalan, diikuti dengan perilaku kompulsif untuk mempertahankan koneksi sosial ini.
FOMO membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti apa yang sedang ramai. Ketika melihat orang lain mencoba makanan viral, memakai baju tren terbaru, atau rutin belanja barang estetik, muncul dorongan untuk ikut melakukan hal yang sama. Padahal, tren di media sosial bergerak sangat cepat. Hari ini viral, minggu depan sudah tergantikan oleh tren baru.
Akibatnya, banyak orang jadi:
Sering belanja impulsif
Boros demi mengikuti tren
Membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan
Sulit menabung karena uang habis untuk “ikut hype”
Merasa kurang puas karena terus ingin hal baru
Contoh FOMO yang Sering Terjadi
Berikut ini contoh-contoh tren yang mendorong perilaku FOMO:
1. Makanan Viral
Awalnya Mums tidak tertarik mencoba makanan yang viral, apalagi untuk mendapatkannya harus antri dan harganya tidak murah. Namun karena terus muncul di media sosial, Mums akhirnya membeli makanan atau minuman mahal hanya demi konten atau agar tidak merasa tertinggal. Padahal, banyak makanan viral yang sebenarnya biasa saja dan hanya ramai karena pemasaran atau tren internet.
2. Fashion dan Outfit Tren
Tren fashion berubah sangat cepat. Hari ini model tertentu populer, beberapa bulan kemudian sudah dianggap “ketinggalan”. Jika terus mengikuti semua tren bisa-bisa Mums akan menemukan lemari jadi penuh dan banyak pakaian jarang dipakai. Pengeluaran membengkak karena muncul dorongan terus membeli barang baru.
3. Gadget dan Barang Estetik
Mulai dari tumbler, aksesori meja kerja, case ponsel, hingga gadget terbaru sering dipromosikan sebagai simbol gaya hidup tertentu. Tanpa sadar, seseorang bisa membeli barang demi terlihat relevan di media sosial, bukan karena kebutuhan nyata.
Tips Terhindar dari FOMO dan Hidup Konsumtif
Biar tidak boros akibat perilaku konsumtif yang berangkat dari rasa FOMO, berikut tips menghindarinya:
1. Bedakan “Butuh” dan “Ingin”
Sebelum membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri:
Apakah ini benar-benar diperlukan?
Apakah akan dipakai dalam jangka panjang?
Atau hanya karena sedang viral?
Memberi jeda sebelum membeli sering kali membantu mengurangi belanja impulsif.
2. Jangan Jadikan Media Sosial sebagai Standar Hidup
Media sosial biasanya hanya menampilkan sisi paling menarik dari kehidupan seseorang. Apa yang terlihat mewah atau sempurna belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. Tidak semua tren harus diikuti agar hidup terasa cukup.
3. Buat Anggaran Khusus untuk Hiburan atau Tren
Tidak masalah sesekali mencoba makanan viral atau membeli barang yang disukai. Namun, tetap beri batas pengeluaran agar tidak mengganggu kebutuhan utama dan tabungan. Dengan begitu, keuangan tetap lebih terkontrol.
Misalnya:
Budget nongkrong bulanan
Budget belanja fashion
Budget self reward
4. Hindari Belanja Saat Emosi atau Bosan
Banyak orang belanja karena stres, bosan, atau ingin merasa “up to date”. Akibatnya, barang dibeli tanpa dipikir panjang.
Cobalah mengalihkan perhatian dengan:
Jalan santai
Membaca buku
Olahraga
Mengobrol dengan teman
Menjalani hobi
5. Fokus pada Gaya Pribadi, Bukan Tren Sementara
Tidak semua tren cocok untuk semua orang. Memiliki gaya sendiri justru membuat seseorang lebih nyaman dan tidak mudah terbawa arus. Prinsip sederhana seperti: “Kalau cocok dan memang dipakai, baru beli” bisa membantu mengurangi pemborosan.
6. Ingat Tujuan Keuangan Jangka Panjang
Kadang uang kecil yang sering dipakai untuk mengikuti tren justru jika dikumpulkan bisa menjadi dana darurat, tabungan rumah, dana liburan, investasi, bahkan modal usaha
FOMO sering memberi kepuasan sesaat, tetapi pengelolaan keuangan yang sehat memberi manfaat jangka panjang. Tidak semua hal viral harus dicoba, dan tidak semua tren perlu diikuti. FOMO yang dibiarkan terus-menerus bisa membuat seseorang terjebak dalam pola hidup konsumtif dan boros.
Menikmati hidup bukan tentang selalu mengikuti tren terbaru, melainkan tentang memahami kebutuhan diri sendiri, hidup sesuai kemampuan, dan tetap merasa cukup tanpa harus terus membandingkan diri dengan orang lain.


