Berkeringat merupakan salah satu repons alami tubuh mencoba melindungi diri dengan cara mendinginkan. Misalnya saat cuaca panas, olahraga, atau berpakaian yang tidak nyaman.
Namun bila berkeringat pada malam hari atau saat tidur, bisa jadi ini menandakan sesuatu, walaupun tidak jadi penyebab langsung. Termasuk ketika anak berkeringat saat tidur, perlu dicari tahu apa gerangan yang terjadi dengan si Kecil.
Penyebab anak berkeringat saat tidur
Anak berkeringat saat tidur umumnya masih termasuk normal, terutama pada bayi dan balita. Apalagi bila ruangan terlalu panas atau seprei maupun pakaiannya terlalu tebal. Begitu pula dengan kepala balita yang cenderung berkeringat sepanjang malam, bahkan jika bagian tubuhnya yang lain tidak terlalu berkeringat.
Keringat malam biasanya tidak berbahaya, tetapi terkadang bisa menjadi tanda adanya masalah yang mendasarinya. Berikut ini beberapa penyebab bayi berkeringat saat tidur :
1. Mimpi buruk
Sama seperti orang dewasa, bayi juga bisa mimpi buruk yang sangat intens saat tidur nyenyak. Anak-anak yang mengalami mimpi buruk biasanya akan berkeringat saat tidur, bahkan mungkin menangis dan meronta-ronta. Tanda-tanda lainnya adalah spontan duduk tegak, merasa kesal, atau bernapas berat.
2. Suhu kamar terlalu panas
Seperti yang telah disebutkan tadi, penyebab tersering anak berkeringat saat tidur adalah pakaian terlalu tebal, selimut berlapis, ventilasi kurang baik, cuaca panas atau lembap. Riset Journal of Physiological Anthropology (2024) tentang suhu lingkungan tidur pada anak menunjukkan suhu dan kelembapan kamar sangat memengaruhi kualitas tidur dan produksi keringat.
3. Hiperhidrosis idiopatik
Hiperhidrosis idiopatik (juga disebut keringat malam idiopatik) tidak memiliki penyebab yang diketahui, tetapi membuat anak-anak dan orang dewasa berkeringat berlebihan bahkan tanpa alasan yang jelas. Biasanya, hiperhidrosis menyebabkan keringat berlebihan di wajah, kaki, dan tangan.
Secara medis, hal ini tidak berdampak pada kesehatan anak. Namun, keringat berlebih dapat menyebabkan kecemasan seiring bertambahnya usia, terutama dalam situasi sosial.
4. Fase tidur REM
Saat fase tidur REM (Rapid Eye Movement) otak akan lebih aktif, denyut jantung meningkat, metabolisme tubuh naik, anak lebih mudah berkeringat. Karena bayi dan balita memiliki proporsi tidur REM lebih tinggi dibanding orang dewasa, mereka memang lebih sering berkeringat saat tidur.
5. Faktor keturunan
Beberapa anak memang “mudah gerah” seperti orang tuanya. Jika anak aktif, tumbuh baik, dan tidak ada keluhan lain, biasanya bukan masalah serius, bisa jadi ini hanya faktor keturunan semata.
6. Penyakit serius
Salah satu penyebab keringat malam yang perlu diwaspadai adalah adanya penyakit serius seperti kanker yang mungkin saja dialami oleh si Kecil. Infeksi atau penyakit tertentu, meski lebih jarang, juga bisa muncul, seperti infeksi, gangguan hormon, hipertiroid, beberapa penyakit autoimun, maupun kanker tertentu seperti limfoma. Namun kasus serius seperti ini jauh lebih jarang dibanding penyebab sederhana seperti suhu panas atau fase tidur normal.
7. Gangguan napas saat tidur
Menurut riset dari Frontiers in Neurology (2024) disebutkan bahwa gangguan napas saat tidur atau dikenal dengan istilah obstructive sleep apnea (OSA) pada anak dapat menyebabkan tidur gelisah, mendengkur, napas tersendat, dan berkeringat berlebihan saat tidur. Biasanya lebih sering pada anak dengan amandel atau adenoid besar, alergi, maupun hidung tersumbat kronis.
Kapan harus waspada?
Anak berkeringat saat tidur terutama pada malam hari, selama dalam kondisi normal memang tidak perlu dirisaukan. Namun, bila kondisi ini disertai dengan gejala lainnya, maka perlu diwaspadai.
Berikut ini beberapa gejala penyerta yang perlu diwaspadai ketika berkeringat saat tidur : demam, batuk, diare, penurunan berat badan. Gejala seperti flu, kehilangan nafsu makan, kelelahan, mimisan, nyeri tulang, maupun pembengkakan kelenjar getah bening.
Meskipun keringat malam biasanya tidak perlu dikhawatirkan, Mums mungkin perlu berkonsultasi dengan dokter anak jika hal itu sering terjadi atau Mums melihat tanda-tanda lain. Anak-anak yang mengalami keringat malam lebih mungkin menderita penyakit pernapasan atau masalah tidur lainnya. Anak-anak ini juga lebih mungkin mengalami ledakan amarah tiba-tiba atau hiperaktif.
Keringat malam adalah hal yang normal dan seringkali tidak memiliki penyebab spesifik. Namun, jika Mums menyadari bahwa keringat malam si Kecil disertai dengan gejala seperti yang disebutkan tadi, segera hubungi dokter.
Tips mengatasi anak berkeringat saat tidur
Meskipun anak berkeringat malam hari tidak membahayakan, namun kondisi ini cukup membuatnya tidak nyaman. Karena itu ada beberapa hal yang bisa Mums lakukan untuk mengatasi anak berkeringat saat tidur, tentu saja agar kualitas tidur si Kecil tidak terganggu.
Berikut ini tips mengatasi anak berkeringat saat tidur :
1. Gunakan pakaian yang nyaman
Keringat saat tidur bisa muncul dari pakaian yang digunakan. Pastikan si Kecil menggunakan pakaian yang nyaman, satu lapis, berbahan katun yang menyerap keringat. Selain itu gunakan seprai yang tepat. Seprai dan selimut yang terbuat dari linen atau lyocell.
Pastikan tidak terlalu banyak selimut di tempat tidur si Kecil. Dan untuk bayi di bawah usia 1 tahun, hindari selimut, bantal, dan boneka sama sekali.
2. Atur suhu ruangan
Atur suhu kamar si Kecil ke suhu tidur ideal. Jaga suhu kamar sekitar 24–26°C agar si Kecil tetap nyaman dalam tidurnya.
3. Pastikan anak cukup minum
Anak yang terhidrasi dengan baik, tidak akan mengalami keringat berlebih saat tidur. Karena berkeringat saat tidur menjadi salah satu respons alami tubuh terhadap sesuatu yang dialaminya, salah satunya dehidrasi.
Mums, sebagian besar anak yang berkeringat saat tidur tidak mengalami penyakit serius. Hal ini sering berkaitan dengan fase tidur REM, suhu lingkungan, maupun sistem pengaturan suhu tubuh yang belum matang pada bayi.
Namun, bila keringat sangat berlebihan, terjadi hampir setiap malam, atau disertai gejala lain seperti ngorok, demam, berat badan turun, atau sesak napas, sebaiknya diperiksakan ke dokter anak untuk evaluasi lebih lanjut.
Referensi :
1. Journal of Physiological Anthropology. 2024. How staying in a gymnasium affects sleep and bed climate in children.
2. Frontiers in Neurology. 2024. A narrative review on obstructive sleep apnoea syndrome in paediatric population.


