Hampir sebagian besar orang tua saat marah, lelah atau frustrasi, mungkin pernah mengucapkan kata-kata jelek untuk anak. Labeling dengan menyebut “Anak bodoh,” Anak nakal,” dan kata-kata jelek lainnya yang menyudutkan anak.
Memang sekadar omongan sambil lalu atau ketika emosi memuncak, dan besoknya orang tua sudah lupa. Namun tidak untuk anak. Kata-kata jelek untuk anak, bisa jadi akan terekam kuat dalam memorinya dan menggoreskan luka di hatinya..
Kata-kata Jelek untuk Anak yang Mesti Dihindari
Mums, hindari kata-kata jelek atau negatif berikut ini :
1. Label anak nakal
"kamu nakal banget, sih?" adalah kata terlarang. Label seperti “nakal” dapat membuat anak merasa dirinya buruk sebagai pribadi, bukan hanya perilakunya yang salah. Lebih baik katakan, “Perilaku itu tidak baik” atau “Mama tidak suka kalau kamu memukul.” Fokus pada perilakunya, bukan identitas pribadi anak.
2. Menjatuhkan mental
Misalnya, "GItu aja nggak bisa, bodoh banget kamu!" Kalimat menohok ini bisa serta merta merusak rasa percaya diri dan membuat anak takut mencoba hal baru. Lebih baik, katakan, “Yuk coba lagi pelan-pelan,” atau “Tidak apa-apa kalau belum bisa, belajar lagi yuk.”
Mums, dalam segala hal anak membutuhkan dukungan saat belajar, bukan hinaan, apalagi labelling negatif yang membuatnya semakin tersudut.
3. Membandingkan dengan anak lain
Kerap orang tua melontarkan kalimat ke anak "Temanmu saja bisa, kenapa kamu enggak bisa?" Setiap anak itu unik, mereka terlahir dengan kemampuan dan potensi masing-masing. Bisa jadi dia tidak cakap di bidang A, namun pandai di bidang B. Jadi tidak ada alasan untuk membandingkan satu anak dengan anak lainnya, termasuk antar kakak beradik.
4. Ungkapan kekecewaan
Mengungkapkan kekecewaan terhadap tindakan atau prestasi anak dapat menjadi pukulan berat bagi harga dirinya. Misalnya: "Mama keceewa sama kamu." Hal itu dapat membuat mereka merasa tidak dicintai dan tidak berharga. Padahal anak perlu penerimaan dan validasi dari orang tua terhadap eksistensinya.
5. Meremehkan perasaan anak
Mengancam danak untuk tidak mengekspresikan emosinya merupakan kesalahan. Misalnya, "Bisa diam nggak? Nggak usah nangis!" Kalimat ini seolah meremehkan perasaannya. Selain menciptakan rasa takut dan kecemasan. Hal ini mengajarkan anak untuk menekan emosinya. Konsekuensinya berpengaruh pada regulasi emosi dan kesehatan mental anak. Padahal anak perlu mengekspresikan emosinya tanpa takut dihukum atau dilarang.
Bantu anak mengidentifikasi dan mengekspresikan emosinya dengan cara yang sehat. Dorong anak untuk membicarakan perasaannya dan beri ruang aman bagi mereka untuk menyalurkan emosinya, misalnya dalam bentuk menangis.
6. Malu dengan kondisi anak
Bayangkan saat orang tua mengatakan "Bunda menyesal punya anak kamu, bikin malu". Tidak terkira luka emosional dari kalimat menyakitkan yang satu ini. Karena anak merasa keberadaannya ditolak oleh orang yang paling dekat dengannya. Anak merasa tidak dicintai. Jika lelah dalam mengasuh anak, carilah dukungan dari teman, keluarga, atau komunitas, bukan menyesali keberadaan anak itu sendiri
7. Mengancam ”Kalau nakal, Mamah tinggal ya”
Kalimat mengancam seperti "Kalau nakal, mamah tinggal ya!" akan bikin anak merasa tidak aman dan takut sewaktu-waktu ditinggalkan. Meski kalimat ini sering dianggap bercanda, namun bagi anak hal ini bisa dianggap sebagai sesuatu yang serius. Apalagi diucapkan berulang kali, yang akan tertanam dalam alam bawah sadarnya.
8. Stereotip anak laki-laki dan perempuan
“Anak laki-laki jangan cengeng” atau “Anak perempuan harus nurut”
Kalimat labelling seperti ini membentuk stereotip yang tidak sehat sebab membatasi perkembangan emosional anak dalam mengekspresikan dapat membatasi perkembangan emosional anak dan membentuk stereotip gender yang tidak sehaseperti ini dapat membatasi perkembangan emosional anak dan membentuk stereotip gender yang tidak sehat.
Dampak buruk kata-kata jelek untuk anak
Bagi anak, sosok orang tua, guru, maupun orang dewasa lainnya adalah sumber referensi utama validasi, rasa aman dan penerimaan dirinya. Apa yang dikatakan orang tua sering dianggap sebagai “kebenaran” oleh anak, terutama pada usia dini.
Sehingga ketika anak terus menerus mendengar kata-kata jelek atau negatif, otaknya merekam pesan tersebut sebagai identitas diri. Lama-kelamaan anak mulai percaya dengan berbagai labelling jelek yang disematkan padanya, bahkan sepanjang hidupnya.
Studi dalam Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health (2024) menemukan bahwa pola pengasuhan yang keras, termasuk kata-kata kasar, kritik berlebihan, dan komunikasi negatif dari orang tua, berhubungan dengan meningkatnya gejala kecemasan pada remaja. Penelitian ini menunjukkan bahwa cara orang tua berbicara dapat memengaruhi kesehatan mental anak dalam jangka panjang
Mums, berikut ini dampak kata-kata buruk pada anak :
1. Kepercayaan diri rendah
Labeling negatif membuat anak ‘meng-amini” kata-kata yang buruk itu. Dan hal ini perlahan membuat kepercayaan dirinya turun. Karena dia percaya bahwa dirinya memang nakal, bodoh, merepotkan, tidak mampu, dan label buruk lainnya.
2. Tidak mau mencoba
Anak yang sudah dicap tidak bisa atau tidak mampu, maka tidak ada kemauan atau motivasi untuk melakukan sesuatu termasuk hal-hal baru yang belum pernah dilakukannya.
3. Mudah cemas dan overthinking
Bagi anak-anak, kata-kata buruk itu membuatnya takut, cemas, dan overthinking. Takut melakukan kesalahan, takut dipermalukan, takut gagal, dan ketakutan-ketakutan lainnya yang bikin anak enggan melakukan sesuatu. Atau jadi berpikir terlalu jauh, mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
4. Sulit mengekspresikan emosi
Anak yang dibatasi atau dilarang untuk menangis, mengekspresikan emosinya, lama-kelamaan tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan atau meregulasi emosinya sendiri. Ia memilih memendam perasaan karena takut dimarahi.
5. Luka batin
Kata-kata yang menohok, bisa jadi sangat membekas dan membuat luka batin yang tidak pernah bisa disembuhkan. Jika ini yang terjadi, maka anak mengalami trauma yang akan dibawanya hingga dewasa.
Mums, itulah dampak buruk sepanjang hidup yang bisa dirasakan pada anak akibat kata-kata buruk yang diterimanya di masa kecil. Yuk, pilih kata yang tepat, suportif, dan mengandung energi baik untuk si Kecil, sekarang dan masa depannya.
Referensi :
Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health. 2024. Maternal and paternal harsh parenting and anxiety symptoms in Chinese adolescents: examining a multiple mediation model.


