Ketika anak-anak sulit makan, jamu biasanya jadi senjata pamungkas para Mums untuk menambah nafsu makan si Kecil. Selain mudah didapat, jamu untuk anak tersedia dalam berbagai pilihan rasa yang mudah diterima oleh lidah si Kecil.
Jamu merupakan ramuan tradisional yang dibuat dari tanaman obat seperti kunyit, jahe, kencur, temulawak, hingga daun-daunan tertentu. Kementerian Kesehatan RI memperbolehkan penggunaan jamu, selama produk tersebut sudah teruji dan diproses secara higienis. Bahkan Kemenkes mendukung Gerakan Nasional Bugar dengan Jamu (Gernas Bude Jamu) dengan melakukan kegiatan minum jamu bersama sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat.
Melalui Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja), ditemukan lebih dari 33.000 ramuan tradisional dari 2.800 spesies tanaman obat yang digunakan masyarakat. Selain itu, telah dihasilkan 12 formula jamu yang teruji klinis, misalnya untuk asam urat, tekanan darah tinggi, radang sendi, kolesterol, gangguan lambung, batu saluran kencing, diabetes, penurun berat badan, dan pelancar ASI.
Berbagai jenis jamu dan manfaatnya
Setiap bahan herbal yang digunakan sebagai jamu tradisional, memiliki khasiat yang sudah terbukti digunakan secara turun temurun. Dengan sejarah yang panjang dan tradisi yang mengakar kuat, ada sejumlah bahan utama jamu dengan berbagai khasiatnya, seperti :
1. Kunyit
Mengandung kurkumin yang memiliki berbagai khasiat seperti mmeredakan peradangan, mengatasi nyeri, memperbaiki metabolisme, juga menjaga sistem pencernaan. Namun ingat ya Mums, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan diare atau iritasi kulit.
2. Jahe
Dikenal sebagai penghangat tubuh, jahe sangat bermanfaat untuk mengatasi mual (termasuk pada ibu hamil), mengurangi radang sendi, mengatasi perut kembung, juga mengurangi nyeri haid. diare dan perut mules tak karuan biasanya disebabkan oleh konsumsi jahe berlebihan.
3. Kencur
Bahan herbal yang satu ini berfungsi sebagai anti-infeksi, anti inflamasi atau peradangan, meningkatkan kesuburan pria, hingga membantu mengatasi beberapa jenis kanker.
4. Temulawak
Sangat populer karena manfaatnya yang luas, seperti meningkatkan nafsu makan anak, melancarkan peredaran darah, menyehatkan liver, dan bersifat antibakteri, antiradang, juga antioksidan.
Jamu untuk anak, boleh asal aman
Walaupun khasiatnya sangat besar dan bisa diterima oleh semua kalangan, mengonsumsi jamu mesti bijak, tidak berlebihan, maupun menyalahi aturan. Berikut ini syarat yang mesti dipenuhi dalam memberikan jamu untuk anak :
1. Usia
Jamu untuk anak tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 6 bulan. Bayi usia in hanya boleh mengonsumsi ASU atau susu formula.
2. Usia 6 bulan dengan syarat
Jamu untuk anak boleh dimulai saat menginjak usia 6 bulan dengan syarat tertentu. Di antaranya harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu, terutama jika ada riwayat alergi untuk anak yang sedang mengonsumsi obat tertentu.
3. Dosis sesuai usia
Mums, pastikan mengonsumsi jamu untuk anak dosisnya disesuaikan dengan usia anak tersebut. anak < 12 tahun, sebanyak 75 ml/hari. Dan balita sekitar 35 ml/hari.
4. Aturan keamanan berdasarkan jenis bahan
Selain dosis, jamu untuk anak juga mesti memperhatikan keamanan berdasarkan jenis bahan yang digunakan. Seperti jahe tidak dianjurkan untuk anak <6 tahun. Karena terlalu pedas dan bisa mengganggu lambung.
Kunyit tidak untuk anak <12 tahun karena bisa menghambat penyerapan zat besi. Kabar baiknya, kencur dan temulawak relatif aman dan terbukti secara ilmiah-walaupun masih terbatas, dan tetap hati-hati.
5. Frekuensi aman untuk anak
Jamu untuk anak tidak dianjurkan dikonsumsi setiap hari, maksimal 1x dalam sebulan agar tidak membebani liver dan ginjal si Kecil.
Tips aman konsumsi jamu untuk anak
Jamu untuk anak tidak selalu mesti beli produk yang sudah jadi, Mums juga bisa membuat jamu untuk anak di rumah dengan cara yang simpel. Berikut ini tips aman mengonsumsi jamu untuk anak :
1. Bahan baku dan prosesnya
Jika membuatnya di rumah pastikan menggunakan bahan segar dan bersih, cuci di bawah air mengalir, rebus dengan panci stainless steel, hindari panci aluminium. Setelah itu simpan di botol kaca yang bersih bukan botol plastik. Pastikan dapur higienis dan bebas hewan maupun sampah.
2. Jamu kemasan
Jika membeli jamu kemasan, pastikan produk jamu tersebut ada izin BPOM, masih tersegel utuh, ada petunjuk dosis anak, dan cek tanggal kedaluarsanya.
3. Pantau reaksinya
Mums, pantau reaksi saat pertama kali anak minum jamu. Adakah ruam atau gatal, mual atau muntah, diare, anak tampak lemas. Jika muncul salah satu atau lebih reaksi tersebut, hentikan jangan dilanjutkan, segera konsultasikan dengan dokter.
Mums, jamu memang berkhasiat namun tetap bijak dalam mengonsumsinya. Jamu untuk anak tidak dilarang. Hanya saja pastikan sesuai dosis, tidak berlebihan, perhatikan usia anak, pilih jamu higienis dan terdaftar BPOM, dan konsultasikan dengan dokter untuk kondisi khusus yang tidak bisa diatasi dengan jamu.
Referensi :
Kemkes. ayo-minum-jamu-ayo-sehat-jamu
Kemkes. amankah-minum-jamu-setiap-hari


