Pada tahap perkembangan tertentu, perilaku anak suka melempar barang memang terbilang normal, namun mesti dihentikan agar tidak jadi kebiasaan buruk. Apalagi jika terjadi cukup sering, berbahaya, atau berlangsung lama.
Menurut penelitian oleh Lockman & Tamis-LeMonda (2021) peneliti perkembangan anak, kebiasaan melempar barang pada bayi dan balita adalah bagian normal dari proses belajar dan tumbuh kembang. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PubMed Central ini menyebutkan bahwa bermain adalah bentuk latihan (play as practice). Saat anak melempar benda, ia sebenarnya sedang berlatih banyak kemampuan sekaligus.
Penyebab anak suka melempar barang
Kebiasaan si Kecil yang satu ini tentu tidak terjadi tiba-tiba. Ada latar belakang yang mendasarinya. Berikut ini beberapa penyebab umum yang memicu kebiasaan anak suka melempar barang :
1. Belum bisa mengungkapkan perasaan secara verbal
Karena belum bisa berbicara dengan benar, balita sering memakai tindakan, termasuk melempar untuk mengekspresikan marah, frustrasi, bosan, atau butuh perhatian karena kosakata emosional mereka masih minim.
2. Kurang keterampilan mengatur emosi
Self regulation atau kemampuan anak mengatur emosi belum matang, sehingga anak yang belum belajar menahan dorongan fisik akan lebih mudah melempar ketika emosi memuncak.
3. Mencari perhatian
Mums, anak suka melempar barang bukan karena ia nakal, bisa jadi ini cara dia mencari perhatian. Jika reaksi orang tua (tertawa, marah, memarahi, atau langsung menengok) memberi perhatian besar, perilaku itu bisa terkuatkan.
4. Penguatan tak sengaja
Bila melempar membuat anak mendapat apa yang diinginkan, misalnya orang lain memberi mainan baru, perilaku itu belajar efektif .
5. Kebutuhan sensorik
Beberapa anak (termasuk yang memiliki masalah pemrosesan sensorik) suka pengalaman fisik saat melempar sebagai stimulasi tubuh.
6. Rasa sakit atau gangguan fisik
Kadang anak melempar karena terganggu (lapar, capek, sakit gigi). Observasi konteks sangat penting.
7. Keterlambatan berbicara atau kondisi perkembangan
Penelitian menunjukkan anak yang dengan keterlambatan bahasa cenderung mengalami tantrum dan ekspresi agresif karena kesulitan berkomunikasi. Jika sering dan parah, perlu intervensi oleh ahli perkembangan.
Kapan perhatian khusus?
Jika anak suka melempar barang terjadi hanya sesekali saja, dan akan hilang seiring bertambahnya usia, maka hal itu tidaklah mengkhawatirkan. Karena sesuatu yang wajar dalam proses perkembangannya.
Namun jika perilaku anak suka melempar barang sudah pada tahap atau salah satu kondisi berikut ini, Mums perlu mencari bantuan tenaga professional untuk mengatasinya :
Perilaku melempar terjadi sangat sering (setiap hari) dan tidak membaik setelah upaya konsisten.
Anak melukai diri sendiri atau anak lain, maupun merusak barang berbahaya.
Disertai keterlambatan bicara, kurang respons sosial, atau tanda lain yang mengarah ke autisme, ADHD, maupun gangguan sensorik lainnya.
Orang tua merasa kewalahan atau perilaku mengganggu fungsi belajar maupun interaksinya dengan keluarga dan orang lain.
Cara menghadapi anak suka melempar barang
Kebiasaan ini harus dihentikan secara bertahan agar tidak menetap dan jadi perilaku buruk yang terbawa hingga ia tumbuh menjadi remaja bahkan dewasa. Berikut pendekatan yang direkomendasikan oleh para ahli dalam mengatasi anak suka melempar barang :
1. Siapkan lingkungan yang aman
Singkirkan barang pecah belah atau benda berbahaya dari jangkauan si Kecil. Sediakan mainan yang boleh dilempar (bola lunak, bantal kecil). Mengalihkan energi ke objek yang aman membantu anak mempelajari batas.
2. Awasi tanda-tanda “mendidih” dan intervensi dini
Pelajari tanda sebelum melempar, misalnya napas cepat, ekspresi wajah, tangan mengepal. Jika muncul tanda-tanda itu segera alihkan perhatian, ajak aktivitas lain, tawarkan mainan pengganti, atau ajak jalan singkat.
3. Ajarkan dan latih kosakata emosi
Ajarkan kata-kata sederhana: “marah”, “sedih”, “capek”, “aku butuh bantuan”. Latih melalui permainan dan contoh: “Kapan kamu marah, katakan 'Aku marah'—bukan melempar.” Menambah kosakata akan mengurangi frustasi karena si Kecil tidak bisa mengungkapkan.
4. Beri perhatian positif saat anak tidak melempar
Berikan pujian ketika anak tidak melempar barang dan mampu mengendalikan emosinya. Pelukan hangat atau berikan stiker lucu akan lebih efektif ketimbang menghukumnya. Hindari hukuman fisik atau teriakan tinggi yang hanya akan memperburuk emosi anak.
5. Konsistensi antar pengasuh
Semua pengasuh, baik orang tua, nenek, harus menerapkan aturan dan respons yang sama agar pesan tidak membingungkan anak. Pastikan cukup tidur, makan teratur, dan aktivitas fisik. Anak lebih mudah melempar saat lelah atau lapar.
Mums, anak suka melempar barang merupakan bagian dari perkembangan. Ini adalah cara mengekspresikan emosi dan bereksperimen dengan dunia. Namun dengan pendekatan yang tepat, sebagian besar anak akan berhenti melempar secara berlebihan. Jika perilaku terus berlanjut atau ada tanda keterlambatan perkembangan, konsultasikan ke dokter anak atau psikolog perkembangan untuk evaluasi lebih lanjut.
Referensi :
PubMed. 2021. Young Children’s Interactions with Objects: Play as Practice and Practice as Play


