Anak Remaja Suka Bicara Sendiri, Normalkah?

Dipublish: Minggu, 7 Juni 2026 12:15 WIB

Diperbarui: Minggu, 7 Juni 2026 12:16 WIB

Anak remaja bicara sendiri saat belajar
Ella Nurlaila

Ella Nurlaila

Bagikan :

Kelakuan tak biasa anak remaja yang sering bicara sendiri memang memancing kekhawatiran siapa pun yang melihatnya. Banyak orang mengira anak remaja 


Ada yang mengira anak remaja sering bicara sendiri sebagai sesuatu yang tidak normal atau gangguan mental dalam kehidupannya. Ada pula pendapat sebaliknya yang menganggap hal itu sebagai hal biasa. 


Alih-alih terbawa arus yang tidak tepat, lebih baik cari tahu dulu fenomena ini dari sudut pandang ilmiah dan rasionalitas dengan membaca artikel ini.


Apakah remaja suka bicara sendiri normal?

Pada masa remaja, otak sedang berkembang sangat pesat, terutama bagian yang berhubungan dengan emosi, identitas diri, kemampuan berpikir, dan pengendalian diri. Karena itu, remaja sering memproses pikiran mereka dengan cara unik, termasuk berbicara sendiri.


Remaja sering menggunakan dialog internal untuk memahami emosi dan identitas diri. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dimuat dalam jurnal European Child & Adolescent Psychiatry (2024) yang menunjukkan bahwa remaja memiliki kebutuhan besar untuk mengekspresikan pikiran dan emosi mereka sebagai bagian dari perkembangan identitas dan kesehatan mental. Dialog internal atau self-engagement menjadi bagian penting dalam proses tersebut. 


Meskipun orang sering mengaitkan self-talk dengan masalah kesehatan mental, para profesional kesehatan menganggapnya normal di segala usia dan bahkan bermanfaat dalam beberapa keadaan.


Penyebab remaja suka bicara sendiri

Ada berbagai alasan yang menyebabkan anak remaja sering bicara sendiri, di antaranya: 


1. Sedang pemproses pikiran dan emosi

Masa remaja adalah fase penuh perubahan emosional. Mereka mulai menghadapi tekanan sekolah, pertemanan, pencarian jati diri, hingga perubahan hormon. Berbicara sendiri kadang jadi cara alami remaja untuk meluapkan emosi, memahami perasaan, atau menenangkan pikiran.


2. Membantu fokus dan konsentrasi

Sebagian remaja menggunakan self-talk untuk membantu diri mereka agar tetap fokus. Misalnya, ketika belajar, ia sering melafalkan materi pelajaran agar membantu otak mengatur langkah-langkah yang harus dilakukan. Misalnya saat belajar matematika, menyusun tugas, bermain musik, atau berolahraga. 


3. Memiliki imajinasi yang aktif

Remaja sering memiliki dunia imajinasi yang kuat. Mereka bisa membayangkan percakapan, membuat skenario, atau mengulang kejadian di kepalanya. Inilah yang kadang membuat remaja sering bicara sendiri. Terutama pada remaja yang kreatif, introvert, hobi membaca, suka menulis, atau sering menghabiskan waktu sendiri. 


4. Sedang mengelola stres atau kecemasan 

Saat stres atau cemas, sebagian remaja tanpa sadar berbicara sendiri untuk menenangkan diri. Dengan mengatakan, “Tenang, semuanya akan baik-baik saja.”  Hal ini menjadi cara efektif dalam mengatasi tekanan emosional. 


5. Kebiasaan dari masa kecil

Beberapa anak memang terbiasa berbicara sendiri sejak kecil, lalu kebiasaan itu berlanjut hingga remaja. Selama tidak mengganggu kehidupan sosial maupun akademik, kondisi ini biasanya tidak masalah.


Cara menyikapi remaja yang suka bicara sendiri

Mums, ketika mendapati anak remaja sering bicara sendiri, sebaiknya tidak langsung panik berlebihan, apalagi memarahi anak. Lakukan pendekatan yang tepat dengan cara: 


1. Jangan langsung menghakimi

Hindari mengatakan: “Kamu aneh!” “Ngapain ngomong sendiri?”

Atau ucapan lain yang menghakimi tanpa bertanya lebih jauh tentang maksud dan tujuan remaja yang bicara sendiri. Menghakimi hanya membuat anak menjadi malu, menarik diri, atau enggan terbuka kepada orang tua. 


2. Amati polanya

Jika sering melihat remaja bicara sendiri, perhatikan polanya, kapan anak berbicara sendiri, seberapa sering, apakah masih bisa beraktivitas normal, juga perhatikan bagaimana kondisi emosinya secara umum. Jika hanya sesekali dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari, biasanya masih normal.


3. Komunikasi terbuka 

Bangun komunikasi terbuka yang hangat dengan anak. Ajak si Remaja berbicara tanpa menginterogasi, apalagi menghakimi. Remaja lebih mudah terbuka ketika merasa tidak dihakimi.


4. Bantu mengelola stres

Salah satu penyebab remaja sering bicara sendiri adalah faktor stres atau kecemasan. Karena itu, bantu remaja dalam mengelola stres dan cemas yang dialami. Dorong ia melakukan cara yang sehat untuk mengelola stres dengan cara positif seperti olahraga, menulis jurnal, menggambar, mendengarkan musik, atau bercerita kepada orang yang dipercaya. 


5. Kurangi tekanan berlebihan

Terkadang remaja berbicara sendiri lebih sering ketika sedang tertekan secara emosional atau akademik. Mums dapat membantunya dengan menciptakan suasana rumah yang lebih nyaman dan suportif.


Kapan harus waspada?

Walaupun anak remaja sering bicara sendiri masih terbilang cukup normal, ada beberapa kondisi yang mesti diwaspadai. Mums perlu waspada jika:

  • frekuensinya sangat sering dan intens

  • tampak seperti merespons suara yang tidak ada

  • tertawa atau marah sendiri tanpa sebab jelas

  • mengalami perubahan perilaku drastis

  • menarik diri dari lingkungan sosial

  • sulit membedakan kenyataan dan imajinasi

  • prestasi sekolah menurun tajam

  • mengalami gangguan tidur berat

  • menunjukkan tanda depresi dan kecemasan berat

  • perilaku tersebut disertai halusinasi, ketakutan berlebihan, atau perilaku agresif


Apabila remaja bicara sendiri disertai dengan hal-hal di atas, segera bawa ke profesional untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 


Mums, remaja sering bicara sendiri belum tentu mengalami masalah serius. Dalam banyak kasus, hal ini merupakan bentuk self-talk yang normal untuk membantu mengatur pikiran, emosi, dan fokus.


Orang tua tidak perlu langsung panik, tetapi penting untuk memperhatikan perubahan perilaku yang muncul. Pendekatan yang hangat, komunikasi yang terbuka, dan dukungan emosional dapat membantu remaja merasa lebih nyaman menghadapi masa pertumbuhannya.


Referensi : 

European Child & Adolescent Psychiatry. 2024. Adolescents’ voices on self-engagement in mental health treatment: a scoping review.

Kasih Saran, Yuk!