Payudara bengkak dan nyeri di masa menyusui? Mungkin Mums pernah mengalaminya. Proses menyusui memang tidak selalu mudah bagia sebagian wanita. Masa-masa awal menyusui adalah momen yang indah sekaligus penuh tantangan bagi seorang ibu. Di tengah kebahagiaan merawat si kecil, tidak sedikit ibu menyusui yang tiba-tiba merasakan nyeri hebat pada payudara, disertai tubuh yang mendadak menggigil dan lemas.
Kondisi ini sering kali memicu pertanyaan, apakah ini hanya karena ASI tersumbat atau gejala yang lebih serius lagi yang sering disebut mastitis? Keduanya sering terasa mirip, namun sebenarnya memiliki tanda dan penanganan yang berbeda. Saluran ASI Tersumbat (Clogged Duct) adalah kondisi ketika ASI terperangkap di dalam jaringan payudara akibat aliran yang tidak lancar (stasis ASI), namun belum disertai peradangan hebat atau infeksi bakteri sekunder.
Sedangkan mastitis adalah kondisi inflamasi atau peradangan pada jaringan payudara. Hal ini bisa dipicu oleh bendungan ASI yang berkepanjangan (mastitis non-infeksi) maupun akibat masuknya bakteri melalui celah atau luka pada puting payudara (mastitis infeksi).
Penting bagi ibu menyusui untuk mengenali perbedaannya agar keluhan dapat ditangani dengan tepat sejak awal. Artikel ini akan membahas lebih lengkap perbedaan gejala keduanya.
Perbedaan Mastitis dan ASI Tersumbat
Menurut dr. Natalia Maria Christina, Sp. B, Dokter Spesialis Bedah Umum di Bethsaida Hospital Gading Serpong, keluhan nyeri atau bengkak pada payudara saat menyusui tidak boleh langsung dianggap sepele. “Ibu perlu memperhatikan apakah keluhan hanya terasa di satu area payudara, atau sudah disertai demam, menggigil, dan rasa tidak enak badan. Gejala sistemik seperti ini dapat mengarah ke mastitis dan perlu pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.
Secara klinis, saluran ASI tersumbat dan mastitis berada dalam satu spektrum masalah menyusui yang berkesinambungan. Dimana mastitis selalu diawali dengan terjadinya saluran ASI yang tersumbat. Berikut perbedaannya:
Saluran ASI Tersumbat (Clogged Duct): Kondisi ketika ASI terperangkap di dalam jaringan payudara akibat aliran yang tidak lancar (stasis ASI), namun belum disertai peradangan hebat atau infeksi bakteri sekunder.
Mastitis: Kondisi inflamasi atau peradangan pada jaringan payudara. Hal ini bisa dipicu oleh bendungan ASI yang berkepanjangan (mastitis non-infeksi) maupun akibat masuknya bakteri melalui celah atau luka pada puting payudara (mastitis infeksi).
Pertolongan Pertama Saat Payudara Bengkak dan Nyeri
Penanganan yang cepat dan tepat sangat krusial agar saluran ASI yang tersumbat tidak memburuk menjadi mastitis, atau agar mastitis tidak berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat seperti abses (penumpukan nanah) pada payudara. Berikut adalah langkah-langkah penanganan yang dianjurkan:
1. Tetap menyusui
Jangan hentikan proses menyusui pada payudara yang sakit. Pengosongan payudara secara berkala adalah kunci utama melancarkan kembali aliran ASI. Susui bayi sesering mungkin, dimulai dari sisi payudara yang bermasalah.
2. Kompres hangat dan dingin
Gunakan kompres hangat beberapa menit sebelum menyusui atau memerah untuk membantu memicu let-down reflex dan melancarkan aliran ASI. Setelah menyusui, gunakan kompres dingin untuk membantu meredakan rasa nyeri dan mengurangi bengkak.
3. Pijatan lembut (Gentle Massage)
Lakukan pijatan sangat lembut dari arah pangkal payudara menuju puting saat menyusui atau mandi air hangat. Hindari pijatan yang terlalu keras atau kasar karena dapat memicu peradangan yang lebih parah pada jaringan payudara.
“Kekeliruan yang sering terjadi adalah memijat payudara yang bengkak dengan keras demi menghancurkan sumbatan. Secara klinis, tindakan ini berbahaya karena dapat merobek jaringan internal payudara yang meradang, sehingga infeksi justru meluas. Pijatan harus dilakukan dengan sangat lembut, seperti usapan,” ungkap dr. Natalia.
4. Perbaiki posisi dan perlekatan (latch-on)
Pastikan mulut bayi melekat dengan benar pada payudara untuk memastikan pengosongan ASI yang optimal dan mencegah lecet pada puting yang bisa menjadi jalan masuk bakteri.
5. Istirahat dan hidrasi yang cukup
Tubuh yang lelah dapat menurunkan daya tahan tubuh ibu, sehingga mempercepat perkembangan infeksi. Ibu menyusui membutuhkan istirahat ekstra dan asupan cairan yang cukup.
Kapan Harus Dilakukan Penanganan Medis?
Jika dalam waktu 24–48 jam keluhan saluran tersumbat tidak membaik, atau jika gejala mengarah pada mastitis (terdapat demam tinggi, kemerahan yang meluas, dan tubuh menggigil), maka penanganan medis oleh dokter diperlukan. Beberapa penanganan yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Obat pereda nyeri dan radang
Biasanya dokter akan meresepkan obat antiinflamasi dan analgetik yang aman untuk ibu menyusui guna mengurangi nyeri hebat dan bengkak.
2. Terapi antibiotik
Jika terdiagnosis sebagai mastitis infeksi, dokter akan memberikan antibiotik spesifik yang aman untuk ibu menyusui. Obat ini harus dikonsumsi sampai habis sesuai instruksi untuk memastikan bakteri mati sepenuhnya.
3. Evaluasi klinis mendalam
Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan tidak adanya komplikasi serius. “Jangan remehkan demam tinggi serta payudara yang mengeras dan memerah saat menyusui. Mastitis yang tidak cepat ditangani bisa berkembang menjadi abses atau kantung nanah di dalam payudara. Jika sudah sampai tahap abses, penanganannya tidak cukup dengan obat-obatan, melainkan harus melalui tindakan pembedahan kecil atau drainase untuk mengeluarkan nanah tersebut,” tambah dr. Natalia.
Bagi para ibu yang mengalami kendala medis selama masa menyusui, mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan yang tepat, aman, dan responsif sangatlah penting untuk mendukung keberlanjutan proses mengASIhi.
Ternyata untuk mengatasi mastitis bisa ke klinik bedah umum. Tujuannya tentu bukan untuk dilakukan pembedahan. Di Klinik Bedah Umumi Bethsaida Hospital Gading Serpong, misalnya, ada layanan untuk mendampingi setiap ibu melalui masa-masa menyusui yang menantang. Didukung oleh tim dokter spesialis berpengalaman dan fasilitas klinis modern, bersih, dan higienis, setiap keluhan seputar payudara dapat dievaluasi dengan akurat. Layanan klinik mencakup pemeriksaan komprehensif, penanganan saluran ASI tersumbat, manajemen mastitis, dan bila diperlukan, prosedur lanjutan untuk mencegah komplikasi.
“Di Bethsaida, kami selalu memastikan setiap ibu merasa nyaman, aman, dan didukung sepenuhnya selama proses perawatan. Tim Women’s Health Center kami siap memberikan evaluasi tepat, edukasi, dan dukungan medis yang hangat, sehingga ibu dapat melanjutkan menyusui dengan percaya diri,” tutup dr. Margareth Aryani Santoso, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong.


