Memasuki tahun ajaran baru, Mums dan Dads pasti sibuk dengan berbagai persiapan. Mulai seragam, perlengkapan sekolah, hingga bagaimana agar si Kecil bisa mandiri di sekolah barunya. Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk masuk dalam daftar persiapan orang tua, yaitu vaksin.
Banyak penyakit menular yang ditularkan di sekolah! Selain influenza atau batuk pilek, salah satu penyakit berbahaya yang mengintai di sekolah adalah dengue, atau demam berdarah dengue (DBD).
Anak-anak sekolah ternyata paling rentan tertular dengue. Data Kementerian Kesehatan periode 2018–2025 menunjukkan bahwa kelompok usia 5–14 tahun menempati peringkat pertama kematian akibat dengue dibandingkan kelompok usia lainnya.
Bagaimana cara melindungi anak sekolah dari penularan dengue?
DBD Sering Ditularkan di Lingkungan Sekolah
dr. Ikhsanuddin Qothi, dokter sekaligus kreator konten, menjelaskan bahwa masih banyak keluarga yang menganggap DBD hanya perlu diwaspadai saat musim hujan. Faktanya, DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat.
Pada musim kemarau seperti saat ini, tempat-tempat yang dapat menampung air tetap berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak jika tidak ditutup, dikuras, atau dibersihkan secara rutin.
“Nyamuk Aedes aegypti aktif terutama pada pagi dan sore hari. Ini berarti risiko gigitan dapat mengikuti anak selama beraktivitas, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitar. Dengue juga tidak selalu terlihat. Risiko yang dapat muncul tanpa disadari ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan ketika anak kembali ke sekolah dan menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah, termasuk mengikuti kegiatan belajar, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan menunggu perjalanan pulang,” jelas dr. Ikhsanuddin.
DBD disebabkan oleh virus yang terdiri atas empat serotipe, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Virus tersebut dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, terutama Aedes aegypti. dr. Ikhsan juga mengingatkan bahwa pernah terkena DBD tidak membuat seseorang kebal terhadap seluruh serotipe virus dengue.
“Setelah terinfeksi salah satu serotipe, seseorang masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe yang berbeda. Infeksi berikutnya dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat,” jelasnya.
DBD menganggu aktivitas belajar
Selain berdampak pada kondisi fisik, DBD dapat mengganggu kegiatan belajar dan aktivitas harian anak. “Anak yang terkena DBD dapat absen dari sekolah dan tertinggal pelajaran. Demam, nyeri tubuh, mual, muntah, dan kelelahan dapat membuat anak kesulitan menjalani aktivitas seperti biasa. Bahkan setelah dinyatakan pulih, sebagian pasien masih dapat mengalami kelelahan selama beberapa minggu. Jadi, ketika anak sudah kembali duduk di kelas, belum tentu kondisi fisiknya telah sepenuhnya kembali seperti semula,” jelas dr. Ikhsan.
Melihat risiko dengue yang dapat muncul di berbagai tempat, dr. Ikhsan menekankan pentingnya menerapkan pencegahan secara menyeluruh. Pencegahan tidak cukup dilakukan hanya di rumah, tetapi juga perlu diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah.
Sekolah dapat berperan dengan memastikan tidak ada wadah atau area yang menjadi tempat genangan air, melakukan pemantauan jentik secara berkala, serta mendorong siswa dan seluruh warga sekolah untuk berpartisipasi aktif dalam penerapan 3M Plus.
Selain itu, vaksinasi juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dengue. Vaksin dengue telah masuk dalam rekomendasi imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak dan rekomendasi imunisasi dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).
“Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah anak dan anggota keluarga lainnya telah memenuhi kriteria untuk mendapatkan vaksinasi dengue. Pencegahan yang dilakukan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan dapat membantu memberikan perlindungan yang lebih menyeluruh bagi anggota keluarga yang memenuhi syarat,” tambah dr. Ikhsan.
Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan bahwa perlindungan anak dari DBD membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. “Perlindungan perlu dimulai dari keluarga, dengan orang tua mengambil peran penting dalam membangun kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan secara konsisten, termasuk melakukan 3M Plus secara berkelanjutan dan mempertimbangkan penggunaan metode pencegahan yang inovatif. Namun, tanggung jawab ini tidak dapat dibebankan kepada keluarga saja. Upaya tersebut perlu diperkuat oleh sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak lainnya” tutup Andreas.


