Beragam cara anak mengekspresikan amarahnya. Salah satunya anak suka memukul diri sendiri. Hal ini tentu bikin orang tua stres. Kondisi ini menunjukkan bahwa si Kecil sangat marah dan frustrasi sampai memukul dirinya sendiri.
Dikutip dari penelitian yang dipublikasikan di PubMed (2025), bahwa perilaku melukai diri sendiri adalah fenomena yang umum terjadi di kalangan anak-anak dan remaja, dan kejadiannya meningkat dari waktu ke waktu. Perilaku ini seringkali merupakan mekanisme penanggulangan yang tidak tepat yang disebabkan oleh kesulitan dalam mengatur emosi.
Selain karena ketidakmampuan mengelola emosi dengan baik di masa kanak-kanak, perilaku anak suka menyakiti diri sendiri dipicu oleh beberapa faktor lainnya, salah satunya kesulitan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sebayanya.
Kabar baiknya, seiring bertambahnya usia, perilaku anak suka memukul diri sendiri ini akan hilang dengan sendirinya. Meski demikian, tetap saja orang tua tidak boleh mengabaikannya. Sebab ada kemungkinan problem ini muncul kembali, karena beberapa anak menggunakan perilaku ini sebagai cara pelampiasan yang tidak sehat.
Penyebab Anak Menyakiti Diri Sendiri
Mums, coba amati apakah si kecil ada kecenderungan menyakiti diri sendiri misalnya dengan memukul-mukul kepalanya sediri. Berikut ini penyebab anak suka memukul diri sendiri :
1. Frustrasi
Anak dengan toleransi frustrasi yang rendah, biasanya akan memukul diri sendiri sebagai cara mengekspresikan rasa kesalnya. Bisa jadi tantrum dipicu oleh Mums yang mengatakan “tidak” saat ia menginginkan sesuatu. Atau saat kondisinya terlalu lelah, tidak enak badan, maupun lapar.
2. Rasa sakit
Anak suka memukul diri sendiri juga bisa menjadi sinyal bahwa ia merasakan sakit di area tersebut. Karena belum bisa mengungkapkannya, maka anak memukul area tertentu. Misalnya memukul kepala bagian samping dapat menandaan infeksi telinga. Perhatikan bagian mana yang dipukul, ini cara anak menunjukkan letak rasa sakitnya.
3. Mencari perhatian
Jika anak memukul dirinya sendiri lalu orang tua panik dan langsung menggendongnya. Ini dilakukan sebagai cara mendapatkan perhatian.
4.Regulasi emosi belum berkembang
Pada anak balita prefrontal cortex atau bagian otak yang mengatur emosi belum matang. Akibatnya emosi terasa meledak, sulit menenangkan diri, dan muncul perilaku impulsif seperti memukul diri sendiri.
5. Perkembangan bahasa terlambat
Anak yang belum bisa atau sulit berbicara maka akan kesulitan menyampaikan keinginannya, sehingga lebih mudah frustrasi dan sering meluapkan emosi lewat tindakan fisik.
6. Tanda stres atau perubahan besar
Perubahan seperti pindah rumah, punya adik baru, masuk daycare, perubahan pengasuh, dapat memicu tindaka agresif salah satunya anak suka memukul diri sendiri sebagai respons stres yang dialami akibat perubahan yang terjadi.
Cara mengatasi anak suka menyakiti diri sendiri
Jika Mums tidak mampu mencegahnya, ada bebera cara efektif yang bisa dilakukan untuk mengatasi anak suka memukul diri sendiri. Di antaranya :
1.Ciptakan lingkungan yang aman
Jika anak mencoba menyakiti diri dengan cara lain, misalnya membenturkan kepala ke dinding, segera pindahkan anak atau jauhkan dari benda berbahaya. Sebaiknya berikan benda yang aman untuk dipeluk atau dipegang seperti bantal, boneka, selimut lembut.
2. Berikan bantuan fisik
Mums bisa merangkul si Kecil dari belakang, dalam pelukan lembut untuk menghentikan anak memukul dirinya sendiri. Ini sering kali menenangkan dan membuat anak merasa aman. Tujuannya menciptakan lingkungan aman dan penuh kasih sayang agar anak merasa didampingi.
3. Gunakan kata-kata yang menenangkan
Katakan hal-hal seperti: “Kamu aman,” “Mama/Papa di sini,” “Aku tahu kamu sedang kesal.” Hindari nasihat panjang lebar saat anak tantrum. Fokus utamanya adalah menenangkan dan mengurangi risiko cedera. Setelah anak tenang, barulah ajarkan cara sehat mengekspresikan frustrasi. Misalnya, mengidentifikasi perasaan, menyebutkan emosi misalnya dengan bertanya, “Kamu sedang sangat marah ya?”
4. Jangan pernah membalas dengan memukul
Anak belajar dari contoh. Ketika Mums balas memukul sebagai hukuman, justru mengajarkan bahwa kekerasan adalah solusi dan memukul adalah cara menyelesaikan masalah.
5.Konsultasikan
Segera konsultasikan ke psikolog jika mengalami salah satu dari kondisi berikut ini : sering memukul diri sendiri tanpa sebab yang jelas, perilaku agresif makin parah, ada dugaan trauma atau bullying, anak memiliki keterlambatan bicara, memiliki diagnosis DHD atau autisme.
Mums, anak suka memukul diri sendiri adalah cara mengekspresikan sesuatu yang belum mampu mereka ucapkan. Dengan memastikan lingkungan aman, menenangkan anak, memenuhi kebutuhannya, berikan contoh cara mengungkapkan emosi yang tepat, dan konsisten memberi respons yang tepat, maka anak perlahan akan belajar mengekspresikan perasaannya secara lebih sehat.
Jika perilaku ini terus berlanjut atau semakin parah, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau dokter anak.
Referensi :
Pubmed. 2025. Current Phenomenon of Self-Harm in Children and Adolescents


