Tahukah Mums, lebih dari 80 persen ibu yang baru melahirkan mengalami baby blues syndrome, yaitu kondisi yang terjadi dalam waktu singkat setelah melahirkan. Baby blues syndrome ditandai dengan perasaan sedih, cemas, stres, dan perubahan suasana hati.
Kondisi baby blues ini umumnya muncul dalam beberapa hari setelah melahirkan. Namun, bila Mums mengalami proses persalinan yang sangat berat, bukan tidak mungkin baby blues akan muncul lebih cepat.
Pengertian Baby Blues
Menurut American College of Obstetry and Gynecology (ACOG 2024) baby blues biasanya muncul sekitar 2-3 hari setelah melahirkan dan dapat berlangsung beberapa hari hingga sekitar 1-2 minggu. Kabar baiknya, baby blues umumnya akan hilang dengan sendirinya tak lama setelah melahirkan, biasanya dalam waktu 10 hari. Namun, terkadang bisa berlangsung hingga 14 hari pascamelahirkan.
Meskipun dokter tidak dapat memastikan penyebab pastinya, waktu kemunculannya memberikan banyak petunjuk. Setelah melahirkan, tubuh seorang ibu akan mengalami fluktuasi hormon yang ekstrem untuk membantu pemulihan dan perawatan bayi, seperti mengecilkan rahim kembali ke ukuran normal dan merangsang produksi ASI.
Perubahan hormon inilah yang dapat memengaruhi kondisi mental ibu pascamelahirkan. Selain itu, kemungkinan penyebab baby blues adalah kondisi kurang tidur karena harus menyusui dan mesti beradaptasi dengan perubahan besar dalam rutinitas serta gaya hidup setelah melahirkan. Semua faktor inilah yang bermuara menjadi baby blues.
Baby blues berbeda dengan depresi pascamelahirkan atau postpartum depression. Letak perbedaan baby blues dengan depresi pascamelahirkan terletak pada indikator utama, yaitu jika baby blues bisa hilang dengan sendirinya maksimal 2 minggu setelah melahirkan, maka depresi pascamelahirkan berlangsung lebih lama dan perlu konsultasi dengan tenaga medis.
Jika Mums masih merasa sedih, cemas, atau kewalahan setelah dua minggu pascamelahirkan, bisa jadi yang dialami bukan sekadar baby blues, melainkan depresi pascamelahirkan.
Ciri-ciri Baby Blues
Kondisi baby blues yang terjadi pascamelahirkan biasaya ditandai dengan ciri-ciri berikut ini:
Mudah menangis atau menangis tanpa alasan jelas akibat hal-hal sepele.
Mengalami perubahan suasana hati atau menjadi sangat mudah marah.
Merasa tidak memiliki ikatan batin dengan bayi yang baru saja dilahirkan.
Merindukan kehidupan sebelumnya, seperti kebebasan untuk pergi keluar bersama teman-teman,
Merasa khawatir atau cemas mengenai kesehatan dan keselamatan bayi.
Merasa gelisah atau mengalami insomnia, meskipun sangat lelah dan butuh istirahat.
Mengalami kesulitan mengambil keputusan sederhana atau berpikir jernih.
Merasa lelah dan kurang percaya diri sebagai seorang ibu.
Cara Mengatasi Baby Blues
Kondisi setelah melahirkan memang tidak mudah. Bagi sebagian orang, perjuangan ini berupa perjuangan fisik maupun mental. Itu sebabnya risiko baby blues cukup besar.
Karena itu, penting untuk memperhatikan kebutuhan fisik dan mental, serta pentingnya merawat diri sendiri sebaik mungkin. Hal ini agar proses kehamilan dan melahirkan dapat dilalui secara maksimal dan terhindar dari risiko baby blues.
Systematic review tentang intervensi baby blues yang dimuat dalam African Journal of Reproductive Health (2025) menyebutkan bahwa relaksasi otot progresif dan terapi musik menunjukkan efek yang cukup cepat, sementara keterlibatan pasangan dikaitkan dengan manfaat jangka panjang. Jadi, mengatasi baby blues dapat dibantu melalui dukungan emosional, relaksasi, edukasi, dan keterlibatan pasangan.
Lebih detail, atasi baby blues dengan beberapa cara berikut ini:
1. Tidur cukup
Tidurlah saat bayi tidur. Setelah melahirkan, ibu sangat membutuhkan waktu tidur yang cukup untuk memulihkan tenaga dan stamina tubuh. Apalagi, mengurus dan menyusui bayi baru lahir begitu melelahkan. Tidur adalah obat terbaik untuk membantu proses pemulihan pascamelahirkan.
2. Minta bantuan
Abaikan pekerjaan domestik, mintalah bantuan asisten rumah tangga maupun tenaga lainnya untuk membantu menyiapkan segala kebutuhan ibu menyusui. Biarkan suami maupun anggota keluarga lainnya membantu mengurus kebutuhan rumah tangga, atau bahkan mengganti popok bayi. Mums tidak perlu melakukan semuanya sendiri.
3. Konsumsi makanan bergizi
Memulihkan energi tidak cukup hanya dengan tidur, melainkan juga perlu asupan nutrisi setiap harinya. Pastikan Mums mengonsumsi makanan bergizi untuk membantu proses pemulihan pascamelahirkan maupun pemulihan baby blues agar cepat teratasi. Selain itu, menyusui juga perlu asupan bergizi.
4. Ceritakan perasaan
Bicaralah dengan keluarga, teman, kerabat, dan kolega yang datang. Tampaknya sepele, namun banyak bercerita atau mencurahkan isi hati akan membuat Mums merasa lebih lega dan dihargai. Terkadang, di saat lelah dan putus asa, kebutuhan yang penting adalah didengarkan.
5. Lakukan hal yang disukai
Me time di sela kesibukan mengurus bayi adalah sebuah kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Tak perlu lama, cukup 5-10 menit sekadar untuk minum teh sendiri tanpa distraksi apa pun. Menekuni hobi yang lama tak disentuh maupun melakukan hal-hal ringan yang menyenangkan.
6. Konsultasi dengan ahli
Meskipun baby blues dapat hilang dengan sendirinya, tidak ada salahnya untuk mempertimbangkan konsultasi dengan psikolog motherhood. Berkonsultasi dengan ahlinya dapat meringankan beban yang Mums alami saat melalui fase baby blues.
Mums, itulah beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam mengatasi baby blues. Bisa dibilang baby blues adalah kondisi umum yang dialami sebagai masa transisi dari melahirkan menjadi orang tua baru dengan kehadiran seorang bayi. Kabar baiknya, baby blues akan hilang dengan sendirinya, tak lama setelah melahirkan.
Baby blues merupakan perubahan emosional yang umum setelah melahirkan dan biasanya bersifat sementara. Dukungan orang terdekat, istirahat yang cukup, komunikasi, dan memberi waktu bagi diri sendiri dapat membantu ibu melewati masa adaptasi ini.
Referensi :
African Journal of Reproductive Health. 2025. Interventions to address baby blues among postpartum mothers: A systematic review of effectiveness and implementation.
ACOG. 2024. Postpartum Depression


