Beberapa waktu lalu, pemerintah menyebutkan bahwa jumlah pasien TB meningkat. Kondisi ini jelas sangat mengkhawatirkan, apalagi TB menjadi salah satu penyakit infeksi yang penularannya relatif cepat. Itu sebabnya kebijakan tes Mantoux sering dilakukan terutama pada mereka dengan faktor risiko tinggi terkena TB.
Menurut studi dari Asian Journal of Medical Sciences, tes kulit tuberkulin Mantoux (TST) adalah salah satu metode untuk menentukan apakah seseorang terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Prosedur ini selain memberikan hasil yang akurat juga sudah menjadi standar penanganan TB yang dilakukan bahkan oleh fasilitas kesehatan paling rendah seperti Puskesmas. TB dapat didiagnosis dengan tes Mantoux karena sensitivitas dan spesifisitasnya tinggi tetapi harus dijelaskan dengan hati-hati untuk menghindari interpretasi yang tidak akurat.
Baca juga: Cara Jitu Mengatasi Batuk Anak
Yang Perlu Mums Tau tentang Tes Mantoux
Agar diagnosa TB akurat, maka dibutuhkan tes laboratorium yang sudah jadi standar baku di dunia kedokteran. Ada dua jenis tes TB yang dikenal, yaitu tes darah atau TB blood test dan tes kulit TB atau TB skin test.
Tes darah atau TB blood test dilakukan dengan mengambil sedikit sampel darah dan mencampurnya dengan protein TB. Petugas kesehatan kemudian akan menilai bagaimana reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap bakteri penyebab TB.
Sementara itu Tes Mantoux atau dikenal juga dengan istilah TB skin test atau tes kulit TB untuk mendeteksi TB ini dilakukan dengan menyuntikkan sedikit cairan bernama tuberculin ke bawah kulit lengan.
Tes Mantoux ini butuh dua kali kunjungan ke tenaga kesehatan. Kunjungan pertama untuk penyuntikan. Dan kunjungan kedua, setelah 48-72 jam untuk membaca hasilnya. Setelah 48-72 jam, petugas akan memeriksa area suntikan untuk melihat reaksi berupa benjolan (indurasi kulit).
Tes Mantoux ini akan menunjukkan apakah sistem kekebalan tubuh seseorang merespons bakteri penyebab TB. Jika tubuh mengenali zat tersebut sebagai ancaman, sistem imun akan menyebabkan reaksi pada kulit.
Kemudian tingkat reaksi kulit akan menentukan apakah hasil tes positif atau negatif. Jika hasilnya positif, berarti ia terinfeksi bakteri TB. Namun perlu pemeriksaan tambahan untuk mengetahui apakah infeksi tersebut aktif atau tidak.
Mereka yang Wajib Tes Mantoux
Tes Mantoux sangat dianjurkan pada seseorang dengan kondisi, jika : berisiko tinggi terinfeksi TB, berisiko tinggi mengembangkan TB aktif setelah terinfeksi, baru saja kontak dengan seseorang yang menderita TB aktif, menunjukkan gejala TB, juga mereka yang membutuhkan pemeriksaan TB untuk kebutuhan pekerjaan, sekolah, perjalanan, atau imigrasi.
Mums, selain kondisi yang perlu dilakukan pemeriksaan TB, yang tidak kalah pentingnya adalah mengetahui faktor-faktor yang meningkatkan risiko TB. Di antaranya mereka yang lahir atau sering bepergian ke negara dengan kasus TB tinggi, tinggal atau pernah tinggal di tempat berisiko tinggi seperti panti, penjara, atau penampungan tunaswisma. Selain itu, mereka yang bekerja di lingkungan berisiko tinggi seperti rumah sakit atau panti jompo.
Risiko lainnya dalam hal infeksi TB ini juga ada pada mereka yang berisiko lebih besar mengembangkan TB aktif dalam tubuhnya. Seperti lansia, sistem kekebalan tubuh yang lemah karena berbagai masalah kesehatan seperti pengidat diabetes, kanker, HIV, baru terinfeksi TB dalam dua tahun terakhir, belum menyelesaikan pengobatan TB sebelumnya, juga pengguna narkotika suntik, termasuk anak di bawah usia 5 tahun juga perlu dilakukan tes karena sistem kekebalan tubuhnya belum matang.
Durasi Ideal Melakukan Tes TB
Sebagai penyakit infeksi menular, TB bisa menular dengan mudahnya melalui droplet dari orang yang terinfeksi. Karena risiko penularan yang tinggi dan relatif mudah inilah, yang sering menimbulkan pertanyaan, seberapa sering tes TB harus dilakukan.
Frekuensi tes TB sangat tergantung pada risiko paparan TB juga risiko penularan pada orang lain. Untuk tenaga kesehatan, misalnya. Harus mengikuti peraturan negara atau institusi tempatnya bekerja. Biasanya direkomendasikan melakukan tes TB setiap tahun terutama bagi mereka yang intens berhubungan dengan pasien TB. Seperti dokter spesialis paru, terapis pernapasan, staf di ruangan dengan riwayat penularan TB,
Jika seseorang terpapar TB secara langsung, segera lakukan pemeriksaan gejala TB dan tes Mantoux. Jika hasil awal negatif, lakukan tes ulang 8-10 minggu setelah paparan terakhir. Sementara itu jika seseorang pernah positif TB sebelumnya, tidak perlu tes ulang, cukup skrining gejala untuk memastikan TB tidak aktif kembali.
Mums, itulah apa dan bagaimana tes Mantoux dilakukan untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi TB atau tidak. Tes Mantoux ini dibutuhkan oleh mereka yang memiliki faktor risiko tinggi terpapar virus TB. Karena penularan TB relatif mudah dan masih jadi momok penyakit infeksi di Indonesia dengan jumlah pasien yang meningkat setiap tahunnya, maka kesadaran untuk melakukan tes TB, salah satunya tes Mantoux sangat diperlukan.
Untuk Mums yang ingin berkonsultasi seputar masalah TB dan kesehatan secara umum, bisa melakukannya secara online di aplikasi Teman Bumil.
Baca juga: Lindung Bayi Baru Lahir dari Infeksi Saluran Pernapasan Bawah, Bumil Perlu Vaksin RSV
Referensi :


