Memuji pencapaian atau keberhasilan anak merupakan hal yang wajar dan biasanya terjadi secara spontan. Pujian adalah saat Mums mengatakan kepada anak bahwa mereka telah melakukan sesuatu dengan baik atau berperilaku positif.
Apakah anak harus selalu dipuji? Tentu saja tidak. Sebab pujian yang berlebihan atau tidak proporsional justru dapat berdampak negatif pada tumbuh kembang anak.
Pujian bukan sesuatu yang harus dihindari. Yang perlu diperhatikan adalah cara, isi, dan frekuensinya. Pujian yang terlalu sering, berlebihan, atau terus berfokus pada hasil dan label diri dapat membuat anak lebih bergantung pada penilaian dari luar.
Pujian dan Apresiasi untuk Anak
Pujian memang jadi bentuk apresiasi dan kebanggaan orang tua. Contohnya, ‘Bagus sekali, Nak’, ‘Hebat kamu!’, atau ‘Keren sekali.’
Studi yang diterbitkan di Journal of Experimental Child Psychology (2024) membandingkan person praise seperti “Kamu memang pintar mengerjakan puzzle” dengan process praise seperti “Kamu pasti sudah bekerja keras mengerjakan puzzle.”
Hasilnya cukup menarik: secara keseluruhan, ketekunan anak tidak selalu berbeda antara person praise dan process praise. Namun, dalam analisis eksploratif, anak yang mendapat process praise menunjukkan ketekunan lebih tinggi setelah mengalami kegagalan dibandingkan kelompok kontrol. Peneliti menyimpulkan bahwa dampak pujian sangat bergantung pada konteks.
Jadi, alih-alih hanya mengatakan:
“Kamu pintar!”
“Wah, pintar sekali!”
“Gambarmu bagus banget!”
“Kamu hebat!”
Orang tua dapat lebih spesifik mengatakan:
“Kamu terus mencoba sampai akhirnya berhasil.”
Artinya memberi apresiasi memang penting bagi anak, namun apakah anak harus selalu dipuji? Jawabannya: tidak.
Sebab anak membutuhkan respons yang membuatnya merasa dihargai, didengar, dan dipahami. Karena itu, orang tua perlu tahu kapan memberikan pujian dan kapan memberikan validasi.
Pujian adalah penilaian positif terhadap perilaku, usaha, atau pencapaian anak. Dalam hal ini pujian dapat membantu anak mengenali perilaku positif dan merasa dihargai. Namun, pujian akan lebih bermakna jika diberikan secara spesifik dan berfokus pada usaha atau proses, bukan sekadar memberikan label seperti “kamu pintar” atau “kamu hebat”.
Daripada melontarkan kalimat, “Kamu pintar!” Coba ganti dengan kalimat, “Kamu terus mencoba sampai akhirnya bisa.”
Dengan begitu, anak belajar bahwa keberhasilan juga berasal dari usaha, strategi, dan ketekunan.
Ketika Pujian Berdampak Buruk pada Anak
Mums, pujian bukan sesuatu yang harus dihindari. Yang perlu diperhatikan adalah cara, isi, dan frekuensinya. Pujian yang terlalu sering, berlebihan, atau terus berfokus pada hasil dan label diri dapat membuat anak lebih bergantung pada penilaian dari luar.
Label seperti “pintar” juga berpotensi membuat anak khawatir gagal karena takut tidak lagi dianggap pintar. Karena itu, tidak perlu setiap tindakan anak langsung diikuti “Hebat!” atau “Bagus banget!”
Sesekali, cukup berikan komentar yang menggambarkan apa yang anak lakukan. Misalnya, “Kamu mencoba beberapa cara sampai menemukan yang berhasil.”
Anak Membutuhkan Validasi
Di balik pujian yang sering kali diberikan, ada hal lain yang juga tidak kalah pentingnya bagi tumbuh kembang anak. yaitu validasi.
Validasi adalah upaya mengakui dan memahami perasaan, pengalaman, atau usaha anak. Misalnya, ketika anak menangis karena tidak dibelikan mainan, orang tua cenderung mengatakan, “Kamu kecewa karena ingin sekali mainan itu, ya.”
Dalam hal ini validasi tidak berarti orang tua harus menyetujui semua keinginan anak. Perasaan boleh diterima, tetapi perilaku tetap perlu diberi batas yang tegas. Itulah validasi yang sesungguhnya.
Contohnya: “Mama tahu kamu marah. Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul.”
Dengan cara ini, anak belajar bahwa semua perasaan boleh dirasakan, tetapi tidak semua perilaku boleh dilakukan.
Berikan Pujian dan Validasi sesuai Kondisi
Terkait dua hal ini, penting bagi orang tua maupun orang dewasa lainnya untuk memahami bahwa pujian tidak harus menunggu anak mendapatkan nilai sempurna atau memenangkan sesuatu. Berikan apresiasi ketika anak menunjukkan usaha, keberanian mencoba, ketekunan, strategi yang baik, maupun perilaku positif.
Agar lebih bermakna, pujian sebaiknya spesifik, tulus, tidak berlebihan, dan berfokus pada proses.
Misalnya: “Mama lihat kamu tetap mencoba meskipun tadi sempat kesulitan.”
Bahkan, apresiasi tidak selalu harus berupa kata-kata. Senyuman, pelukan, anggukan, atau perhatian penuh ketika anak bercerita juga bisa menjadi bentuk penghargaan.
Jadi, Apakah Anak Perlu Selalu Dipuji? Jawabannya adalah “Tidak.” Sebab anak tidak membutuhkan pujian setiap kali melakukan sesuatu. Bagi anak yang jauh lebih penting adalah merasa dihargai, didengar, dan dipahami.
Pujian dapat digunakan ketika ada usaha atau perilaku yang layak diapresiasi. Validasi dibutuhkan ketika anak sedang menghadapi emosi yang sulit. Saat anak gagal, bantu ia memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar.
Mums, tujuan akhirnya dari memuji maupun memberikan validasi pada anak, bukan membuat anak selalu merasa “hebat”, tetapi membantu mereka tumbuh dengan percaya diri, mampu menghadapi kegagalan, mengenali emosinya, dan tidak selalu bergantung pada pengakuan orang lain.
Intinya, bukan soal lebih banyak memuji atau lebih banyak memvalidasi. Keduanya punya fungsi berbeda dan bisa digunakan sesuai situasi.
Referensi :
Journal of Experimental Child Psychology. 2024. Effects of praise and “easy” feedback on children’s persistence and self-evaluations.


