Sentuhan dan memberikan rangsangan suara kepada janin adalah bagian dari stimulasi perkembangan janin.
Orang tua disarankan banyak mengajat bicara janin di kandungan , terutama saat kehamilan menginjak usia trimester kedua dan ketiga, karena pendengaran janin mulai berfungsi terutama di trimester akhir.
Saat memasuki trimester ketiga, bayi sudah mulai mengenali suara-suara yang sering muncul dalam kesehariannya, seperti suara kedua orang tuanya, musik yang selalu diperdengarkan, bahkan detak jantung sang ibu, mulai dikenalinya sejak dalam kandungan.
Kapan Janin Bisa Mendengar Suara?
Percaya atau tidak, jauh sebelum bayi lahir, ia sudah bisa mengenali dan mempelajari irama suara ibunya. Termasuk detak jantung hingga alunan lagu-lagu atau musik favorit yang Mums sering dengar selama kehamilan.
Kesimpulan tersebut dikuatkan dalam berbagai literature ilmiah. Salah satunya dalam penelitian terbaru yang dimuat dalam PubMed Central (2024) menyebutkan bahwa sekitar usia 20 minggu kehamilan, sistem pendengaran janin sudah cukup berkembang untuk mulai menerima suara dari lingkungan ibu.
Namun, suara yang sampai ke janin mengalami penyaringan alami oleh jaringan tubuh, cairan ketuban, dan struktur telinga, sehingga terutama komponen suara berfrekuensi rendah yang lebih mudah diterima. Artinya, janin memang tidak mendengar suara seperti orang dewasa mendengarnya.
Sementara itu bukti perkembangan otak janin dan respons terhadap suara termuat dalam Developmental Cognitive Neuroscience (2026) yang menemukan bukti bahwa janin dapat memproses stimulus auditorik, terutama pada trimester ketiga, dengan respons yang dapat terukur pada area otak yang berkaitan dengan pemrosesan suara. Hal ini menunjukkan bahwa “mendengar” bukan sekadar janin bereaksi dengan bergerak. Sistem saraf janin memang sudah menunjukkan pemrosesan terhadap rangsangan suara.
Tahapan Perkembangan Pendengaran Bayi
Jadi, ketika usia kehamilan memasuki trimester ketiga, janin sudah mulai mendengar suara dari luar. Namun proses ini tentu saja membutuhkan waktu dan melalui berbagai tahapan, diantaranya :
1. Minggu ke 16-22 kehamilan
Antara minggu ke-16 dan ke-22 kehamilan, bayi mungkin mulai mendengar suara-suara samar dari dalam tubuh Mums. Seperti suara hembusan napas, suara detak jantung, aliran darah, juga suara yang muncul dari proses pencernaan. Termasuk suara ibu ketika berbicara. Suara-suara ini akan terdengar semakin keras seiring dengan membaiknya pendengaran bayi.
2. Setelah minggu ke-23
Bayi dapat mendengar suara-suara dari dunia luar, termasuk suara Mums sendiri. Pada awalnya, telinga bayi hanya dapat menangkap suara bernada rendah; artinya, bayi di dalam kandungan umumnya lebih mudah mendengar suara pria dibandingkan suara wanita. Namun, suara Mums sendiri akan terdengar keras bagi bayi karena jaraknya yang dekat dan adanya resonansi melalui tubuh Mums saat berbicara.
Seiring dengan matangnya telinga dan otak bayi, maka secara bertahap bayi akan dapat menangkap rentang suara yang lebih luas, termasuk lebih banyak suara dengan nada yang lebih tinggi.
3. Usia 26 minggu
Pada usia sekitar 26 minggu, bayi mungkin mulai merespons suara yang didengarnya melalui perubahan detak jantung, pola pernapasan, dan gerakan tubuh. Jika suara terdengar sangat keras, bayi mungkin akan terkejut—dan Mums mungkin merasakan gerakan bayi lebih intens.
Pemeriksaan USG juga pernah merekam perubahan ekspresi wajah bayi saat mereka mendengar musik. Selain fungsinya yang semakin berkembang, secara fisik organ teling juga makin terbentuk sempurna di usia kehamilan menginjak trimester ketiga.
Agar Suara Ayah Familiar oleh Bayi
Memasuki trimester ketiga kehamilan, kemampuan mendengar bayi dalam kandungan semakin berkembang. Janin dapat menangkap suara dari lingkungan di luar rahim, meskipun suara tersebut terdengar berbeda karena harus melewati cairan ketuban, dinding rahim, dan jaringan tubuh ibu.
Jadi, suara yang didengar janin bukan seperti suara yang kita dengarkan secara langsung di udara.
Di dalam kandungan, janin sebenarnya dikelilingi oleh berbagai suara. Beberapa di antaranya berasal dari tubuh ibu, seperti: detak jantung ibu, suara aliran darah, suara pernapasan, suara sistem pencernaan, juga suara ibu ketika berbicara.
Selain itu, suara dari luar tubuh juga dapat mencapai janin. Misalnya suara ayah, anggota keluarga, musik, atau suara lingkungan sekitar. Namun, suara dari luar akan terdengar lebih teredam dibandingkan ketika didengar setelah bayi lahir.
Dalam hal ini ada kemungkinan janin mulai terbiasa dengan suara ayah jika sering mendengarnya selama kehamilan. Karena janin dapat belajar dan menunjukkan respons terhadap suara yang berulang. Suara yang sering didengar selama kehamilan dapat menjadi suara yang familiar bagi bayi.
Namun, hanya sekadar mendengar suara yang sering atau familiar, bukan mengenali seseorang secara sadar seperti orang dewasa.
Jadi, belum tepat dikatakan bahwa janin sudah memahami, “Ini suara ayahku” tetapi, paparan berulang terhadap suara tertentu dapat membantu membuat suara tersebut familiar bagi bayi. Karena itulah ayah dianjurkan untuk sering mengajak bayi berbicara sejak dalam kandungan, agar terdengar familiar dan bayi terbiasa dengan suara tersebut.
Inilah salah satu alasan mengapa berbicara, bernyanyi, atau membacakan cerita kepada bayi selama kehamilan sering dianggap sebagai bagian dari interaksi orang tua dan bayi.
Ayah cukup berbicara dengan volume suara normal dari jarak yang nyaman. Misalnya saat sedang menemani ibu hamil, ayah dapat mengajak bayi berbicara, membacakan cerita, atau sekadar menceritakan aktivitas sehari-hari.
Yang terpenting bukan seberapa keras suaranya, tetapi interaksi dan konsistensinya. Hubungan antara ayah dan bayi tidak ditentukan hanya oleh seberapa sering ayah berbicara selama kehamilan. Melainkan oleh perhatian, bonding, perlindungan, dan kasih sayang sepanjang kehamilan dan tentu saja setelah bayi dilahirkan.
Referensi :
Developmental Cognitive Neuroscience. 2026. The functional foetal brain: A systematic review and meta-analysis.


