Campak merupakan penyakit masa kanak-kanak yang sangat menular yang disebabkan oleh paramyxovirus. Gejala khasnya ditandai dengan demam, bintik-bintik putih di dalam mulut, pilek, batuk, mata merah, dan ruam kulit yang menyebar.
Meskipun campak merupakan penyakit masa kanak-kanak, tetapi orang dewasa juga bisa kena, termasuk ibu hamil. Campak pada ibu hamil merupakan salah satu penyakit infeksi yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan ibu maupun janin yang sedang dikandung. Pada kehamilan, perubahan sistem kekebalan tubuh membuat ibu hamil lebih rentan mengalami infeksi dan komplikasi yang lebih berat dibandingkan wanita yang tidak hamil.
Oleh karena itu, campak pada kehamilan menjadi masalah kesehatan yang penting untuk dipahami baik dari segi pencegahan maupun penanganannya.
Apa itu Campak?
Campak disebabkan oleh virus measles yang sangat mudah menular melalui percikan droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Penyakit ini ditandai dengan gejala awal seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta munculnya ruam kemerahan yang menyebar ke seluruh tubuh.
Kasus campak masih ditemukan di berbagai negara, terutama pada wilayah dengan cakupan imunisasi yang belum optimal. Meskipun vaksinasi telah terbukti efektif menurunkan angka kejadian campak, masih ada wanita yang memasuki masa kehamilan tanpa memiliki kekebalan yang cukup terhadap penyakit ini.
Kondisi tersebut dapat terjadi karena belum pernah menerima vaksin, tidak mendapatkan imunisasi lengkap saat kecil, atau belum pernah terpapar virus campak sebelumnya. Infeksi campak berkurang signifikan karena efektivitas vaksin MMR (campak, gondongan, rubella). Namun dengan banyaknya orang yang menolak vaksin MMR, pada tahun 2020, jumlah kasus campak perlahan mulai muncul bahkan meningkat.
Kondisi ini tentu memprihatinkan, sebab campak sangat menular. Seseorang yang tidak kebal atau tidak divaksin, berisiko tertular penyakit ini jika ia melakukan kontak dengan seseorang yang terinfeksi.
Bahaya campak pada ibu hamil
Apabila ibu hamil tertular campak, risiko komplikasi seperti pneumonia, dehidrasi berat, hingga gangguan pernapasan dapat meningkat. Selain berdampak pada ibu, infeksi campak juga dapat memengaruhi kondisi janin, misalnya menyebabkan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, bahkan keguguran pada beberapa kasus tertentu.
Dalam studi terbaru PMC (2025) disebutkan bahwa ibu hamil menjadi salah satu kelompok yang paling rentan tertular campak karena sistem imun ibu hamil secara alami menurun, untuk menjaga janin, sehingga virus lebih mudah berkembang. Apalagi bila ibu hamil tersebut memang belum menerima vaksin MMR. Kondisi ini membuatnya jadi sasaran empuk paramyxovirus penyebab campak.
Penularan campak sendiri bisa melalui droplet saat batuk atau bersin, juga kontak dekat dengan penderita. Dan bahaya ibu hamil yang terkena campak berisiko tinggi mengalami pneumonia atau radang paru, hepatitis, maupun komplikasi infeksi berat.
Selain itu campak pada ibu hamil terbukti dalam banyak studi meningkatkan risiko keguguran dan kelahiran premature, juga bayi berat lahir rendah. Masalahnya adalah tidak adanya obat spesifik untuk membunuh virusnya, sehingga pencegahan merupakan kunci utama dalam mencegah campak pada ibu hamil.
Cara melindungi diri dari campak selama kehamilan
Agar ibu hamil terlindungi dari risiko terinveksi atau tertular penyakit campak, berikut ini beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegahnya :
1. Tes darah
Jika ibu hamil lupa atau tidak yakin apakah dirinya pernah terkena campak atau sudah divaksinasi, lakukan tes darah (sebaiknya sebelum mencoba hamil) untuk memastikannya. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan untuk mendapatkan vaksin campak setidaknya satu bulan sebelum hamil.
2. Konsultasi ke dokter
Jika ibu hamil tidak kebal dan terpapar virus saat hamil, harus segera berkonsultasi dengan dokter kandungan tentang kemungkinan mendapatkan suntikan imunoglobulin untuk mencoba mencegah perkembangan campak sama sekali. Karena bumil tidak akan bisa mendapatkan vaksin MMR selama kehamilan.
3. Berikan vaksin pada anak
Untuk bumil yang memiliki anak lain, tetap harus memvaksinasi mereka sesuai jadwal selama kehamilan. Membiarkan orang lain di rumah mendapatkan vaksin MMR selama kehamilan, sama artinya dengan melindungi bumil dari risiko terpapar lewat anak dan tentu saja tidak akan membahayakan bumil dan janin yang ada dalam kandungan.
4. Jika bekerja di lingkungan berisiko tinggi
Untuk ibu hamil yang bekerja di lingkungan dengan risiko tinggi terpapar campak, seperti
tenaga kesehatan, guru atau daycare, sering kontak dengan anak kecil, maka risiko paparan virus campak lebih tinggi, lakukan tes antibody campak.
Pentingnya tes antibody campak
Perlu diketahui tes antibody campak perlu dilakukan sebelum kehamilan. Fungsinya untuk mengetahui apakah tubuh sudah punya kekebalan terhadap campak apa belum.
Namun ketika sudah hamil, tidak dianjurkan untuk tes rutin saat hamil kecuali ada paparan campak, ada gejala mencurigakan. Karena vaksin tidak bisa diberikan saat hamil. selain itu tes antibody campak tidak mengubah banyak tindakan saat itu.
Tes antibody campak sebaiknya dilakukan sebelum promil terutama jika status imumasi tidak jelas. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan ibu sudah kebal sebelum hamil. Karena campak pada ibu hamil beriski tinggi dan vaksin tidak bisa diberikan saat hamil.
Cek antibodi campak sebelum hamil itu seperti cek ‘tameng imun’ – kalua belum ada. Sehingga masih ada waktu untuk membentuknya sebelum janin ikut terdampak. Karena sebelum hamil, ketika dilakukan cek antibody (lgG campak), jika belum kebal lakukan vaksinasi MMR. Kemudian tunggu minimal 1 bulan sebelum hamil. Namun saat sudah hamil dan terkena campak, tidak boleh diberikan vaksin MMR. Lebih baik fokus pada proteksi lingkungan dan hindari paparan.
Kesimpulan
Mums, banyak wanita merasa sudah kebal padahal belum. Sebagian wanita usia reproduksi tidak memiliki antibody yang cukup, meski merasa sudah pernah vaksin. Apalagi, kekebalan bisa menurun seiring waktu, terutama jika pemberian vaksin hanya pada masa kecil saja. Hal ini jadi perhatian serius dalam berbagai studi epidemiologi terbaru.
Karena itu sangat dianjurkan sebelum hamil untuk melakukan screening. Cara ini sangat efekif sebab saat hamil pilihan terapi atau pengobatan sangat terbata. Sebelum hamil bisa vaksinasi dan optimalkan perlindungan diri dari risiko terkena campak pada ibu hamil.
Pencegahan campak pada ibu hamil menjadi langkah yang sangat penting dalam upaya menjaga kesehatan ibu dan janin. Imunisasi sebelum kehamilan merupakan cara paling efektif untuk membentuk kekebalan terhadap virus campak. Namun, karena vaksin campak termasuk vaksin hidup yang dilemahkan, pemberiannya tidak dianjurkan selama masa kehamilan.
Oleh sebab itu, edukasi mengenai pentingnya vaksinasi sebelum menikah atau sebelum merencanakan kehamilan perlu terus ditingkatkan. Selain itu, deteksi dini terhadap gejala campak serta penanganan yang cepat dan tepat sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat. Dengan pemahaman yang baik mengenai campak pada kehamilan, diharapkan risiko penularan dan dampak buruk yang mungkin terjadi dapat diminimalkan.
Referensi
NCBI. 2025. Measles in pregnancy


