Semua orang mendambakan pernikahan yang bahagia, harmonis, berkecukupan, dan anak-anak sehat tumbuh kembangnya maksimal. Namun, sering kali kondisi ideal ini hanya ada dalam cerita dan angan-angan. Tidak sedikit rumah tangga yang tidak bahagia dalam pernikahan.
Dalam pernikahan, pertengkaran, salah paham, rasa bosan, atau konflik sesekali adalah hal yang normal. Namun, Mums dan Dads perlu tahu bahwa ada perbedaan besar antara hubungan yang sedang menghadapi masalah dan pernikahan yang benar-benar tidak bahagia.
Tanda pernikahan tidak bahagia bisa dilihat dari konflik yang tidak pernah selesai, komunikasi macet, dan tidak ada lagi keintiman. Apakah ada ciri-ciri lainnya? Baca selengkapnya di artikel ini.
Apa itu pernikahan tidak bahagia?
Kandasnya sebuah pernikahan tidak selalu dipicu oleh perselingkuhan maupun konflik terbuka, pertengkaran besar, maupun situasi dramatis. Sering kali justru berawal dari pernikahan yang tidak bahagia.
Tidak sedikit hubungan pernikahan hancur secara perlahan tanpa disadari dan diabaikan. Hubungan memburuk karena hal-hal kecil yang terlihat “normal” dianggap baik-baik saja,
Dari luar, pasangan mungkin tampak baik-baik saja, misalnya masih tinggal serumah, ngurus anak bersama, pergi bersama keluarga, bahkan jarang bertengkar. Namun, di balik itu, koneksi emosional perlahan menghilang.
Dalam penelitian psikologi Frontiers in Psychology (2025) disebutkan bahwa dalam hubungan modern, kondisi ini sering disebut sebagai emotional disconnection, marital dissatisfaction, atau bahkan silent divorce, yaitu ketika pasangan masih menikah secara formal, tetapi secara emosional sudah terasa jauh.
Perasaan ini biasanya berlangsung dalam waktu lama dan memengaruhi kualitas hubungan sehari-hari. Hubungan terasa dingin, komunikasi tidak sehat, atau bahkan tidak ada lagi rasa aman dan nyaman saat bersama pasangan.
Inilah salah satu indikasi pernikahannya tidak bahagia. Yaitu kondisi ketika salah satu atau kedua pasangan secara terus-menerus merasa tidak puas, tidak nyaman, kesepian, tertekan, atau kehilangan kedekatan emosional dalam hubungan pernikahan.
Dalam pernikahan yang tidak bahagia, masalah sering terasa lebih dalam dan menetap. Hubungan mulai kehilangan koneksi emosional. Salah satu atau kedua pasangan bisa merasa tidak didengar, tidak dihargai, diabaikan, sehingga merasakan lelah secara emosional, atau bahkan merasa lebih nyaman saat jauh dari pasangan.
Pernikahan yang sedang bermasalah sementara
Mums dan Dads perlu memahami bahwa pernikahan yang tidak bahagia berbeda dengan pernikahan yang sedang menghadapi masalah sementara.
Setiap pasangan pasti pernah menghadapi konflik, misalnya masalah ekonomi, perbedaan pola asuh, kesibukan kerja, kurang waktu bersama, atau pertengkaran karena hal kecil.
Jika setelah konflik pasangan masih mau berkomunikasi, berusaha memahami, tetap peduli, dan ingin memperbaiki hubungan, maka biasanya hubungan tersebut masih sehat meski sedang menghadapi masalah.
Dalam hal ini, pernikahan yang sedang mengalami masalah biasanya masih memiliki koneksi emosional. Pemicu masalah muncul biasanya disebabkan oleh stres pekerjaan, bertengkar, sibuk bekerja, lelah mengurus anak, atau karena tekanan ekonomi.
Namun, di balik konflik itu, biasanya keduanya masih memiliki keinginan untuk memperbaiki hubungan, rasa peduli satu sama lain, komunikasi emosional, tetap saling memahami, bahkan masih melayani. Dalam kondisi bermasalah seperti ini, keduanya masih merasa satu tim, sehingga biasanya emosi akan mereda seiring waktu, masalah perlahan selesai, dan hubungan kembali normal.
Ciri-ciri pernikahan tidak bahagia yang sering diabaikan
Pernikahan tidak bahagia sering kali tidak selalu ditunjukkan melalui konflik terbuka. Banyak pernikahan tidak bahagia justru terjadi karena berbagai kondisi atau situasi yang sebenarnya tidak baik-baik saja dan diabaikan.
Riset internasional terbaru dari Journal of Social and Personal Relationships (2025) menyebutkan bahwa pernikahan tidak bahagia sering muncul melalui tanda-tanda kecil yang terlihat “normal”, seperti komunikasi yang dingin, menarik diri, hilangnya intimacy, kurangnya apresiasi, dan rasa kesepian dalam hubungan.
Berikut ini ciri-ciri pernikan tidak bahagia yang sering diabaikan, dan bukan tidak mungkin akan jadi bom waktu satu saat nanti yang memicu konflik hebat:
1. Komunikasi terbatas dan sekadarnya
Tidak ada lagi obrolan hangat, mendalam, dan bermakna, baik tentang hidup saat ini, maupun problem yang dihadapi sehari-hari. Komunikasi suami istri hanya sebatas soal rutinitas harian, pekerjaan rumah, anak-anak, maupun kebutuhan ekonomi.
2. Tidak antusias menghabiskan waktu bersama
Jika dulu sering menghabiskan waktu bersama, sekarang justru asyik dengan kesibukan sendiri dan aktivitas masing-masing. Misalnya, sengaja lembur, utak-atik motor, main HP sendiri, termasuk merasa biasa saja ketika pasangan pergi dalam waktu lama.
Pasangan yang kehilangan keinginan untuk selalu bersama menjadi salah satu ciri-ciri tidak bahagia dalam pernikahan.
3. Konflik tidak selesai
Merasa konflik atau masalah selesai, padahal faktanya tidak benar-benar selesai dengan tuntas. Inilah akar masalah tidak bahagia dalam pernikahan, yaitu karena masalah yang sama akan berulang terus tanpa solusi yang jelas.
Salah satu atau keduanya akhirnya memilih diam, cari aman, menghindar, menyerah, atau meredam konflik, bukan menyelesaikannya. Akhirnya keduanya diam-diam menyimpan dendam.
4. Merasa kesepian
Padahal berpasangan tetapi merasa kesepian, inilah ciri-ciri tidak bahagia dalam pernikahan. Keberadaan pasangan tidak lagi bermakna, mengisi kekosongan, tidak benar-benar hadir, tidak mau mendengarkan, tidak ada dukungan ataupun tidak ada tempat bercerita.
5. Tidak merasa dihargai
Perlahan hal-hal kecil tapi bermakna mulai ditinggalkan, seperti minta tolong, ucapan terima kasih, memberi kabar sedang di mana atau pulang jam berapa. Juga perhatian-perhatian kecil mulai berkurang. Semua yang dilakukan hanya sekadar kewajiban atau formalitas belaka, bukan karena kasih sayang.
6. Sensitif dan emosional
Mudah marah, mudah tersinggung, bawaannya selalu kesal, komentar kecil tapi menyakitkan, bercandaan terasa seperti sindiran, mulai julid satu sama lain. Hal-hal sepele diributkan, hal-hal besar diabaikan. Inilah potensi-potensi konflik yang tidak disadari.
7. Tidak adak kedekatan emosional dan fisik
Intimasi berkurang juga menjadi salah satu ciri-ciri pernikahan yang tidak bahagia. Intimasi bukan hanya soal hubungan intim, melainkan juga pelukan, sentuhan, perhatian, atau sekadar duduk bersama dengan nyaman.
Hilangnya koneksi emosional ini membuat kedekatan fisik juga berkurang, dan lama kelamaan, akan semakin berjarak dan menjauh tanpa disadari.
8. Sering membayangkan hidup tanpa pasangan
Halusinasi seperti ini adalah indikasi tidak bahagia dalam pernikahan, seperti mendambakan hidup yang lebih tenang, lebih bebas, atau lebih bahagia bila tidak ada pasangan. Jika ini dilakukan terus-menerus, jelas akan membahayakan hubungan.
9. Menyimpan rahasia dan berbohong
Ketidakjujuran dan penipuan dapat mengikis kepercayaan yang menjadi dasar pernikahan yang sehat. Ketika salah satu atau keduanya mulai menyimpan rahasia atau berbohong, itu adalah tanda yang jelas bahwa tidak bahagia dalam pernikahan. Kebohongan, sekecil apa pun, dapat mengikis fondasi pernikahan.
10. Tidak berusaha memperbaiki hubungan
Bukan hanya pertengkaran yang jadi indikasi hubungan memburuk, melainkan ketidakpedulian dan tidak berusaha memperbaiki hubungan justru lebih mengkhawatirkan.
Ketika pasangan tidak lagi membahas masalah, menolak berkompromi, tidak mau memahami, atau bersikap “terserah” dan pasrah, saat itulah tidak ada kebahagiaan dalam pernikahan.
Mengapa tanda-tanda ini sering diabaikan pasangan?
Yang paling mengenaskan dari tidak adanya kebahagiaan dalam pernikahan ini adalah sikap abai keduanya. Abai terhadap tanda-tanda atau ciri-ciri yang dirasakan hingga tidak peduli satu sama lain.
Sikap acuh tersebut bukan tanpa alasan, berikut ini alasan yang memicu diabaikannya ciri-ciri pernikahan yang tidak bahagia:
1. Tidak menyadari
Pernikahan yang hancur tidak terjadi dalam semalam. Ini biasanya berjalan perlahan dan berproses. Hubungan memburuk karena komunikasi makin terbatas, hubungan makin dingin, keintiman menghilang dan koneksi perlahan memudar. Karena berbagai perubahan tersebut terjadi pelan, pasangan sering tidak sadar sampai hubungan sudah terasa sangat jauh.
2. Tenang namun menghanyutkan
Bukan pertengkaran maupun gejolak konflik yang membuat hubungan hancur, melainkan kondisi yang tenang namun menghayutkan. Jarang ada konflik, tapi diam-diam menumpuk dendam karena masalah tidak pernah terselesaikan.
Diam bukan selalu tanda hubungan yang sehat, justru berarti lelah, menyerah, atau tidak ada lagi energi untuk memperbaiki.
3. Kesibukan
Kesibukan pekerjaan membuat pasangan tidak punya waktu untuk memperbaiki komunikasi dan meluangkan waktu untuk mencari solusi bersama, sehingga kualitas hubungan menurun. Rutinitas kerja, kesibukan mengurus rumah, mengurus anak, mencari nafkah mengatasi himpitan ekonomi, sudah sangat menyita waktu dan melupakan kewajiban merawat hubungan.
4. Takut menghadapi realita
Tidak semua orang siap menghadapi kenyataan di hadapannya. Banyak yang memilih menghindar, karena mengakui atau menghadapi masalah berarti harus membahas luka lama, menghadapi konflik, atau menurunkan ego dan gengsi. Sehingga banyak pasangan memilih diam, menyangkal, menormalisasi, atau berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.
5. Menjaga image
Masih kuatnya budaya atau mindset yang menganggap pernikahan yang bertahan adalah pernikahan yang sukses, inilah salah satu penyebab mengabaikan tanda-tanda pernikahan tidak bahagia yang dirasakan.
Banyak pasangan diajarkan untuk tidak bercerai apa pun yang terjadi, selama tidak bercerai artinya pernikahan baik-baik saja. Padahal pernikahan yang sehat dan bahagia bukan soal bertahan saja, melainkan kedekatan, kasih sayang, harmonisasi, rasa aman, dan kebahagiaan lahir batin.
Yang bisa dilakukan jika merasa tidak bahagia dalam pernikahan
Mums, apa pun kondisi yang sedang dialami dalam pernikahan, bukan berarti tidak ada solusi atau sesuatu yang bisa dilakukan. Ada banyak cara dan jalan yang bisa ditempuh untuk mengembalikan kebahagiaan dalam pernikahan.
Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan jika merasa tidak bahagia dalam pernikahan:
1. Jujur pada diri sendiri
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah jujur pada diri sendiri dan mengakui perasaan yang dialami. Tanyakan pada diri sendiri apa sebenarnya yang membuat diri ini tidak bahagia? Kapan mulai merasakan hal tersebut? Apa yang diharapkan dalam hubungan ini.
2. Mengakui kesalahan
Sebelum menyudutkan atau menyalahkan pasangan, tidak ada salahnya mengakui kesalahan sendiri, sekecil apa pun itu, pasti ada andil dari sikap atau reaksi yang memperkeruh keadaan.
3. Bangun komunikasi yang jujur
Mulailah membangun komunikasi yang jujur dengan pasangan. Bicarakan perasaan, harapan, dan rencana ke depan dengan tenang, bukan saat sedang marah atau emosi. Gunakan kalimat yang lembut, bukan saling menyudutkan..
4. Luangkan Waktu agar terkoneksi kembali
Hubungan yang sehat perlu dirawat, bukan dibiarkan berjalan begitu saja. Mulailah dari hal-hal kecil seperti makan bersama tanpa gadget, jalan berdua tanpa anak-anak, pillow talk atau ngobrol sebelum tidur, atau melakukan aktivitas yang dulu dilakukan bersama.
5. Pahami kebutuhan emosi pasangan
Setiap individu merasa lelah karena tidak dipahami oleh pasangan, karena itu pahami kebutuhan emosional pasangan. Coba jadilah pendengar yang baik tanpa menghamikin, berikan bantuan dan perhatian tanpa diminta. Hal ini mampu membantu membangun kembali kedekatan emosional yang mulai merenggang.
6. Cari bantuan profesional
Jika masalah pernikahan tidak bisa diatasi sendiri, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional di Psikolog Corner. Berkonsultasilah dengan ahlinya agar mendapatkan sudut pandang yang objektif, ilmiah, dan mendapatkan solusi yang tepat. Konseling pernikahan sering kali jadi solusi yang tepat ketika pasangan tidak mampu mengatasi konflik yang terjadi.
Pernikahan yang bahagia perlu dirawat bersama
Pernikahan yang harmonis, bahagia, dan langgeng hingga maut memisahkan adalah impian semua orang. Namun, tidak semua orang beruntung dan mampu mewujudkan pernikahan yang bahagia lahir batin hingga menua bersama dan dipisahkan oleh kematian.
Tidak sedikit pernikahan yang tampak baik-baik saja, namun justru terjadi sebaliknya. Pernikahan yang tidak bahagia terjadi ketika salah satu atau kedua pasangan secara terus-menerus merasa tidak puas, tidak nyaman, kesepian, tertekan, atau kehilangan kedekatan emosional dalam hubungan pernikahan.
Mums dan Dads perlu ingat bahwa pernikahan tidak bahagia sering tidak terlihat jelas. Banyak pasangan tetap bersama bertahun-tahun, namun tidak disadari perlahan mulai kehilangan kedekatan, komunikasi mulai hambar, hubungan emosional mulai berjarak, rasa aman dan nyaman perlahan menghilang.
Karena keretakan hubungan biasanya terjadi perlahan, tanda-tandanya sering dianggap normal atau diabaikan. Padahal hubungan yang sehat dan bahagia bukan sekadar yang mampu bertahan hingga tua, bahkan sampai meninggal, melainkan juga hubungan yang merasa saling memahami, dihargai, aman secara emosional, dan tetap terhubung sebagai pasangan.
Referensi :
Frontiers in Psychology. 2025. Contextualizing marital dissatisfaction: examining profiles of discordant spouses across life domains.
Journal of Social and Personal Relationship. 2025. Intimacy reduces withdrawal after conflict in cohabiting couples.


