Tidak semua hubungan anak dan ayah berjalan seindah itu, ada sebagian ayah dan anak yang tampak tidak akur atau selalu bertentangan.
Penyebabnya gesekan hubungan anak dan ayah ini sangat beragam, salah satunya karena adanya benturan alami antara tahap perkembangan anak dan dinamika pola asuh tradisional atau pembelajaran.
Untuk membangun kedekatan ayah dan anak, bonding harus dibangun sejak usia bayi. Misalnya dengan banyak meluangkan waktu bersama, ikut merawat dan pada usia yang lebih besar mendorong hobi anak yang disukai dan telribat.
Penyebab Hubungan Anak dan Ayah tidak Akur
Bermain diteman ayah, ke sekolah diantar dan dijemput ayah, keduanya tampak akur dan bahagia satu sama lain. Namun tidak selalu anak dan ayah bisa akur. kadang setiap kali dipegang ayah, si Kecil malah menangis atau mara-marah.
Gesekan hubungan anak dan ayah yang tampak selalu tidak akur ini sebenarnya merupakan hal biasa dalam sebuah keluarga. Serenggang apa pun hubungan keduanya, seribut apa pun mereka, bukan berarti keduanya saling benci. Kasih sayang jelas ada, hanya saja tertutup oleh ego dan kadang emosi yang lebih mendominasi.
Berikut ini penyebab umum hubungan anak dan ayah yang tidak akur :
1. Perkembangan anak
Di masa tumbuh kembangnya ini, balita sering kali merasa dirinya adalah individu yang terpisah dari orang tuanya, bisa melakukan sesuatu sendiri sementara ayahnya merasa perlu terus membimbingnya.
2. Perbedaan gaya komunikasi
Ayah dan anak bukan jaminan keduanya punya sifat yang sama persis. Seperti dalam hal gaya komunikasi yang berbeda. Ayah menggunakan bahasa yang rumit atau arahan yang bertele-tele, sementara balitanya belum paham. Frustrasi keduanya sering jadi potensi konflik karena instruksi tidak diikuti.
3. Kurangnya waktu bersama
Kesibukan ayah membuat momen bersama anak menjadi berkurang atau sangat minim, sehingga keduanya merasa asing satu sama lain. Terkadang ayah kurang update terhadap pencapaian atau perkembangan kemampuan anaknya. Inilah yang kadang bikin hubungan ayah dan anak tidak akur karena chemistry keduanya belum maksimal.
4. Kelelahan ayah dan regulasi emosi
Momen interaksi ayah dan anak sering kali terjadi di sore atau malam hari, ketika ayah kelelahan setelah bekerja sehingga tidak mampu merespons dengan baik permintaan anaknya. Belum lagi soal regulasi emosi yang masih berkembang, membuat balita sulit mengendalikan emosinya, menganggap ayahnya tidak mau mengikuti keinginannya
Pentingnya keterlibatan ayah dan regulasi emosi anak usia dini juga pernah diteliti dalam jurnal BMC Psychology (2024) hasilnya tidak menemukan hubungan langsung yang konsisten antara keterlibatan ayah dan regulasi emosi. Hubungan positif muncul dalam kondisi tertentu, bergantung pada karakteristik ayah, anak, dan metode pengukuran.
Itulah sebabnya mengapa kualitas interaksi dan kebutuhan individual anak perlu diperhatikan, bukan sekadar banyaknya waktu yang dihabiskan bersama ayah.
5. Ayah yang memaksa untuk dekat
Terkadang ayah memaksa untuk memeluk, mencium, atau menggendong anaknya karena rasa kangen, gemas, atau keinginan untuk selalu dekat dengan anaknya. Sementara anaknya menolak sebab menurutnya interaksi atau kedekatan tidak bisa dipaksakan, ia masih ingin fokus bermain.
Cara Membangun Kedekatan Ayah dan Anak Balita
Keterlibatan ayah dan perkembangan sosial-emosional anak memiliki sisi yang unik. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Early Childhood Research Quarterly (2026) mengkaji hubungan keterlibatan ayah dengan kompetensi sosial-emosional anak usia dini. Hasilnya mendukung pembahasan bahwa peran ayah tidak hanya berkaitan dengan kehadiran fisik, tetapi juga interaksi positif yang membantu perkembangan sosial-emosional anak.
Untuk para ayah yang ingin tetap dekat dengan anaknya, membangun kehangatan, dan menurahkan kasih sayang dengan suasana yang lebih menyenangkan, berikut ini cara yang perlu dilakukan :
1. Luangkan waktu khusus setiap hari
Tidak perlu terlalu panjang, cukup durasi 10-15 menit bermain bersama anak tanpa distraksi. Fokus hanya bermain dan berinteraksi dengannya secara intens dan rutin setiap hari.
2. Ikuti minat anak
Kembali menjadi anak kecil dengan mengikuti minat anak adalah salah satu cara ayah untuk mendekatkan diri dengan buah hatinya. Masuklah dalam permainan Si Kecil, tidak perlu malu atau gengsi.
3. Ikut merawatnya
Perawatan rutin anak tidak hanya tugas Mums, namun ayah pun dapat ikut menemani dan membantu Si Kecil dalam setiap rutinitas hariannya. Mulai dari makan, mandi, berpakaian, hingga tidurnya.
4. Bersabarlah
Jadilah pribadi yang sabar dan tenang dalam merepons emosi anak. Jangan lantas membalas setiap emosinya atau memberikan respons negatif. Saat anak menangis, merengek, atau menolak, hindari reaksi berlebihan apalagi sampai hilang kesabaran.
5. Bangun kedekatan bertahap
Jika anak belum nyaman bermain bersama ayah, cukup dekati saja atau perhatikan dari jauh. Jika anak tidak nyaman dipeluk atau dicium, tunggu beberapa saat sampai ia luluh atau selesai bermain. Lakukan pendekatan secara bertahap dan alami, tidak perlu dipaksakan apalagi tergesa-gesa.
Itulah penyebab hubungan anak dan ayah tidak akur dan cara mengatasi membangun kedekatan keduanya. Kondisi ini bukan berari hubungan keduanya buruk. Bisa jadi anak sudah terbiasa dengan ibunya dan jarang berinteraksi dengan ayahnya.
Anak terbiasa dengan gaya komunikasi, cara merespons emosi dari seorang ibu yang mungkin bertolak belakang dengan gaya dan karakter ayah. Ketimbang memaksakan anak untuk lebih dekat dengan ayah, lebih baik ayah mempelajari pola dan karakter Si Kecil dalam berinteraksi sehari-hari di rumah.
Ciptakan rutinitas bersama anak, dampingi dan beri perhatian ketika dibutuhkan. Dan pastikan ayah selalu hadir di momen penting Si Kecil. Kedakatan ayah dan anak bukan soal berapa lama menghabiskan waktu bersama, melainkan seberapa besar anak merasa nyaman dan aman berada dekat dengan ayah.
Referensi :
1. Early Childhood Research Quarter. 2026. Father’s involvement is critical in social-emotional development in early childhood: A meta-analysis.
2. BMC Psychology. 2024. Father involvement and emotion regulation during early childhood: a systematic review.


