Penanganan kanker payudara tidak berhenti pada diagnosis dan pengobatan, tetapi juga mencakup pemulihan serta kualitas hidup pasien. Karena setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan berbeda.
Deteksi dini menjadi kunci angka kesembuhan yang tinggi pada pasien kanker payudara, karena semakin dini ditemukan, maka peluang sembuh makin besar.
Data dari hasil deteksi dini yang dilakukan Kementrian Kesehatan menunjukkan baru 25% dari target 60% kanker temuan kanker payudara di stadium dini. Penyebabnya karena kurang edukasi pentingnya deteksi dini.
Kisah Flavia Sungkit, Penyintas Kanker Payudara
Flavia Sungkit adalah seorang penyintas kanker payudara. Wanita yang juga pendiri Ikigai Consuliting, yakni perusahaan yang bergerak dalam bidang organizational psychologist. Ia membagikan pengalamannya selama perjalanan menempuh kesembuhan dari kanker, dalam acara diskusi media memperingati Bulan Kepedulian Kanker Payudara yang diselenggarakan MRCCC Siloam Semanggi pada 28 Oktober 2028.
Flavia didagnosis kanker payudara pada 2022 lalu, di payudara sebelah kiri. Sebagai wanita yang merasa sehat-sehat saja, ia cukup terpukul. "Betul apa yang disampaikan oleh dokter. Saat terberat adalah ketika menerima vonis,” ujarnya. Saat itu usianya baru awal 30, dan baru saja selesai menyusui.
Sebenarnya ia sedikit bersyukur, karena kanker payudaranya ditemukan di stadium dini. Semua berkat ia rutin melakukan medical chek up. Memiliki anggota keluarga yang meninggal akibat kanker, membuat Flavia sadar untuk rutin melakukan MCU setiap tahun sejak usia 25. Rutinitas ini sempat terhenti selama 2 tahun selama ia hamil dan menyusui.
“Suatu hari ketika aku melakukan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) dan saya merasakan ada benjolan yang keras dan bentuknya tidak rata,” ujar Flavia.
Ia segera ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lengkap, termasuk biopsi. Awalnya ia masih tenang karena ada kemungkinan itu cuma tumor jinak. Ketika hasil biopsi keluar, ia didagnosis kanker stadium 1. “Rasanya seperti mndapat jackpot. Saya sudah merasa hidup sehat, tapi Tuhan berkata lain. Memang di awal sangat berat, terutama satu dua tahun pertama. Tapi inilah perjalanan yang harus dilalui,” ucapnya.
Flavia pun menjalani pengobatan yang panjang setelah itu. Namun pengobatan selesai, bukan berarti semua masalah selesai. Ia merasakan fungsi tubuhnya terganggu karena efek pengobatan. Misalnya, pasca operasi, ia tidak bisa mengangkat tangan tinggi-tinggi.
“Padahal saya tidak menjalani operasi pengangkatan kelenjar getah bening di ketiak, dan operasinya pun bukan mastektomi di mana semua payudara diangkat, namun Breast Conserving Surgery karena ukuran tumor masih kecil dan tidak ada penyebaran,” tutur Flavia.
Selama menjalani pengobatan kanker di MRCCC Siloam Semanggi, Flavia juga menjalani rehab medik dari awal. Ia merasakan betul manfaatnya. Selama menjalani kemoterapi, ia melakukan meditasi untuk menguatka mentalnya dan lebih mindful. Ia pun mulai melakukan latihan kekuatan.
“Awalnya renang, karena cuma itu yang bisa saya lakukan. Setelah itu ia mulai pilates, sehingga postur tubuhnya yang sempat miring, kini membaik. Selanjutnya saya naikkan lagi latihan di gym dengan PT (personal trainer). Saya juga fisioterapi, chalistenics, dan tahun ini dua kali naik gunung.”
Menurut Flavia, menjaga pola pikir sangat penting selama menjalani terapi dan pasca pengobatan. “Boleh kok mengasihani diri sendiri, tapi jangan terlalu lama. Jangan kehilangan harapan, sekecil apapun itu. Harapanlah yang mmbuat kita berani mengambil keputusan. Kanker bukanlah akhir dari chapter hidup kita,” pungkas Flavia.
Pentingnya Deteksi Dini Terutama untuk Wanita Mulai Usia 30
Berdasarkan data GLOBOCAN 2024, Indonesia mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit ini. Kanker payudara juga menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia. Tingginya angka kasus tersebut menegaskan pentingnya deteksi dini, diagnosis yang tepat, serta penanganan yang sesuai karakteristik penyakit.
Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular (PTM), Kemenkes RI, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid, menekankan bahwa keterlambatan deteksi dan diagnosis masih menjadi tantangan dalam penanganan kanker payudara di Indonesia.
“Sebagian besar kasus kanker payudara ditemukan dalam stadium lanjut, sehingga angka keberhasilan pengobatan pun menurun,” ujarnya. Ia mengimbau perempuan untuk lebih peduli terhadap kesehatan payudara dan memanfaatkan fasilitas pemeriksaan yang tersedia.
“Masalah klasik penanganan kanker payudara di Indonesia antara lain fasilitas layanan terbatas, dan masih banyak masyarakat yang belum sadar pentingnya deteksi dini,” ucapnya. Ini yang membuat pasien datang ke faskes sudah dalam kondisi stadium lanjut.
Kebijakan terkait deteksi dini oleh Kemenkes sudah dituangkan melalui rencana aksi nasional. “Target Kemekes adalah 60% kasus kanker payudara bisa ditemukan di stadium awal. Dengan penemuan kasus yang lebih awal maka kesintasannya lebih tinggi dibandingkan yang ditemukan di stadium lanjut,” terangnya. Sayangnya di tahun 2025 hanya tercapai 10 % secara nasional masih jauh dari target 60%. Dan di tahun 2026 per 30 September baru sekitar 16,19% .
“Kita semua perlu berkolaborasi menyampaikan bagaimana pentingnya deteksi dini kanker payudara. Deteksi kanker payudara bisa dilakukan di Puskesmas melalui Cek Kesehatan Gratis. Wanita usia 30-69 tahun akan mendapatkan skrining atau deteksi kanker payudara. Jika ditemukan kasus yang abnormal maka segera dirujuk ke FPKTL, Kemenkes juga sudah mengeluarkan pedoman tatalaksana kanker payudara ini bisa digunakan sebagai panduan tenaga medis dalam tatalaksana Kanker Payudara,” tutur dr. Uswatun.
Hospital Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed, MARS, menjelaskan bahwa semua wanita di Indonesia harus sehat. Saat terdiagnosis kanker payudara, sekarang perjalanan pengobatan hingga pemulihan sudah sangat memperhatikan kenyamanan pasien. Dengan pendekatan multidisiplin memungkinkan para dokter dari berbagai spesialisasi untuk bersama-sama mempertimbangkan pilihan terapi berdasarkan karakteristik penyakit, kondisi kesehatan, dan kebutuhan masing-masing pasien.
Pertimbangan tersebut menjadi dasar dalam menyusun rencana perawatan, termasuk menentukan tindakan medis dan dukungan pemulihan yang diperlukan. “Masih banyak pasien yang datang ke rumah sakit dalam stadium lanjut. Penting sekali untuk menyadari betapa pentingnya deteksi dini,” ujar dr. Dita. Ia mengingatkan, deteksi dini tidak harus dengan alat.
Cara paling sederhana yaitu melakukan SADARI secara rutin setiap bulan. “Sebagai RS khusus kanker, kami memiliki kewajiban untuk terus melakukan edukasi mengenai kanker, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat,” ucapnya. Ia berharap, sesi edukasi yang digelar hari ini bisa memberikan banyak manfaat bagi masyarakat luas.


