Phobia merupakan ketakutan hebat atau ekstrem terhadap sesuatu, sehingga orang yang mengalaminya sekuat tenaga akan menghindari objek atau situasi tertentu yang ditakutinya.
Salah satuphobia yang dialami wanita usia subur adalah tokophobia, yaitu ketakutan ekstrem terhadap persalinan. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa wanita mengambil tindakan berlebihan agar tidak hamil.
Kalaupun sudah hamil, alih-alih menikmati kehamilan, pengidap tokophobia akan merasa takut setiap minggunya.
Takut melahirkan yang menghantui si tokophobia ini memang cukup mengganggu psikologisnya selama kehamilan. Kabar baiknya, hal ini dapat diatasi dengan terapi yang tepat.
Munculnya Tokophobia, Ketakutan Ekstrem Melahirkan
Proses melahirkan memang tidak mudah dan cukup menantang. Namun hal ini umumnya dapat dilewati dengan baik karena banyak faktor pendukung yang membuat persalinan berjalan lancar.
Namun kondisi ini tidak cukup meyakinkan seseorang yang mengalami tokophobia. Yaitu kondisi ketakutan ekstrem terhadap melahirkan. Tokophobia sendiri dibagi dalam dua kategori, yaitu tokophobia primer yang terjadi pada orang yang belum pernah hamil.
Dan tokophobia sekunder berkembang setelah peristiwa traumatis selama kehamilan atau persalinan. Ini mungkin termasuk persalinan yang sulit atau lahir mati. Di samping itu Tokophobia mungkin berasal dari ketakutan lain, termasuk:
Algophobia: Takut pada rasa sakit.
Haphephobia: Takut disentuh.
Iatrophobia: Takut pada dokter.
Nosocomephobia: Takut pada rumah sakit.
Obesophobia: Takut bertambah berat badan.
Pedophobia: Takut pada anak-anak.
Thanatophobia: Takut akan kematian.
Trypanophobia: Takut pada jarum suntik.
Munculnya tokophobia ini dipicu oleh berbagai faktor. Seperti yang disebutkan dalam penelitian
Archives of Women's Mental Health (2026) bahwa faktor pemicu tokophobia antara lain, pengalaman persalinan traumatis sebelumnya, gejala kecemasan atau depresi, kurangnya dukungan sosial, belum pernah melahirkan, maupun kehamilan yang tidak direncanakan.
Artinya, rasa takut melahirkan bukan sekadar persoalan “mental lemah”, tetapi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, pengalaman hidup, dan sosial.
Gejala dan Tatalaksana Tokophobia
Tokophobia memengaruhi pikiran dan perilaku seseorang. Bahkan tidak sedikit penderita tokophobia mengalami depresi. Juga sejumlah dampak negatif lainnya yang dapat dilihat sebagai gejala tokophobia. Karena ketakutan yang ekstrem akan kehamilan dan melahirkan ini membuat seseorang mengalami :
Menghindari hubungan seksual sekalipun sudah menikah.
Tidak merasa terhubung secara emosional dengan janin yang sedang berkembang
Tidak merasa bersemangat dengan kehamilan.
Mencoba untuk menyembunyikan fakta bahwa dirinya sedang hamil.
Merasa terputus dari pasangan atau orang yang dicintai.
Di balik gejala tersebut, jika pun kehamilan tetap berlanjut, seseorang dengan tokophobia kemungkinan akan memilih persalinan Caesar, meskipun persalinan pervaginam aman bisa dilakukan.
Selain itu yang paling ekstrem adalah melakukan aborsi jika ternyata positif hamil. dan hal ini tidak segan ia lakukan karena ketakutannya yang ekstrem terhadap melahirkan. Sementara itu jika pun telah lahir, pengidap tokophobia cenderung menyerahkan bayinya untuk diadopsi.
Kabar baiknya, tokophobia ini dapat diatasi dengan berbagai pilihan terapi. Salah satunya dengan terapi perilaku kognitif (CBT). Penelitian BMC Pregnancy and Childbirth (2025) ini menunjukkan bahwa intervensi CBT berbasis internet dapat membantu menurunkan ketakutan terhadap persalinan sekaligus meningkatkan childbirth self-efficacy, yaitu keyakinan ibu terhadap kemampuannya menghadapi proses persalinan.
Hal ini menjadi menarik karena menunjukkan bahwa dukungan psikologis tidak selalu harus dilakukan melalui terapi tatap muka.
Selain CBT, penggunaan obat-obatan juga dibutuhkan untuk mengatasi tokophobia ini. Di antaranya dengan pemberian antidepresan yang membantu menyeimbangkan bahan kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur suasana hati.
Selain dengan obat, hipnoterapi juga menjadi pilihan terapi yang menggunakan relaksasi terfokus untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi. Saat berada dalam kondisi ini, penyedia kesehatan mental membantu pasien mengeksplorasi pikiran bawah sadar yang menghambatnya.
Cara lain untuk membantu mengatasi tokophobia ini adalah dengan berbagai teknik relaksasi seperti yoga, meditasi, dan teknik relaksasi lainnya yang dapat menjernihkan pikiran juga membantu mengelola stres dengan tepat. Sehingga membantu pasien merasa lebih percaya diri dalam menghadapi persalinan.
Mums, dengan penanganan yang tepat, antisipasi terhadap persalinan mungkin tidak akan terasa begitu menakutkan atau membebani. Meskipun tokophobia tidak dapat dicegah sepenuhnya, ada beberapa cara untuk mengurangi dampaknya buruknya.
Merasa takut akan persalinan adalah hal yang wajar. Namun, jangan biarkan ketakutan ini berlebihan dan mendominasi hingga berujung tokophobia. Jika kecemasan sudah berlebihan bahkan cenderung ekstrem, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan bantuan dan terapi yang tepat.
Referensi :
Archives of Women's Mental Health. 2026. Global prevalence and associated factors of severe fear of childbirth: a systematic review and meta-analysis.
BMC Pregnancy and Childbirth. 2025. Digital intervention for tokophobia: a randomized controlled trial of internet-based cognitive behavioral therapy on fear of childbirth and self-efficacy among Egyptian pregnant women


