Komunikasi dua arah adalah kunci hubungan yang sehat, dan perlu usaha dari suami maupun istri.
Komunikasi yang macet, di mana salah satu pihak mengharapkan dimengerti, tetapi tidak pernah mengungkapkan secara langsung, bisa menjadi sumber perselisihan karena salah paham.
Pihak wanita umumnya lebih banyak memendam dan berharap suami mengerti dengan sendirinya, padahal bahasa cinta laki-laki atau pasangan kadang berbeda.
Cobalah mulai mengungkapkan perasaan hati dan apa yang diinginkan dari pasangan secara terbuka, dengan melihat situasi dan mood pasangan.
Contoh Komunikasi yang Macet di Pernikahan
“Harusnya dia tahu aku lagi kesel.”
“Kalau memang sayang, masa nggak ngerti?”
“Aku nggak mau ngomong. Harusnya dia peka.”
Pernah berpikir seperti itu ketika sedang bersama pasangan? Ternyata, berharap pasangan bisa “mengerti dengan sendirinya” adalah hal yang cukup umum dalam hubungan. Kita ingin pasangan memahami perasaan, kebutuhan, bahkan keinginan kita tanpa harus selalu menjelaskannya.
Tapi, apakah pasangan benar-benar bisa tahu apa yang kita pikirkan? Belum tentu, Mums! laki-laki secara umum tidak memahami bahasa isyarat, kecuali diungkapkan secara verbal atau langsung.
Menikah Lama Tidak Sama dengan Sudah Mengenal Seluruhnya
Semakin lama menjalin hubungan, biasanya semakin banyak hal yang diketahui pasangan tentang diri kita. Dari kebiasaan, kesukaan, sampai hal-hal yang membuat kita kesal.
Kedekatan ini terkadang membuat Mums berasumsi bahwa pasangan seharusnya sudah tahu apa yang kita rasakan. Padahal, mengenal seseorang bukan berarti bisa membaca pikirannya.
Pasangan mungkin tahu kita tidak suka dibalas singkat, tetapi belum tentu tahu bahwa hari itu kita sedang membutuhkan lebih banyak perhatian.
Alasan Wanita Ingin Dipahami
Wanita cenderung sebagai pihak yanng ingin dipahami. Sebenarnya ini adalah hal yang wajar karena alasan berikut:
1. Kebutuhan emosional
Ada kebutuhan emosional di balik keinginan untuk “dimengerti sendiri”. Kita ingin merasa diperhatikan dan dianggap penting. Misalnya, ketika sedang lelah, kita berharap pasangan menawarkan bantuan tanpa diminta. Ketika sedang sedih, kita berharap pasangan datang dan memeluk tanpa perlu mengatakan bahwa kita sedang membutuhkan dukungan.
Saat pasangan tidak melakukan hal tersebut, kita bisa merasa, “Kok dia nggak peka, sih?” Padahal, kebutuhan untuk diperhatikan itu valid, tetapi cara setiap orang menunjukkan perhatian bisa berbeda.
2. Ingin ketulusan
Sebagian wanita merasa meminta sesuatu kepada pasangan membuat perhatian tersebut menjadi “tidak tulus”. Misalnya, “Kalau aku harus bilang minta ditemani, berarti dia menemani karena diminta, bukan karena benar-benar peduli.”
Padahal, komunikasi kebutuhan bukan berarti memaksa pasangan. Justru dengan mengungkapkan apa yang kita butuhkan, pasangan mendapat kesempatan untuk memahami dan merespons dengan lebih tepat.
Pasangan bukan pembaca pikiran
Kita dan pasangan bisa berada dalam situasi yang sama, tetapi merasakan dan memaknainya secara berbeda.
Ketika kita diam karena sedang kecewa, pasangan mungkin mengira kita sedang ingin sendiri. Ketika kita berharap dipeluk, pasangan mungkin berpikir kita membutuhkan ruang.
Akhirnya, muncul siklus yang cukup familiar:
Berharap → pasangan tidak melakukan → kecewa → diam → pasangan makin tidak tahu → konflik.
Karena itu, komunikasi menjadi penting. Bukan sekadar mengatakan “aku marah”, tetapi membantu pasangan memahami apa yang sebenarnya kita rasakan dan butuhkan.
Daripada berharap pasangan mengerti sendiri, coba katakan dengan jelas. Mengungkapkan kebutuhan tidak harus dilakukan dengan cara yang menuntut.
Misalnya, daripada: “Kamu tuh nggak pernah ngerti aku!” bisa diganti dengan: “Aku lagi capek banget hari ini. Aku pengin ditemani sebentar, boleh?”
Atau:
“Aku sebenarnya lagi kecewa. Aku butuh kamu dengerin dulu, bukan kasih solusi.” Kalimat sederhana seperti ini membuat pasangan lebih mudah memahami apa yang sedang terjadi dan bagaimana ia bisa memberikan dukungan.
Jadi, apakah pasangan harus selalu peka?
Peka memang merupakan bagian penting dari hubungan. Kita tentu berharap pasangan mau memperhatikan perubahan emosi dan kebutuhan kita. Namun, hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling jago membaca pikiran. Hubungan yang sehat juga dibangun dari keberanian untuk mengungkapkan kebutuhan, mendengarkan, dan belajar memahami satu sama lain.
Karena terkadang, pasangan bukan tidak peduli. Mungkin dia hanya tidak tahu apa yang kita butuhkan—karena kita belum mengatakannya. Dan komunikasi yang baik bukan membuat hubungan jadi kurang romantis. Justru, bisa menjadi cara untuk membuat dua orang yang berbeda belajar saling memahami dengan lebih nyata.


