PTSD adalah gangguan stres atau kecemasan ini terjadi setelah seseorang melalui suatu peristiwa yang menyedihkan, menakutkan, sangat menegangkan, traumatis, bahkan mengancam jiwanya.
PTSD pascapersalinan adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis saat melahirkan yang baginya sangat mengerikan.
Pascamelahirkan, seorang wanita bisa mengalami kejadian tidak menyenangkan selama proses persalinan yang kadang menimbulkan pengalaman traumatis.
Kenali Karakteristik PTSD Pascapersalinan
Secara umum gangguan stres pascatrauma (PTSD) adalah suatu kondisi kesehatan mental yang mungkin berkembang setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis. Peristiwa-peristiwa ini termasuk kematian, cedera serius, maupun persalinan yang mengancam jiwa.
Bagi sebagian wanita, melahirkan menjadi salah satu pengalaman paling traumatis dalam hidup mereka. Uniknya, PTSD pascapersalinan ini tidak hanya dapat dialami oleh Mums, melainkan juga oleh Dads atau pasangan, jika ia mengalami trauma psikologis setelah melihat proses persalinan yang begitu menyulitkan.
PTSD pascapersalinan adalah gangguan stres pascatrauma yang muncul setelah seseorang mengalami persalinan sebagai pengalaman yang sangat menakutkan, mengancam, menyakitkan, atau membuatnya merasa kehilangan kendali.
Penelitian dalam American Journal of Obstetrics and Gynecology (2024) menegaskan bahwa PTSD pascapersalinan bukan hanya masalah psikologis jangka pendek, melainkan dapat memberikan dampak besar terhadap: kesejahteraan ibu, pasangan, hubungan ibu dan bayi, pengalaman menjadi orang tua, serta dinamika keluarga.
Karena itu, pengalaman persalinan yang dirasakan traumatis perlu dipandang sebagai masalah kesehatan yang nyata, bukan sekadar “ibu terlalu sensitif”.
Disebutkan bahwa PTSD pascapersalinan dapat terjadi pada 1 dari setiap 10 wanita dalam waktu 4 hingga 6 minggu setelah melahirkan.
Trauma tidak selalu berarti persalinannya secara medis tergolong buruk. Seorang ibu dapat mengalami persalinan sebagai traumatis meskipun ibu dan bayi akhirnya dalam kondisi sehat.
Menurut American College of Obstetrics and Gynecology menyebutkan bahwa PTSD pascapersalinan dapat terjadi pada sekitar 2–15% perempuan, sementara angka tersebut dapat berbeda tergantung populasi dan metode penelitian.
Gejala dan Tanda PTSD Pascapersalinan
Banyak orang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri menjadi orang tua. Namun tidak semua orang mampu melewatinya dengan baik. Inilah yang terjadi pada mereka dengan PTSD pascapersalinan :
Merasa lingkung atau tersesat
Mengalami kilas balik atau mimpi buruk
Hypervigilance atau terlalu berhati-hati
Dihantui kenangan yang mengganggu
Perasaan dan pikiran yang negatif
Kesulitan menjalin ikatan dengan bayi yang baru saja dilahirkan
Takut akan keintiman seksual
Merasa mati rasa secara emosional dan kosong
Tingkat stres yang tinggi
Kecemasan atau depresi
Sakit yang tidak kunjung membaik
Pada mereka yang menderita PTSD pascapersalinan, gejala tersebut akan bertambah buruk. Bahkan akan terus berdampak pada hidupnya selama 4 minggu atau lebih.
Gejala trauma dapat berupa kecemasan, depresi, mudah tersinggung, flashback, sulit berkonsentrasi, rasa bersalah, malu, sulit percaya kepada orang lain, hingga merasa terputus secara emosional.
Mums, perlu dipahami bahwa PTSD pascapersalinan berbeda dengan baby blues dan depresi pascapersalinan. Ketiganya tidaklah sama. Baby blues biasanya berlangsung singkat dan berkaitan dengan perubahan hormonal serta penyesuaian setelah melahirkan.
Sementara itu, depresi pascapersalinan terutama ditandai dengan kesedihan atau kehilangan minat yang menetap, perubahan tidur dan nafsu makan, rasa tidak berharga, serta gangguan fungsi sehari-hari.
Penyebab PTSD Pascapersalinan
PTSD pascapersalinan dapat terjadi setelah peristiwa kelahiran yang traumatis. Bahkan jika staf klinis menganggap kelahiran berjalan 'normal' atau baik-baik saja, namun pengalaman yang dirasakan mungkin masih sulit secara fisik dan emosional. Nah, jika trauma kelahiran tersebut tidak diobati, hal itu bisa berubah menjadi PTSD pascapersalinan.
Berikut ini sejumlah pengalaman melahirkan yang dapat menyebabkan PTSD pascapersalinan antara lain:
Cedera saat lahir pada ibu. Hal ini bisa berupa kerusakan fisik pada perineum atau dasar panggul.
Operasi caesar darurat. Yaitu tindakan operasi yang tidak direncanakan dan mendesak demi keselamatan ibu maupun bayinya.
Persalinan darurat atau komplikasi serius
Perdarahan setelah melahirkan
Persalinan lama atau sangat menyakitkan
Bayi membutuhkan perawatan intensif
Bayi mengalami komplikasi atau kehilangan bayi
Merasa tidak memiliki kendali selama persalinan
Merasa tidak didengar atau tidak dihargai tenaga kesehatan
Prosedur medis yang terasa menakutkan atau dilakukan tanpa pemahaman yang cukup
Riwayat trauma atau kekerasan seksual sebelumnya
Kurangnya dukungan dari pasangan atau keluarga
Seseorang mungkin akan mengalami persalinan sebagai sesuatu yang traumatis jika ia memiliki riwayat trauma sebelumnya, maupun masalah kondisi kesehatan mental lainnya.
Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis
PTSD pascapersalinan adalah diagnosis kesehatan mental. Ini lebih dari sekadar perasaan tertekan setelah pengalaman sulit. Seorang dokter atau psikolog dapat mendiagnosisnya.
Waktu yang tepat untuk menemui dokter atau professional, jika ibu melahirkan mengalami ketidakmampuan menyesuaikan diri menjadi orang tua, terus menghidupkan kembali kelahiran atau mengalami kilas balik, tidak mampu merawat diri sendiri atau bayi, merasa sangat tertekan dan cemas, jika mempunyai pikiran untuk melukai diri sendiri atau bunuh diri, atau mengkhawatirkan keselamatan bayi.
Satu hal yang paling penting adalah jangan abaikan kondisi ini. Segera cari pertolongan medis. Sebab PTSD pascapersalinan tidak dapat disembuhkan tanpa terapi khusus. Selain itu, jika hal ini diabaikan maka kondisi akan semakin memburuk dan berdampak jangka panjang.
Seperti yang dimuat dalam Journal Internasional of Obstetrics and Gynecology (2025) disebutkan bahwa komplikasi kehamilan dan persalinan berkaitan dengan risiko PTSD jangka panjang. Hasilnya menunjukkan bahwa paparan terhadap komplikasi selama kehamilan maupun persalinan berkaitan dengan peningkatan kemungkinan mengalami depresi, gangguan kecemasan, dan PTSD dalam jangka panjang.
Terapi Efektif untuk PTSD Pascapersalinan
Untuk mengatasi gangguan PTSD pascapersalinan ini, ada sejumlah terapi yang dapat dilakukan, di antaranya :
1. Terapi psikologis
Terapi ini mencakup terapi perilaku yang berfokus pada trauma, yaitu cognitive behaviour therapy (CBT) membantu mengubah pola pikir negatif menjadi pola pikir yang positif. Juga terapi pemrosesan Cognitive processing therapy (CPT) yang membantu mengidentifikasi pikiran dan keyakinan yang tidak membantu dan menggantinya dengan pikiran yang seimbang.
Selain itu ada terapi desensitisasi dan pemrosesan ulang gerakan mata atau eye movement desensitisation and reprocessing (EMDR) yang membantu memproses informasi tentang pengalaman menyedihkan yang dialami.
2. Konseling
Terapi atau konseling yang berpusat pada masa kini membantu mengatasi tantangan sehari-hari yang mungkin dihadapi. Berkonsultasi dengan konselor maupun tenaga professional dalam mengahadapi masalah PTSD pascapersalinan ini akan membantu pasien untuk mengakui kesedihannya, menurunkan kesusahannya, mengisi kesenjangan memori dalam kisah kelahiran yang baru saja dirasakan, memahami alasan intervensi medis apa pun selama persalinan. Termasuk berbicara tentang harapan yang tidak terpenuhi, membiarkan emosimu keluar, belajar bagaimana menjaga kesehatan fisik dan mental.
3. Pengobatan
Sebenarnya tidak ada obat khusus untuk PTSD pascapersalinan. Namun, dokter atau psikiater mungkin mempertimbangkan untuk meresepkan antidepresan, seperti Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI). Obat-obatan bekerja dengan baik jika dikombinasikan dengan terapi perilaku kognitif (CBT).
Jika Mums Anda sedang menyusui, konsultasikan dengan dokter sebelum mulai mengonsumsi obat baru.Terkadang dokter menyarankan obat antidepresan untuk PTSD pascapersalinan. Tergantung pada gejala yang dialami, obat antipsikotik mungkin juga bermanfaat.
4. Terapi mandiri
Jika Mums mengalami PTSD pascapersalinan, dibutuhkan waktu untuk merasa lebih baik. Merawat diri sendiri dapat membantu proses pemulihan ini.
Berikut adalah hal-hal yang bisa Mums lakukan:
Jaga kesehatan fisik, usahakan untuk cukup tidur dan istirahat, konsumsi makanan sehat, dan berolahraga secara teratur.
Ceritakan perasaan mengenai pengalaman melahirkan kepada teman atau anggota keluarga tepercaya.
Bergabunglah dengan komunitas atau mendapatkan dukungan personal dari seseorang yang juga mengalami PTSD pascapersalinan.
Cobalah teknik pernapasan untuk relaksasi, relaksasi otot, mindfulness (kesadaran penuh), atau latihan pola pikir yang positif.
Mintalah dan terimalah bantuan praktis dari keluarga dan teman. Seperti bantuan berbelanja kebutuhan sehari-hari, bersih-bersih rumah, dan mengurus bayi. Sehingg punya banyak waktu untuk beristirahat dan merawat diri sendiri.
Batasi penggunaan media sosial jika cerita seputar kelahiran membuat pasien merasa terganggu. Misalnya, batasi penggunaan media sosial hingga 10 menit sehari dan sesuaikan pengaturan agar lebih jarang melihat topik yang memicu rasa tidak nyaman.
Hindari sementara waktu percakapan mengenai pengalaman melahirkan jika hal tersebut semakin mengganggu.
Tunggulah sampai Mums dan pasangan merasa siap sebelum berhubungan intim setelah melahirkan. Membutuhkan waktu untuk bisa merasa nyaman dengan keintiman setelah pengalaman persalinan yang traumatis. Tidak masalah juga untuk meminta pasangan berhenti jika Musm merasa terganggu atau tidak nyaman saat berhubungan intim.
PTSD Pascapersalinan, Bukan Trauma Biasa
Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) pascapersalinan, terutama ketika ibu mengalami atau merasa mengalami persalinan sebagai peristiwa traumatis. Trauma pada PTSD pascapersalinan ini sangat subjektif. Dua orang dapat mengalami persalinan yang hampir sama, tetapi hanya salah satunya yang merasa sangat trauma.
Gejala utamanya berkaitan dengan pengalaman traumatis, seperti flashback, mimpi buruk, penghindaran, rasa sangat waspada, atau respons emosional kuat ketika teringat persalinan.
Namun, kondisi-kondisi tersebut dapat muncul bersamaan sehingga diperlukan penilaian profesional. PTSD bukan sekadar “kurang bersyukur” atau “terlalu memikirkan kejadian masa lalu”. Kondisi ini dapat membutuhkan bantuan profesional. Seperti psikolog, psikiater, dokter kandungan, atau dokter yang menangani kesehatan mental perinatal.
Terapi psikologis merupakan salah satu pendekatan penting dalam menangani PTSD. Jenis terapi dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan ibu. Jangan memaksa diri untuk “melupakan”
Pemulihan bukan berarti menghapus pengalaman buruk. Tujuannya adalah membantu otak dan tubuh memproses pengalaman tersebut sehingga kenangan tidak lagi mengendalikan kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini dukungan pasangan dan keluarga sangat dibutuhkan untuk mendengarkan tanpa menyalahkan, menemani konsultasi, membantu merawat bayi, dan memberikan ruang bagi ibu untuk beristirahat.
Mums, jangan menunggu sampai gejalanya semakin berat. Segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan jika terus mengalami flashback atau mimpi buruk, sangat takut membicarakan atau mengingat persalinan, menghindari pemeriksaan atau fasilitas kesehatan karena trauma, mengalami kecemasan berat, sulit tidur meskipun bayi sedang tidur, merasa tidak mampu menjalani aktivitas sehari-hari, merasa sangat bersalah atau tidak berharga, mengalami depresi atau kecemasan yang semakin berat.
Jika muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi, cari pertolongan medis darurat segera dan jangan biarkan ibu sendirian. Sebab PTSD pascapersalinan sebenarnya dapat disebuhkan dengan terapi yang tepat.
Mengalami trauma setelah melahirkan tidak berarti seorang ibu lemah atau gagal menikmati kelahiran bayinya. Pengalaman persalinan yang traumatis dapat meninggalkan dampak psikologis yang nyata, bahkan ketika kondisi ibu dan bayi secara medis baik-baik saja. Karena itu, keluhan ibu perlu didengarkan dan tidak dianggap berlebihan.
Dengan diagnosis yang tepat, dukungan keluarga, dan penanganan profesional yang sesuai, ibu dapat pulih dan kembali merasa aman dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang ibu. Yang dialami ibu valid. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi bagian dari proses pemulihan.
Referensi :
1. American Journal of Obstetrics and Gynecology. 2024. Childbirth-related posttraumatic stress disorder: definition, risk factors, pathophysiology, diagnosis, prevention, and treatment.
2. Journal International of Obstetrics and Gynecology. 2025. Pregnancy and birth complications and long-term maternal mental health outcomes: A systematic review and meta-analysis.


