Banyak orang tua khawatir bayi telan air ketuban bikin gangguan pernapasan. Padahal tidak semua kasus seperti itu mengalami masalah serius. Selama air ketuban bersih dan jernih tidak ada dampak signifikan.
Hanya saja dalam dunia medis, Meconium Aspiration Syndrome (MAS) atau sindrom aspirasi meconium, yaitu bayi menelan air ketuban yang tercampur meconium atau feses pertama bayi yang terbentuk di dalam usus sejak masih dalam kandungan.
Warnanya hijau tua kehitaman, kental, dan lengket. Normalnya, mekonium baru akan keluar setelah bayi lahir, biasanya dalam 1–3 hari pertama kehidupan.
Dampak bayi telan air ketuban bercampur meconium
Seperti yang dilansir dalam penelitian yang dimuat di laman Frontiers Study (2023) MAS terjadi ketika bayi baru lahir menghirup mekonium (feses pertama bayi) ke dalam paru-paru, sehingga menimbulkan gangguan pernapasan akibat sumbatan jalan napas, peradangan paru, dan inaktivasi surfaktan.
Kondisi ini sering berkaitan dengan stres janin (hipoksia), terutama pada bayi yang mengalami tekanan sebelum atau saat persalinan. Penelitian MAS berfokus pada faktor risiko, yaitu mekonium kental, skor Apgar rendah, dan kelahiran post-term. Meskipun angka kematian menurun seiring kemajuan perawatan, morbiditas pada penyintas masih menjadi perhatian.
MAS terjadi ketika bayi menghirup campuran air ketuban dan mekonium ke dalam paru-paru sebelum, selama, atau segera setelah lahir. Mekonium yang masuk ke saluran napas dapat menyumbat jalan napas, mengiritasi jaringan paru, dan mengganggu pertukaran oksigen.
Gejalanya ditandai dengan napas cepat atau berbunyi (mendengus), dada tampak tertarik saat bernapas, kulit atau bibir tampak kebiruan (sianosis), bayi terlihat lemas dan kurang responsive, dan tekanan darah rendah.
Pada kasus berat, bayi bisa mengalami henti napas sesaat akibat saluran napas tersumbat mekonium.
Penyebab dan penanganan bayi telan air ketuban
Tidak semua bayi dengan air ketuban bercampur mekonium akan mengalami MAS. Namun, kondisi ini menjadi tanda bagi tim medis untuk melakukan pemantauan lebih ketat saat persalinan dan setelah bayi lahir.
Berikut ini beberapa penyebab bayi telan air ketuban yang perlu Mums ketahui :
Kehamilan lewat waktu (lebih dari 40 minggu)
Persalinan lama atau sulit
Penurunan kadar oksigen pada janin
Infeksi selama kehamilan
Kondisi ibu seperti hipertensi atau diabetes
Sementara itu penanganan MAS harus dilakukan segera setelah lahir. Berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi MAS :
1. Penyedotan meconium dari hidung, mulut, dan tenggorokan
2. Pemasangan selang napas (intubasi) bila diperlukan
3. Bantuan napas dengan oksigen, masker, atau ventilator
4. Jika dibutuhkan perawatan di ruang khusus atau NICU untuk pemantauan ketat
Pada kondisi tertentu, bayi mungkin memerlukan antibiotik untuk mencegah atau mengobati infeksi. Alat bantu napas jangka pendek, maupun terapi lanjutan bila terjadi komplikasi yang mungkin terjadi.
Kabar baiknya, sebagian besar bayi dengan MAS tidak mengalami masalah jangka panjang. Mayoritas bayi dengan MAS ringan hingga sedang dapat pulih sepenuhnya dalam hitungan hari. Bayi dengan komplikasi berat mungkin membutuhkan pemantauan dan perawatan lebih lama, tetapi kasus ini relatif jarang.
Pencegahan MAS bisa dilakukan sesuai dengan penyebab utamanya yaitu stres janin. deteksi dini stres janin menjadi pencegahan paling efektif. Selain itu beberapa langkah yang dapat emmbantu menurunkan risiko MAS, di antaranya rutin kontrol kehamilan, pemantauan kondisi janin menjelang persalinan, penanganan cepat jika air ketuban berwarna hijau atau cokelat, dan pertimbangan induksi persalinan pada kehamilan lewat waktu.
Mums, meski bayi telan air ketuban mauput MAS dapat membuat momen kelahiran terasa menegangkan, kondisi ini jarang berbahaya dan sangat bisa ditangani. Memang perlu diwaspadai, tetapi bukan berarti selalu berbahaya atau fatal. Dengan pemantauan ketat dan penanganan medis yang tepat, sebagian besar bayi yang menelan air ketuban dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
Referensi :
Frontiers. 2023. The incidence and determinants of the meconium-aspiration syndrome among mothers with meconium-stained amniotic fluid after emergency cesarean section


