Tidur merupakan salah satu kebutuhan utama bayi karena berperan penting dalam proses tumbuh kembangnya. Sebagian bayi memang tampak lebih nyenyak saat tidur dengan posisi tengkurap. Di sisi lain, posisi ini sering dikaitkan dengan risiko gangguan pernapasan hingga sindrom kematian mendadak pada bayi
Oleh karena itu, banyak orang tua masih bertanya-tanya, bolehkah bayi tidur tengkurap? Simak penjelasannya berikut ini agar Mums dan Dads dapat menciptakan lingkungan tidur yang aman bagi Si Kecil.
Bolehkah Bayi Tidur Tengkurap?
Secara umum, bayi tidak dianjurkan tidur dalam posisi tengkurap, terutama pada usia di bawah 1 tahun. Rekomendasi ini dikeluarkan oleh American Academy of Pediatrics (AAP) yang menyarankan agar bayi selalu ditidurkan dalam posisi telentang, baik saat tidur malam maupun tidur siang.
Penelitian dari ISPID – Evidence-Based Guidelines (2023) menerbitkan pedoman internasional berbasis bukti yang memperkuat rekomendasi dari berbagai negara. Beberapa poin utamanya menyatakan bahwa posisi telentang tetap merupakan pilihan paling aman, termasuk pada bayi dengan refluks gastroesofageal. Tidak ada kondisi yang membuat posisi tengkurap lebih dianjurkan dibandingkan dengan telentang.
Oleh karena itu, posisi telentang terbukti menjadi cara paling aman untuk mengurangi risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau sindrom kematian bayi mendadak. SIDS adalah kematian mendadak pada bayi di bawah usia 1 tahun yang sering terjadi saat tidur dan penyebab pastinya belum diketahui.
Meski demikian, ada situasi ketika bayi yang sudah mampu berguling sendiri dari telentang ke tengkurap dan sebaliknya dapat mengubah posisi tidurnya tanpa perlu terus-menerus dibalikkan oleh orang tua. Biasanya, kemampuan ini mulai muncul pada usia sekitar 4–6 bulan. Namun, orang tua tetap perlu memastikan bahwa bayi selalu diletakkan dalam posisi telentang saat mulai tidur.
Risiko Bayi Tidur Tengkurap yang Perlu Dipahami
Mums, tidur tengkurap pada bayi dapat menimbulkan berbagai masalah, terutama pada bayi yang belum mampu mengontrol gerakan kepala dan tubuhnya dengan baik. Berikut ini beberapa risiko yang dimaksud:
1. Meningkatkan risiko SIDS
Posisi tengkurap merupakan salah satu faktor risiko terbesar terjadinya SIDS. Dalam posisi ini, bayi berisiko mengalami gangguan pernapasan akibat saluran napas yang terhambat. Kampanye “Back to Sleep" yang menganjurkan bayi tidur telentang berhasil menurunkan angka kematian akibat SIDS secara signifikan di berbagai negara.
2. Menghirup kembali karbon dioksida
Saat tidur tengkurap, wajah bayi bisa terlalu dekat dengan kasur atau permukaan tidur, sehingga menyebabkan bayi menghirup kembali udara yang telah diembuskan. Walhasil, kadar karbon dioksida meningkat dan kadar oksigen menurun.
Pada bayi yang sistem sarafnya belum matang sempurna, kondisi ini dapat mengganggu respons alami untuk bangun ketika mengalami kekurangan oksigen.
3. Risiko kepanasan berlebih
Bayi yang tidur tengkurap cenderung lebih sulit melepaskan panas tubuh. Suhu tubuh yang terlalu tinggi atau overheating juga diketahui meningkatkan risiko SIDS.
4. Gangguan jalan napas
Leher bayi yang belum kuat dapat membuat posisi kepala menjadi kurang ideal saat tengkurap. Akibatnya, saluran napas bisa tertekan atau terhalang sehingga proses bernapas menjadi tidak optimal.
Posisi yang Aman untuk Bayi Tidur
Posisi tidur yang aman untuk bayi adalah telentang di atas permukaan tidur yang rata dan kokoh. Berikut beberapa rekomendasinya:
1. Bayi usia 0-12 bulan
Selalu tidurkan bayi dalam posisi telentang. Gunakan kasur yang datar, padat, dan sesuai dengan ukuran tempat tidur bayi. Pastikan kepala dan wajah bayi tidak tertutup benda apa pun.
2. Jika bayi sudah bisa berguling
Bila bayi sudah mampu berguling sendiri dari telentang ke tengkurap maupun sebaliknya, orang tua tidak perlu terus-menerus mengubah posisinya saat tidur. Namun, tetap letakkan bayi dalam posisi telentang setiap kali memulai tidur.
Tips Menciptakan Lingkungan Tidur yang Aman untuk Bayi
Selain memperhatikan posisi tidur, Mums dan Dads juga perlu memastikan lingkungan tidurnya. Berikut ini tips menciptakan lingkungan tidur yang aman untuk bayi:
1. Gunakan tempat tidur yang kosong
Hindari benda-benda seperti bantal, guling, selimut tebal, boneka, di dalam tempat tidur bayi. Benda-benda tersebut dapat meningkatkan risiko bayi mengalami sesak napas.
2. Pilih kasur yang padat
Gunakan kasur yang kokoh dan dilapisi sprei yang pas. Hindari kasur yang terlalu empuk karena dapat membuat wajah bayi tenggelam.
3. Hindari tidur bersama di sofa
Tertidur bersama bayi di sofa atau kursi berisiko tinggi menyebabkan bayi terjepit atau terjatuh. Tempatkan tempat tidur bayi di kamar yang sama dengan orang tua selama setidaknya 6 bulan pertama.
4. Jaga suhu ruangan tetap nyaman
Kenakan pakaian tidur yang nyaman dan tidak berlapis berlebihan. Jaga suhu ruangan agar tidak terlalu panas, dan siapkan aroma yang menenangkan sehingga bayi dapat tidur dengan nyenyak.
Mums, itulah tips tidur yang aman untuk bayi. Sebaiknya bayi tidak tidur dalam posisi tengkurap, terutama selama tahun pertama kehidupannya. Posisi tidur yang paling aman untuk bayi adalah telentang karena terbukti dapat menurunkan risiko SIDS dan gangguan pernapasan saat tidur.
Jika Si Kecil sudah mampu berguling sendiri, Mums tidak usah panik, bila ia mengubah posisi tidurnya. Namun, biasakan selalu menidurkan bayi dalam posisi telentang dan ciptakan lingkungan tidur yang aman dengan kasur yang kokoh, tempat tidur bebas benda-benda berisiko, serta suhu ruangan yang nyaman.
Referensi :
Scientific Reports. 2023. Implementation of safe infant sleep recommendations: a longitudinal birth cohort study.
International Society for the Study and Prevention of Perinatal and Infant Death (ISPID). 2023. Safe Infant Sleep Recommendations: Evidence-Based Guidelines.


