Semua bayi pasti menangis karena menangis adalah satu-satunya cara bayi berkomunikasi. Lapar menangis, popok basah menangis, kedinginan menangis, atau kangen dekapan ibunya pun bayi akan menangis. Tapi menangis yang terus-menerus sampai Mums tidak mampu lagi menenangkannya, itu adalah kolik.
Cara mengatasi kolik bisa dilakukan dengan mengayun bayi dengan lembut, membedong, memperdengarkan white noise, atau mengusap kepala dan perutnya. Namun, kadang Mums sendiri bisa kewalahan, makanya tidak ada salahnya minta bantuan Dads atau dukungan dari pengasuh dan keluarga lainnya.
Artikel ini akan membahas secara lengkap tanda bayi mengalami kolik, apa yang harus dilakukan, sampai kapan harus mencari bantuan profesional.
Apa Itu Kolik dan Seberapa Umum Terjadi pada Bayi?
Kolik umumnya dialami bayi di awal kehidupannya, sekitar usia dua minggu atau tiga minggu. Menurut penelitian yang dipublikasikan di NCBI (2023), penyebab bayi kolik atau menangis terus-menerus, kencang, dan nampak kesakitan adalah karena mengalami ketidaknyamanan perut.
Tangisan yang terus-menerus dan tak tidak bisa ditenangkan dengan cara biasa pada bayi merupakan ciri khas kolik infantil atau kolik pada bayi. Menurut penelitian yang sama, kolik dialami hampir 20% bayi baru lahir dan bayi yang sudah lebih tua usianya.
Kolik akan mencapai puncaknya sekitar usia 6 minggu dan biasanya mereda pada usia 12 minggu. Kolik membuat orang tua khawatir karena bayi menangis dengan keras tanpa alasan yang jelas dan tidak ada yang dapat meredakan tangisannya. Biasanya, kolik sering terjadi di malam hari ketika orang tua sedang dalam fase butuh istirahat setelah seharian lelah mengurus bayi.
Ciri-ciri kolik dapat meliputi:
Tangisan keras dan berat yang mungkin terdengar seperti jeritan atau kesakitan.
Menangis tanpa alasan yang diketahui. Tangisan kolik tidak seperti tangisan bayi saat lapar atau basah.
Rewel bahkan setelah tangisan berkurang.
Bisanya terjadi di malam hari.
Perubahan warna wajah, seperti kulit memerah
Disertai ketegangan tubuh, seperti kaki yang ditarik ke atas dan kaku, lengan kaku, tangan terkepal, punggung melengkung, atau perut tegang.
Kolik umumnya akan mereda bahkan hilang sebelum usia 6 bulan, dan kolik tidak akan menyebabkan masalah medis jangka pendek atau jangka panjang bagi anak.
Penyebab Kolik pada Bayi Baru Lahir Menurut Para Ahli
Sampai saat ini penyebab kolik tidak diketahui. Banyak faktor yang mungkin berperan dalam kolik. Namun, para peneliti tidak mengetahui mengapa kolik paling sering dimulai pada akhir bulan pertama kehidupan, bagaimana variasinya di antara bayi, mengapa terjadi pada waktu-waktu tertentu dalam sehari, dan mengapa kolik sembuh dengan sendirinya seiring waktu.
Namun, terdapat beberapa faktor yang mungkin berperan dalam kolik:
Sistem pencernaan bayi yang belum sepenuhnya terbentuk.
Tidak cukup bakteri sehat di usus.
Bayi sensitif terhadap makanan tertentu atau tidak dapat mentolerirnya.
Bayi menyusu terlalu banyak, terlalu sedikit, atau tidak cukup bersendawa.
Penelitian di Pediatric Clinical Advisor Edisi kedua (2007) menyatakan bahwa alergi susu sapi dan kedelai mungkin memainkan peran utama dalam kolik. Jadi daripada memberikan obat-obatan yang mencoba mengurangi gejala, lebih baik mengatasi akar penyebabnya dengan menghilangkan makanan penyebab kolik dari diet ibunya, atau beralih ke formula protein yang sudah dicerna.
Pengenalan makanan padat terlalu dini juga dapat menyebabkan kolik dan membuat anak rentan terhadap perkembangan atopi atau alergi. Dianjurkan agar pengenalan makanan padat dimulai paling cepat pada usia 6 bulan.
Ciri-ciri Bayi yang Mengalami Kolik vs Tangisan Biasa
Orang tua baru mungkin belum bisa membedakan tangisan biasa dengan kolik pada bayi. Karena bayi menangis dianggap wajar dan kodrat bayi baru lahir. Namun, ketika bayi menangis dan Mums tidak bisa menenangkan dirinya sama sekali, dan ia terus saja menangis tanpa sebab yang jelas, ini adalah kolik.
Berikut ini cara membedakan kolik dan tangisan biasa
1. Tangisan biasa
Durasi singkat. Tangisan bayi yang bukan disebabkan kolik umumnya tidak berkepanjangan alias durasinya singkat.
Penyebabnya jelas. Misalnya bayi mengantuk, lapar, popoknya basah. Ketika Mums menidurkannya, menyusuiinya atau mengganti popoknya, tangisan akan berhenti.
Usia bayi. Menangis terjadi di usia berapa pun, sebagai bentuk komunikasi bayi saat ia merasa tidak nyaman.
2. Kolik
Durasi lama. Kolik bisa menyebabkan bayi menangis berjam-jam tanpa henti, lebih dari tiga jam sehari, setidaknya tiga hari seminggu, dan lebih dari 3 minggu.
Waktu bisa diprediksi. Tangisan biasanya dimulai tiba-tiba pada waktu yang hampir sama setiap hari, umumnya malam hari. Tetapi ketika bayi Anda tidak menangis, ia berperilaku normal.
Usia. Biasanya, bayi mengalami kolik dalam minggu pertama setelah lahir. Puncaknya terjadi antara usia 4 dan 6 minggu. Kemudian, biasanya berakhir secara tiba-tiba ketika bayi berusia 3 hingga 4 bulan.
Penyebabnya tidak jelas. Kolik terjadi pada bayi yang sehat, namun ia menangis berlebihan tanpa alasan yang jelas. Sering kali, tidak ada yang dapat Mums lakukan untuk menenangkan bayi yang kolik.
Ciri lainnya. Kolik biasanya disertai ciri bayi tampak mengepalkan tangan, menarik kaki ke arah perut, wajah memerah, dan perut terasa tegang atau kembung.
Cara Menenangkan Bayi Kolik yang Terbukti Efektif
Tidak ada obat untuk mengatasi kolik, tetapi ada langkah-langkah yang dapat Mums lakukan untuk membantu meredakan kolik pada bayi baru lahir.
1. Tetap berikan ASI
Jika Mums menyusui bayi, tetap berikan ASI. Menyusu dapat sedikit menenangkan bayi karena ada kontak erat dengan ibunya. Pada beberapa bayi, menyusu lebih sering dalam porsi kecil juga dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan.
2. Menenangkan bayi
ada beberapa cara menenangkan bayi yang menangis terus menerus.
Kontak kulit ke kulit. Dekap bayi Mums di pelukan Mums, selimuti dan puk-puk badannya.
Mengayunkan, baik di kursi goyang atau di pelukan Mums sambil bergoyang dari sisi ke sisi
Mengusap kepala bayi dengan lembut atau menepuk punggung atau dadanya
Membedong dengan membungkusnya erat-erat dengan selimut bayi
Bernyanyi atau ajak bicara bayi
Memutar musik lembut yang mungkin akan disukai bayi.
Berjalan-jalan dengan bayi di pelukan atau kereta dorong
Suara dan getaran berirama. Sering disebut white noise yang akan membantu bayi mengingat masa tenangnya di rahim Mums, seperti suara kipas atau vacuum cleaner.
Menyendawakan bayi. Memastikan bayi bersendawa setelah menyusu juga penting untuk mencegah penumpukan udara di lambung.
Mandi air hangat disukai sebagian besar bayi, tetapi tidak semua bayi suka.
Menggunakan suara yang pelan. Mematikan elektronik seperti TV dan telepon
Pijat perut bayi dengan lembut searah jarum jam dapat membantu mengurangi gas di perut.
Cara Mencegah Kolik
Kolik tidak bisa dicegah, tapi Mums bisa mencoba mengurangi gejala ketidaknyamanan pada perut bayi dengan melakukan hal ini:
1. Catat yang Mums makan
Catat semua makanan dan minuman yang Mums konsumsi dalam jurnal makanan. Semua yang Mums konsumsi akan memengaruhi bayi karena bayi hanya mendapatkan makanan dari ASI. Mums mungkin harus berhenti makan produk susu, kafein, cokelat, kacang-kacangan, dan makanan pemicu kolik bayi lainnya.
2. Ganti formula
Jika Mums memberi susu formula, Mums mungkin ingin mencoba merek susu formula yang berbeda. Bayi dapat sensitif terhadap protein tertentu dalam susu formula. Bicaralah dengan dokter anak kalau Mums mau ganti formula.
Apakah Kolik Berbahaya dan Kapan Harus ke Dokter?
Kolik umumnya tidak berbahaya dan bukan tanda penyakit serius. Kondisi ini akan membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia bayi, biasanya setelah usia 3–4 bulan.
Namun, Mums tetap perlu waspada jika tangisan disertai gejala lain seperti demam, muntah berulang, diare, berat badan tidak naik, atau bayi tampak sangat lemas. Segera konsultasi ke dokter jika Mums dan Dads merasa ada sesuatu yang berbeda dari pola tangisan bayi atau jika bayi tampak sangat tidak nyama.
Tips Menjaga Kesehatan Mental Orang Tua Saat Menghadapi Bayi Kolik
Kolik menimbulkan stres bagi orang tua. Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Midwifery (2022) menemukan skor depresi, kecemasan, dan stres pada ibu yang memiliki bayi dengan kolik secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang memiliki bayi yang tidak kolik, Selain itu, seiring meningkatnya skor depresi ibu, tingkat keterikatan ibu dengan bayinya juga menurun.
Menghadapi bayi kolik bisa sangat melelahkan secara fisik dan emosional, terutama karena tangisan yang berlangsung lama dan sulit ditenangkan. Penting bagi orang tua untuk saling bergantian menjaga bayi agar tidak mengalami kelelahan berlebihan.
Dampak stres saat menenangkan bayi kolik juga bisa memicu shaken baby syndrome. Beberapa orang tua mengguncang-guncang bayi dengan keras, yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada otak bayi, bahkan kematian.
Risiko membahayakan bayi lebih besar bagi orang tua yang tidak tahu cara menenangkan bayi menangis, belum mempelajari tentang kolik, dan tidak memiliki dukungan yang mereka butuhkan untuk merawat bayi yang mengalami kolik.
1. Beristirahat
Tangisan terus-menerus sangat melelahkan. Jika Mums sudah di tahap sangat lelah dan stres, baringkan bayi di tempat tidurnya selama 10-15 menit untuk menenangkan pikiran. Mums berhak istirahat sejenak.
Mengambil jeda sejenak sangat membantu menjaga kondisi mental. Ingat bahwa kolik bukan karena kesalahan orang tua, melainkan fase perkembangan bayi yang akan berlalu.
2. Mintalah Bantuan
Bergantianlah menenangkan bayi dengan Dads, atau mintalah ibu atau mertua yang Mums percayai untuk menjaga bayi sehingga Mums dapat beristirahat sejenak.
Jika merasa kewalahan, mencari dukungan dari tenaga kesehatan atau konselor laktasi juga sangat dianjurkan agar orang tua tetap tenang dan bayi tetap mendapatkan perawatan terbaik.
Kesimpulan
Kolik merupakan kondisi yang cukup umum terjadi pada bayi, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupan. Meskipun ditandai dengan tangisan yang berlangsung lama dan sulit ditenangkan, kolik umumnya bukan kondisi yang berbahaya dan akan membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia bayi. Hingga saat ini, penyebab pasti kolik belum diketahui, tetapi diduga berkaitan dengan perkembangan sistem pencernaan dan kemampuan bayi beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Bagi orang tua, memahami tanda-tanda kolik dan cara menenangkan bayi dapat membantu menghadapi kondisi ini dengan lebih tenang. Yang tak kalah penting, orang tua juga perlu menjaga kesehatan fisik dan mental mereka selama mendampingi bayi melewati fase kolik.
Jika tangisan bayi disertai gejala lain yang mengkhawatirkan atau membuat orang tua ragu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar penyebab lain yang lebih serius dapat disingkirkan. Dengan dukungan yang tepat, fase kolik dapat dilalui dengan lebih baik oleh bayi maupun orang tua.
Referensi:
Pediatric Clinical Advisor Edisi Kedua. 2007. Colic
NCBI. 2023. Infantile Colic
Jurnal Midwifery (2022). Maternal attachment and mental health status in mothers who have babies with infantile colic


