Semua orang tua pasti ingin anaknya cerdas. Ibaratnya orang tua akan melakukan apa saja agar anaknya dapat pendidikan terbaik: memilih sekolah terbaik, mainan edukatif, hingga kelas stimulasi. Tapi sering dilupakan bahwa fondasi kecerdasan justru sudah dibangun jauh lebih awal: sejak bayi masih berada di dalam kandungan.
Kalau menginginkan anak yang cerdas, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengoptimalkan perkembangan otak sejak janin di dalam kandungan. Mengapa? karena Mulai kapan? Trimester awal, dua atau trimester tiga?
Jangan kaget ya, Mums! Dijelaskan dr. Andrew Wijaya, Sp.OG, ternyata otak adalah salah satu organ yang paling awal berkembang dan perkembangannya belum berhenti bahkan ketika bayi sudah lahir loh! Sebelum bayi lahir, miliaran sel saraf sudah mulai terbentuk dan saling terhubung. Proses ini berlangsung bertahap dan dan setiap tahap punya “momen emas” yang menentukan kemampuan belajar, emosi, serta kecerdasan anak di masa depan.
Jadi bagaimana cara agar otak anak berkembang optimal sejak sangat dini?
DHA, Rahasia Perkembangan Otak
Salah satu nutrisi terpenting dalam proses pembentukan sel-sel otak janin adalah DHA (Docosahexaenoic Acid), yaitu asam lemak omega-3 yang menjadi komponen utama pembentuk jaringan otak dan mata janin.
""Selama masa kehamilan, dimulai dari minggu ketiga kehamilan hingga trimester tiga, otak janin berkembang sangat cepat. Jutaan sel saraf baru terbentuk setiap harinya. Agar proses ini berjalan optimal, tubuh membutuhkan bahan baku yang tepat. Komponen terbesar dari struktur otak adalah lemak." jelas dr. Andrew.
Di sinilah peran DHA menjadi krusial. Sekitar 40% lemak pada otak bayi tersusun dari DHA, dan kandungannya paling tinggi pada area yang berhubungan dengan daya ingat, konsentrasi, serta kemampuan belajar. Meningat pembentukan otak sejak dini yaitu 3-4 minggu sejak terjadi pembuahan, maka asupan DHA yang cukuo sudah sangat dibutuhkan sejak awal kehidupan terjadi. Jadi, jangan lagi bilang DHA tidak dibutuhkan sejak awal kehamilan ya!
Yang perlu dipahami, janin tidak dapat memproduksi DHA sendiri. Semua kebutuhan DHA diperoleh dari ibu melalui plasenta. Kabar buruknya, tubuh ibu juga tidak dapat memproduksi DHA yang cukup tanpa asupan yang cukup dari makanan / suplemen. Artinya, apa yang ibu hamil konsumsi sangat menentukan perkembangan struktur otak bayi. Jika asupan DHA kurang, pembentukan sel saraf bisa kurang optimal dan berpengaruh pada kemampuan kognitif anak di kemudian hari.
DNA juga penting berperan dalam pembentukan plasenta
dr. Andrew menambahkan, DHA (Docosahexaenoic Acid) berperan penting dalam pembentukan dan fungsi plasenta dengan mendukung struktur membran sel trofoblas, yaitu sel yang membentuk jaringan plasenta. Kandungan DHA membuat membran sel lebih fleksibel dan stabil sehingga membantu proses pembelahan, diferensiasi, serta pembentukan vili korionik yang berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Selain itu, DHA turut mendukung pembentukan pembuluh darah plasenta (angiogenesis), sehingga aliran darah uteroplasenta menjadi lebih optimal.
Selain peran struktural, DHA juga membantu mengatur respons inflamasi selama kehamilan melalui pembentukan mediator antiinflamasi. Keseimbangan ini penting untuk menjaga kesehatan plasenta dan menurunkan risiko komplikasi seperti preeklampsia serta pertumbuhan janin terhambat (janin kecil/BBLR). Dengan aliran darah dan transfer nutrisi yang lebih baik, kecukupan DHA tidak hanya mendukung perkembangan otak janin, tetapi juga membantu memastikan pertumbuhan janin berlangsung optimal.
Penelitian Manfaat DHA pada Kecerdasan anak
Berbagai penelitian menunjukkan ibu dengan asupan DHA cukup selama kehamilan cenderung melahirkan bayi dengan kemampuan fokus visual lebih baik, respons belajar lebih cepat, dan perkembangan bahasa lebih optimal saat balita.
Salah satunya penelitian dari Norwegia (Researchgate, 2018),yang menemukan status DHA yang tinggi bayi pada usia tiga bulan berhubungan dengan kemampuan pemecahan masalah bayi pada usia 12 bulan.
Hasil penelitian ini menekankan pentingnya bagi ibu hamil dan menyusui untuk memiliki status DHA yang memadai melalui asupan makanan laut atau sumber lain yang kaya DHA.
Penelitian di ScienceDirect (2025) juga menunjukkan manfaat DHA berperan dalam perkembangan retina sehingga mendukung ketajaman penglihatan sejak lahir.
Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh bayi. Ibu hamil juga membutuhkan DHA untuk menjaga kesehatan mental selama kehamilan dan setelah persalinan. Kadar DHA yang baik berhubungan dengan kestabilan mood, membantu konsentrasi, serta dapat menurunkan risiko depresi pasca melahirkan atau baby blues.
Kebutuhan DHA ibu hamil berkisar 200–300 mg per hari. Sumber alaminya dapat diperoleh dari sumber laut seperti alga laut, ikan salmon, ikan sarden, dan ikan tuna. Namun pada praktiknya, tidak semua ibu hamil mampu memenuhi kebutuhan tersebut hanya dari makanan. Beberapa ibu tidak menyukai aroma ikan, khawatir kandungan merkuri, atau tidak mengkonsumsi ikan dalam jumlah cukup secara rutin.
Karena itu, banyak tenaga kesehatan menyarankan tambahan suplemen kehamilan yang mengandung DHA untuk membantu memenuhi kebutuhan harian. Salah satu yang diformulasikan khusus untuk ibu hamil adalah Folamil Genio yang mengandung DHA 100 mg guna mendukung perkembangan otak janin sejak dini. DHA pada Folamil Genio terbuat dari alga sehingga mengurangi risiko kontaminasi logam berat dan bau amis.
Perlu diingat, kecerdasan anak bukan hanya faktor genetik. Nutrisi selama kehamilan memegang peran besar dalam membentuk potensi tersebut. Dengan memastikan asupan DHA tercukupi, ibu sudah memberikan investasi awal bagi kemampuan belajar, fokus, dan daya ingat anak di masa depan.
Mempersiapkan anak cerdas tidak dimulai saat ia masuk sekolah, melainkan sejak detak jantung pertamanya terbentuk. Dari dalam kandungan, setiap nutrisi yang ibu konsumsi akan menjadi bagian dari pertumbuhan dan masa depan si kecil.
Referensi:
Nutrients. 2018. Maternal DHA Status during Pregnancy Has a Positive Impact on Infant Problem Solving: A Norwegian Prospective Observation Study
Science Direct. 2025. Impact of n-3 polyunsaturate fatty acids supplementation on visual health throughout the life cycle: A systematic review


