Mengasuh anak merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan waktu, energi, kesabaran, dan kerja sama. Dalam praktiknya, tanggung jawab pengasuhan masih sering dianggap lebih banyak berada di pundak ibu. Mulai dari menyiapkan kebutuhan anak, mengatur jadwal makan dan tidur, mendampingi belajar, hingga memperhatikan kondisi emosional anak.
Padahal, pengasuhan anak bukanlah tugas salah satu pihak.Mums dan Dads memiliki peran yang sama penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah co-parenting, yaitu pola pengasuhan yang dilakukan bersama-sama oleh ayah dan ibu.
Dengan menerapkan co-parenting, keluarga tidak hanya membagi tugas, tetapi juga membangun komunikasi dan kesepakatan agar anak mendapatkan pengasuhan yang konsisten, penuh perhatian, dan sesuai dengan kebutuhannya.
Apa Itu Co-Parenting?
Co-parenting adalah kerja sama antara ayah dan ibu dalam menjalankan peran sebagai orang tua. Keduanya terlibat dalam pengambilan keputusan, pengasuhan sehari-hari, pemberian dukungan emosional, hingga menetapkan aturan untuk anak.
Artinya, co-parenting bukan sekadar ayah membantu ibu mengurus anak. Lebih dari itu, ayah dan ibu sama-sama memiliki tanggung jawab dalam pengasuhan.
Misalnya, ketika anak sakit, bukan hanya Mums yang mencari informasi dan membawa anak ke dokter. Mums juga dapat terlibat dalam memahami kondisi anak dan menentukan langkah yang perlu dilakukan. Begitu pula dalam urusan pendidikan, aktivitas anak, disiplin, hingga kebutuhan emosionalnya.
Pembagian peran pun tidak harus selalu 50:50. Setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Yang terpenting adalah adanya kerja sama dan kesepakatan agar beban pengasuhan tidak hanya ditanggung oleh salah satu orang tua.
Mengapa Kerja Sama Ayah dan Ibu Penting dalam Pengasuhan Anak?
Anak membutuhkan kehadiran dan keterlibatan kedua orang tuanya. Kerja sama Mums dan Dads dapat menciptakan lingkungan keluarga yang lebih stabil dan memberikan anak kesempatan untuk mendapatkan pengalaman pengasuhan dari dua sosok dengan cara berinteraksi yang mungkin berbeda.
Ketika Mums dan Dads saling mendukung, anak juga dapat belajar bahwa hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi, kerja sama, saling menghargai, dan kompromi.
Di sisi lain, co-parenting membantu mencegah salah satu orang tua merasa harus mengerjakan semuanya sendiri. Pengasuhan yang dilakukan bersama dapat membuat tanggung jawab terasa lebih ringan dan memberikan kesempatan bagi ayah maupun ibu untuk memiliki waktu istirahat serta menjalankan kebutuhan pribadi.
Yang tidak kalah penting, kerja sama ini membuat kedua orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai perkembangan dan kebutuhan anak.
Manfaat Co-Parenting untuk Tumbuh Kembang Anak
Terkait hal ini, hasil penelitian dalam jurnal Child Protection and Practice (2025) menyebutkan bahwa salah satu faktor keberhasilan co-parenting adalah ketika mendapat pendampingan profesional yang juga fokus pada kepentingan terbaik anak. Peneliti menegaskan bahwa bahkan dalam perceraian yang penuh konflik, co-parenting yang sehat tetap dapat menjadi faktor protektif bagi perkembangan anak.
Penerapan co-parenting yang baik dapat memberikan sejumlah manfaat bagi anak maupun orang tua.
1. Anak merasa lebih didukung
Keterlibatan Mums dan Dads membuat anak merasakan bahwa dirinya diperhatikan dan didukung oleh kedua orang tuanya. Bayangkan seandainya si Kecil hanya lebih sering diasuh ibunya, ia tentu akan merasa ayahnya tidak sayang kepadanya, atau lebih menyedihkan ia merasa ditolak olah ayahnya.
2. Mendukung perkembangan sosial dan emosional
Interaksi yang positif dengan kedua orang tua dapat menjadi bagian dari pengalaman anak dalam mengenali emosi, membangun hubungan, dan belajar berkomunikasi.
3. Anak belajar tentang kerja sama
Anak melihat langsung bagaimana Mums dan Dads berdiskusi, berbagi peran, dan menyelesaikan masalah bersama. Hal ini dapat menjadi contoh bagi anak dalam membangun hubungan dengan orang lain.
4. Pengasuhan lebih konsisten
Ketika Mums dan Dads memiliki kesepakatan mengenai aturan dan batasan, anak mendapatkan pesan yang lebih konsisten mengenai perilaku yang diharapkan.
5. Mengurangi beban salah satu orang tua
Ketika pengasuhan dilakukan bersama, ibu tidak harus menjadi satu-satunya pihak yang memikirkan kebutuhan anak. Ayah pun dapat lebih aktif terlibat dan memahami berbagai aspek pengasuhan.
Hal yang Perlu Disepakati dalam Co-Parenting
Agar co-parenting berjalan dengan baik, ada beberapa hal yang sebaiknya dibicarakan dan disepakati bersama.
Pertama, pembagian tanggung jawab. Diskusikan siapa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas tertentu, mulai dari menyiapkan kebutuhan anak, mengantar sekolah, menemani bermain, hingga mengurus keperluan kesehatan.
Kedua, aturan dan batasan untuk anak. Mums dan Dads sebaiknya memiliki kesepakatan mengenai aturan di rumah, termasuk penggunaan gadget, waktu tidur, pola makan, hingga konsekuensi ketika anak melanggar aturan.
Ketiga, cara berkomunikasi dengan anak. Hindari pola pengasuhan yang saling bertentangan atau membuat anak bingung. Jika ada perbedaan pendapat, sebaiknya dibicarakan secara pribadi, bukan di depan anak.
Keempat, pembagian waktu bersama anak. Pastikan ayah dan ibu memiliki kesempatan untuk membangun kedekatan dengan anak melalui aktivitas sederhana, seperti bermain, membaca buku, makan bersama, atau sekadar mengobrol.
Tantangan Co-Parenting dalam Keluarga
Menerapkan co-parenting tentu tidak selalu mudah. Perbedaan pola asuh, kebiasaan, karakter, kesibukan pekerjaan, hingga cara pandang terhadap disiplin dapat menjadi tantangan.
Tidak jarang Mums dan Dads memiliki pendapat berbeda mengenai cara menghadapi perilaku anak. Dalam situasi seperti ini, komunikasi menjadi kunci. Alih-alih mencari siapa yang paling benar, orang tua dapat fokus pada pertanyaan: “Apa yang paling dibutuhkan anak saat ini?”
Tantangan lainnya adalah kebiasaan menyerahkan sebagian besar pengasuhan kepada ibu karena dianggap lebih memahami anak. Padahal, keterampilan mengasuh juga dapat dipelajari oleh ayah melalui keterlibatan sehari-hari.
Karena itu, Dads tidak perlu menunggu diminta untuk terlibat. Begitu pula Mums dapat memberikan ruang bagi ayah untuk membangun caranya sendiri dalam berinteraksi dengan anak, selama tetap berada dalam kesepakatan pengasuhan bersama.
Kesimpulan
Co-parenting bukan tentang siapa yang melakukan lebih banyak, tetapi tentang bagaimana Mums dan Dads hadir sebagai satu tim dalam membesarkan anak. Pengasuhan yang dilakukan bersama dapat membantu meringankan beban salah satu orang tua sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi tumbuh kembang anak.
Tidak harus selalu sempurna dan tidak harus selalu dibagi sama rata. Yang terpenting adalah adanya komunikasi, saling menghargai, pembagian tanggung jawab, dan kesediaan untuk terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak.
Sebab, membesarkan anak bukan pekerjaan satu orang. Ketika Mums dan Dads berjalan bersama, anak mendapatkan bukan hanya pengasuhan, tetapi juga contoh nyata tentang arti kerja sama, kasih sayang, dan keluarga yang saling mendukung.
Referensi :
Child Protection and Practice. 2025. The Coparenting Experience of Parents Involved in Supervised Access: A Systematic Review.


