Semua orang tua pasti menginginkan anak terlahir sempurna. Hanya saja, ada sebagian anak terlahir dengan kelainan pada mata, misalnya mata juling. Dalam istilah kedokteran, mata juling disebut strabismus.
Strabismus bisa merupakan kelainan bawaan atau kongenital, alias sudah ada sejak bayi lahir. Namun, jangan salah Mums, gaya hidup seperti terlalu sering terpapar gadget juga bisa menyebabkan mata juling.
Bertepatan dengan peringatan World Strabismus Day (Hari Strabismus Sedunia) tanggal 10 Agustus, RS Mata JEC @Manteng, mengadakan edukasi seputar mata juling sekaligus meresmikan Pusat Operasi Mata Juling, layanan khusus untuk penanganan strabismus atau mata juling bagi pasien anak dan dewasa.
Mums dan Dads perlu tahu, apa gejala yang kerap diabaikan dari mata juling pada anak, dampak jangka panjang, dan cara penanganannya.
Pengertian Strabismus atau Mata Juling
Strabismus adalah kondisi di mana kedua mata tidak sejajar atau melihat ke arah yang berbeda. Diduga 1-4% populasi dunia mengalami mata juling alias 148 juta orang.
Strabismus dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata, serta gangguan pada otot atau saraf penggerak mata. Kondisi neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, dan penyakit sistemik tertentu juga dapat menyebabkan strabismus, khususnya yang muncul pada usia dewasa.
Strabismus dapat dibedakan berdasarkan arah pergeseran mata (deviasi):
- Esotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah dalam atau mendekati hidung.
- Exotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah luar.
- Hypertropia ketika mata bergeser ke atas
- Hypotropia jika mata bergeser ke bawah.
- Sebagian pasien juga dapat mengalami pola kombinasi atau perubahan arah yang lebih kompleks.
Hal itu dijelaskan oleh Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus sekaligus Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics.
“Stabismus tidak hanya persoalan estetika tapi juga berdampak pada masalah kualitas hidup. Anak dengan mata juling kerap dirundung sehingga hilang kepercayaan diri,” ujar dr. Gusti.
DR. Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), selaku Wakil Ketua INAPOSS (Indonesian Pediatric Ophthalmology and Strabismus Society) menambahkan, “Kualitas kedua mata harus sama, kalau terjadi mata juling, artinya satu mata tidak dipergunakan dan hanya 1 mata saja yang berfungsi. Akibatnya adalah terjadi mata malas yang kalau dibiarkan akan berdampak pada gangguan fungsi penglihatan tiga dimensi atau kedalaman penglihatan. Makanya, harus segera dideteksi sejak dini dan ditangani secepatnya.”
Tanda-tanda Mata Juling
Strabismus kadang tidak disadari orang tua, baru terlihat ketika anak difoto dan nampak pandangan anak tidak lurus.
Berikut gejala yang bisa Mums waspadai untuk mata juling. Biasanya saat melihat anak dengan mata juling akan melakukan hal ini:
- Anak sering memiringkan kepala
- Menutup salah satu mata
- Menyipitkan mata ketika melihat
- Kesulitan menangkap benda
- Sering menabrak
- Sulit memperkirakan jarak
- Mengeluhkan penglihatan ganda.
Juling yang muncul mendadak, terlebih jika disertai sakit kepala, muntah, kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan saraf lainnya, perlu segera diperiksa.
Orang tua bisa mudah mengenali mata juling dengan memperhatikan kesimetrisan refleks cahaya pada kornea di kedua mata, posisi bola mata, serta perubahan arah pandangan yang terlihat pada foto atau rekaman video.
Namun, temuan tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh di fasilitas kesehatan atau rumah sakit khusus mata, untuk menilai posisi mata, ketajaman penglihatan, fungsi penglihatan binokular, dan risiko ambliopia.
Mata Juling pada Bayi
Apakah juling bisa dikenali sejak bayi? “Pada bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan, mata terkadang tampak belum sepenuhnya terkoordinasi karena sistem penglihatan masih berkembang. Namun, apabila ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, mata juling umumnya tidak membaik dengan sendirinya,” ujar dr. Lely.
Kalau Mums dan Dads menjumpai gejala mata juling di usia dini, maka tidak perlu menunggu anak dewasa untuk melakukan pemeriksaan. Hal ini karena tindakan koreksi bisa terbaik justru dilakukan sebelum anak berusia 2 tahun untuk menyelamatkan perkembangan binokularnya.
Faktanya, masih ada anak dengan mata juling yang terlambat memperoleh pemeriksaan karena kondisi tersebut kerap dianggap hanya persoalan penampilan atau dapat ditunda. Padahal, strabismus dapat memengaruhi kualitas penglihatan dan meningkatkan risiko terjadinya ambliopia atau mata malas, terutama pada masa perkembangan penglihatan anak.
Penanganan Mata Juling
Penanganan strabismus disesuaikan dengan penyebab, usia pasien, arah dan besar deviasi mata, ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, keberadaan ambliopia atau mata malas, fungsi penglihatan binokular, serta kondisi kesehatan yang menyertai.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, penanganan dapat berupa penggunaan kacamata hingga operasi sesuai indikasi medis. Keberhasilannya tidak hanya dilihat dari perbaikan posisi mata, tetapi juga dari meningkatnya fungsi penglihatan dan koordinasi kedua mata, berkurangnya penglihatan ganda, serta kemampuan pasien menjalani aktivitas sehari-hari.
Di Pusat Operasi Mata Juling RS Mata JEC @ Menteng semua pemeriksaan bisa dilakukan mulai deteksi dini hingga operasi, dengan tim medis dari berbagai spesialis.
“Apabila operasi dibutuhkan, perencanaannya disusun secara individual sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien dan disertai pemantauan sesudah tindakan secara berkesinambungan. Penanganan ini relevan bagi anak untuk memfasilitasi perkembangan penglihatan, serta bagi pasien dewasa yang mengalami penglihatan ganda akibat perubahan posisi mata sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari,” jelas Dr. Gusti.


