Kesibukan orang tua atau pendamping anak sering kali membuat waktu bersama terasa semakin terbatas. Namun, memiliki waktu untuk bersama anak ternyata belum tentu otomatis membuat hubungan menjadi lebih dekat. Yang tak kalah penting adalah bagaimana momen tersebut diisi dengan keterlibatan, perhatian, dan interaksi yang benar-benar membangun koneksi.
Berangkat dari keresahan tersebut, MINIPON, Emotional Connector IP pertama untuk keluarga Indonesia, resmi diluncurkan dengan menghadirkan karakter-karakter unik dan menggemaskan yang mengajak anak dan companion bermain, bercerita, serta menciptakan momen bersama yang interaktif.
Dalam peluncurannya, MINIPON turut memperkenalkan dua Connections Tools pertamanya, yakni Storybond, buku cerita anak dua arah, dan Connection Cards, permainan kartu yang dirancang untuk menciptakan momen interaktif antara pendamping dan anak
Ketika Quality Time Terasa Seperti Tugas
MINIPON diciptakan oleh Nidya Febriani dan Flori Amelia, dua ibu yang juga menjalani keseharian sebagai perempuan bekerja. Keduanya berangkat dari pengalaman personal mengenai tantangan menciptakan waktu bersama yang berkualitas di tengah rutinitas.
Bagi Nidya, menjadi ibu bekerja membuat waktu dan energi yang tersedia untuk keluarga harus dibagi dengan berbagai tanggung jawab lainnya. Dalam kondisi tersebut, quality time bersama anak sempat terasa seperti tugas tambahan yang harus dipenuhi.
“Selama beberapa tahun menjadi ibu bekerja, saya harus pergi ke kantor dan menjalani perjalanan yang cukup melelahkan setiap hari. Di tengah waktu dan energi yang terbatas, tanpa saya sadari quality time dengan anak terasa seperti tugas lain yang harus dilakukan, bahkan sempat merasa semakin jauh secara emosional dengan anak,” ujar Nidya Febriani, Co-Founder MINIPON.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong Nidya bersama Flori untuk mengeksplorasi bagaimana momen-momen kecil dalam keseharian dapat menjadi kesempatan bagi companion dan anak untuk benar-benar terhubung.
MINIPON hadir dengan keyakinan bahwa koneksi emosional tidak selalu membutuhkan lebih banyak waktu. Sebaliknya, koneksi dapat dibangun melalui momen sederhana yang dilakukan dengan lebih sadar dan bermakna.
Koneksi Tidak Harus Dibangun Lewat Aktivitas Besar
Dalam peluncuran MINIPON, Orissa Anggita Rinjani, Psikolog sekaligus Co-Founder Rumah Dandelion, menjelaskan bahwa membangun koneksi dengan anak tidak harus dilakukan melalui aktivitas besar. Membaca buku bersama, bermain kartu, atau melakukan permainan sederhana dapat menjadi kesempatan bagi companion dan anak untuk saling terhubung. Hal yang penting bukan semata-mata aktivitasnya, melainkan keterlibatan kedua pihak dalam momen tersebut.
“Anak itu belajar apa pun dasarnya adalah dia merasa safe dulu,” jelas Orissa. Menurutnya, ketika anak memiliki koneksi yang baik dengan companion, anak dapat merasa diterima, dilihat, didengar, dan dipahami. Perasaan tersebut kemudian membantu anak merasa aman dan nyaman sehingga lebih siap mengeksplorasi lingkungan dan mempelajari berbagai hal.
Koneksi juga dapat berperan dalam memahami perilaku anak. Orissa menjelaskan bahwa setiap perilaku pada dasarnya memiliki tujuan tertentu. Salah satunya adalah mendapatkan perhatian. Misalnya, ketika anak sedang bermain sementara orang tua sedang sibuk, orang tua mungkin mengatakan akan menemani anak setelah 10 menit. Namun, ketika waktu tersebut tiba dan anak masih terlihat tenang, janji tersebut kemudian terlewat.
Anak yang merasa tidak mendapatkan perhatian bisa kemudian mencari cara lain untuk mendapatkannya. Perilaku tersebut dapat muncul dalam bentuk yang dianggap negatif, seperti melempar mainan atau bertengkar dengan saudara.
Bagi anak, perhatian negatif tetap merupakan bentuk perhatian.
Karena itu, menurut Orissa, koneksi perlu “ditabung” melalui interaksi sehari-hari. Dengan membangun koneksi secara konsisten, kebutuhan anak untuk mendapatkan perhatian dapat dipenuhi melalui cara yang lebih positif.
Bukan Sekadar Ada, tetapi Benar-Benar Hadir
Hal serupa juga disampaikan Reza Andhika (@rezandhk), influencer yang aktif membagikan konten mengenai kehidupan keluarga dan peran ayah dalam pengasuhan. Menurut Reza, waktu bersama anak tidak harus selalu panjang, yang lebih penting adalah adanya waktu yang secara sadar diberikan untuk anak dan dilakukan secara rutin.
“Koneksi kan tidak harus selalu yang selama 7 hari kita punya anak kita saja, yang penting kita bangun setiap hari pelan-pelan, 15 menit, 30 menit, tapi fokus untuk anak kita, sebenarnya itu yang bisa membangun rasa aman untuk anak kita juga,” ujar Reza.
Rutinitas sederhana seperti sarapan bersama sebelum berangkat ke kantor, membaca buku sebelum tidur, atau meluangkan beberapa menit untuk bermain dapat menjadi bagian dari upaya membangun koneksi.
Bagi Reza, tantangannya terkadang bukan sekadar menyediakan waktu. Ketika waktu bersama sudah tersedia, companion justru bisa kebingungan menentukan aktivitas yang dapat dilakukan bersama anak.
“Kadang waktu bersama anak itu sebenarnya ada, kita bisa mengusahakan, tapi saat waktu itu sudah ada, kita justru bingung mau ngapain. Jadi menurut saya, adanya tools atau aktivitas yang bisa membantu companion dan anak mengisi waktu bersama dengan cara yang interaktif sangat dibutuhkan.”
Mengapa Menggunakan Istilah “Companion”?
Salah satu hal yang menjadi perhatian MINIPON adalah penggunaan istilah “companion”, bukan hanya “parents” atau orang tua.
Pilihan tersebut didasarkan pada kesadaran bahwa kondisi setiap keluarga berbeda. Tidak semua anak tumbuh dalam situasi yang sama. Ada anak yang tinggal bersama ibu, ayah, kakek-nenek, atau anggota keluarga lainnya karena berbagai kondisi, termasuk tuntutan pekerjaan orang tua yang mengharuskan mereka berada di luar kota.
Karena itu, konsep companion digunakan untuk mencakup siapa pun yang hadir dan memiliki peran dalam membangun hubungan dengan anak. Bagi MINIPON, koneksi tidak hanya penting selama masa kanak-kanak. Hubungan yang dibangun sejak dini dapat menjadi bagian dari pengalaman anak dalam membentuk rasa aman dan relasi yang akan dibawanya hingga dewasa.
Bermain sebagai Jalan untuk Membangun Koneksi
Melalui MINIPON, bermain dan bercerita tidak hanya ditempatkan sebagai aktivitas untuk mengisi waktu luang. Keduanya menjadi sarana untuk menciptakan interaksi dua arah antara anak dan companion.
Hal tersebut diwujudkan melalui Storybond, buku cerita anak dua arah yang mengajak anak dan companion berinteraksi selama membaca, serta Connection Cards yang dirancang untuk menciptakan percakapan dan aktivitas bersama. “Tujuan utama kita main adalah bangun koneksi,” menjadi salah satu prinsip yang mendasari konsep MINIPON.
Menurut tim MINIPON, koneksi tidak dapat dibangun hanya dari satu pihak. Anak dan companion perlu sama-sama terlibat dan secara sadar ingin melakukan aktivitas bersama.
Karena itu, koneksi tidak harus diwujudkan melalui perjalanan mahal, liburan panjang, atau kegiatan besar lainnya. Momen sederhana seperti membaca buku, bermain kartu, makan bersama, atau berbincang sebelum tidur pun dapat menjadi ruang untuk membangun kedekatan.
Menghadirkan “The World of Minipon”
Sebagai bagian dari peluncuran, MINIPON menghadirkan “The World of Minipon”, sebuah ruang pengalaman interaktif yang mengajak anak dan companion bermain serta bercerita bersama. Kehadiran ruang tersebut menjadi bagian dari upaya MINIPON memperkenalkan gagasan bahwa quality time dapat hadir melalui aktivitas yang sederhana, interaktif, dan menyenangkan.
Dalam pengembangannya, MINIPON juga bekerja sama dengan Rumah Dandelion, pusat edukasi dan layanan psikologi yang berfokus pada tumbuh kembang anak dan keluarga. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memastikan konsep dan produk yang dihadirkan tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan perkembangan serta aspek psikologis anak.
“Kami melibatkan Rumah Dandelion, pusat edukasi dan layanan psikologi yang berfokus pada perkembangan anak dan keluarga, untuk memastikan apa yang kami hadirkan tidak hanya menyenangkan bagi anak, tetapi juga relevan dengan kebutuhan psikologis dan mendukung koneksi antara companion dan anak,” ujar Flori Amelia, Co-Founder MINIPON.
Pada akhirnya, membangun kedekatan dengan anak mungkin bukan tentang seberapa banyak waktu yang dimiliki. Yang lebih penting adalah bagaimana waktu yang ada benar-benar digunakan untuk hadir, mendengar, bermain, dan berinteraksi.
Sebab, terkadang 15 menit yang penuh perhatian dapat menjadi lebih bermakna daripada berjam-jam bersama tetapi tanpa benar-benar terhubung. (AS)


