Kementerian Kesehatan mengeluarkan larangan bagi anak-anak yang terdampak bencana banjir di Sumatera minum susu formula. Hal itu dikatakan oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Lovely Daisy di Jakarta, belum lama ini.
Meskipun berada di situasi darurat atau bencana. Kemenkes tetap berpegang pada rekomendasi Kemenkes yang sudah ada, yaitu pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif sejak anak lahir sampai berusia enam bulan. Tidak hanya dari Kemenkes, larangan yang sama juga dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Aceh.
Lalu bagaimana agar anak-anak dan bayi di pengungsian tetap mendapatkan asupan gizi terbaik? Berikut penjelasan dari dokter spesialis anak. dr. Reza Fahlevi SpA(K), saat dihubungi Teman Bumil, Senin 8 Desember 2025.
Baca juga: Jangan Kebanyakan, Ini Aturan Minum Susu untuk Balita
Susu Formula Butuh Air Bersih
"Sebenarnya yang dikhawatirkan Kemenkes hingga mengeluarkan larangan pemberian susu formula pada anak adalah terkait masalah air bersih untuk membuat susunya, bukan susu formulanya," jelas dr. Reza.
Dapat dimaklumi, saat ini infrastruktur yang terdampak banjir termasuk saluran air bersih masih belum pulih. Korban di pengungsian mendapatkan air bersih dari bantuan, berupa tanki air bersih yang terbatas. Bahkan sebelum bantuan datang, seperti dikutip dari BBC Indonesia, sejumlah warga terpaksa minum air hujan yang ditampung tiga hari pascabanjir untuk bertahan hidup mengingat tiada bantuan.
Air hujan tentu saja tidak steril dan mengandung banyak partikel berbahaya dari udara, meskipun sudah direbus. Sangat berbahaya memberikan susu formula dari rebusan air hujan ini. Air hujan yang ditampung bisa dimanfaatkan sementara untuk mandi dan membersihkan diri, namun tidak untuk pembuatan makanan bayi dan susu formula.
Asupan gisi dan kebutuhan anak-anak korban bencana
Lebih jauh dr. Reza menambahkan, anak-anak dan bayi yang terdampak banjir dan harus tinggal di pengungsian tetap harus mendapatkan makanan bergizi. Pemberiannya sesuai pedoman Kemenkes maupun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
"Tetap berikan ASI untuk bayi di bawah usia 6 bulan, dan untuk bayi di atas usia 6 bulan diberikan ASI dan makanan pendamping ASI. Susu formula boleh diberikan selama ada ketersediaan air bersih," tegas dr. Reza.
Bayi dan anak korban banjir Sumatera adalah salah satu kelompok usia yang rentan terkena penyakit. Oleh karena itu makanan bayi, mereka membutuhkan perlengkapan seperti popok, selimut, dan pakaian hangat.
IDAI sendiri lewat Tanggap Bencana sudah mengerahkan tim ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat untuk memberikan layanan kesehatan, dukungan psikososial, serta bantuan logistik khusus bagi anak-anak dan kelompok rentan yang terdampak banjir dan longsor sejak akhir November 2025.
IDAI Tanggap Bencana juga mengirim tim dokter spesialis anak untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, salah satunya dr. Reza Fahlevi SpA(K). Selain layanan medis, IDAI juga menyalurkan bantuan non-kesehatan seperti air bersih, makanan siap santap, selimut, pakaian, serta perlengkapan kebersihan. Di Sumbar, IDAI bersama AIMI menyalurkan ratusan porsi MPASI untuk balita. Kegiatan trauma healing bagi anak-anak juga dilakukan di beberapa posko, seperti di Kecamatan Nanggalo, Padang.
Namun, sejumlah kendala masih dihadapi di lapangan, seperti kekurangan obat-obatan anak, kebutuhan logistik dasar, akses lokasi yang terbatas, minimnya tenaga kesehatan di posko, serta ancaman meningkatnya kasus penyakit akibat sanitasi buruk di pengungsian.
Tentang Bencana Banjir di Sumatera
Korban jiwa akibat bankir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi Sumatera terus bertambah. Hingga Senin, 8 Desember 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat jumlah korban meninggal yang telah ditemukan jasadnya sebanyak 961 orang. BNPB menyampaikan jumlah itu adalah total korban di tiga provinsi terdampak bencana, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Selama pencarian hari Senin ini, tim pencari gabungan menemukan puluhan jenazah.
Menurut ahli lingkungan, setidaknya ada tiga penyebab banjir Sumatera yang saling terkait, yaitu kondisi geologi yang labil, kerusakan ekologis, dan anomali iklim. Salah satu penyebab banjir Sumatera yang membawa kayu-kayu dan sedimen itu dan paling dikritik oleh publik adalah kondisi ekologis atau kerusakan lingkungan yang parah. Pembukaan lahan di daerah hulu, pemukiman yang merangkak naik ke dataran tinggi, serta perubahan fungsi hutan memperbesar dampak bencana. Ketika hutan hilang, kemampuan tanah menahan air ikut runtuh dan debit puncak tak lagi dapat dikendalikan.
Baca juga: Saat Terjadi Bencana, Libatkan Si Kecil Saat Berdonasi


