Kenali Kehamilan yang Rentan Keguguran

Dipublish: Kamis, 25 Juni 2026 22:55 WIB

Diperbarui: Kamis, 25 Juni 2026 21:27 WIB

Ilustrasi keguguran
Ella Nurlaila

Ella Nurlaila

Bagikan :

Informasi artikel ditinjau oleh

dr. Andrew Wijaya, Sp.OG

Keguguran merupakan kehilangan kehamilan secara tiba-tiba sebelum 20 mingggu usia kehamilan. Umumnya keguguran terjadi selama trimester pertama kehamilan, yaitu sekitar 13 minggu pertama. Bahkan tidak sedikit keguguran terjadi sebelum seseorang menyadari bahwa dirinya tengah hamil.

 

Istilah keguguran mungkin terdengar seolah-olah ada sesuatu yang salah dalam proses kehamilan, padahal tidak semuanya demikian. Sebab banyak keguguran terjadi karena janin tidak berkembang dengan baik. Artinya memang ada kondisi-kondisi kehamilan yang memang rentan memiliki risiko keguguran. 


Kehamilan yang berisiko keguguran


Penelitian terbaru Reproduction Health (2025) keguguran spontan terjadi pada sekitar 10–20% kehamilan klinis, dan sekitar 1–2% pasangan mengalami recurrent miscarriage/recurrent pregnancy loss (RPL) yaitu keguguran berulang. 


Dalam jurnal tersebut lebih rinci dijabarkan bahwa risiko keguguran tidak hanya dipengaruhi faktor genetik janin, tetapi juga kombinasi berbagai faktor, seperti usia ibu, gangguan hormonal, penyakit autoimun, kualitas rahim, infeksi dan mikrobiota, gaya hidup, obesitas, diabetes, stres kronis, hingga kualitas sperma pasangan. 


Berikut ini beberapa jenis kehamilan yang memiliki risiko keguguran : 


1. Hamil anggur 

Dikenal dengan kehamilan mola dan kehamilan mola parsial, hamil anggur ditandai dengan janin yang tidak berkembang, pertumbuhan plasenta yang tidak teratur, organ yang terkait dengan kehamilan yang memberikan oksigen dan nutrisi kepada bayi yang belum lahir.


Kehamilan mola dan kehamilan mola parsial ini tidak dapat berlanjut karena sangat berisiko bagi ibu. Terkadang, kehamilan mola dikaitkan dengan perubahan plasenta yang menyebabkan kanker pada ibu hamil.


2. Kehamilan kosong 

Disebut juga dengan kehamilan anembrionik, yang terjadi ketika tidak ada embrio yang terbentuk. Atau embrio terbentuk tetapi diserap kembali ke dalam tubuh. Embrio adalah kelompok sel yang berkembang menjadi bayi yang belum lahir, juga disebut janin.


3. Kehamilan dengan riwayat keguguran berulang

Recurrent Pregnancy Loss (RPL) atau keguguran berulang biasanya terjadi ketika ≥2–3 kali keguguran berturut-turut. Kondisi ini terjadi pada kehamilan yang dikaitkan dengan kelainan kromosom, gangguan imun, masalah rahim, gangguan hormon, juga pembekuan darah.


4. Kehamilan pada usia ibu lebih dari 40 tahun

Kehamilan di usia lebih dari 40 tahun berisiko keguguran sebab kualitas sel telur menurun, dan risiko kelainan kromosom embrio meningkat. Sering terjadi pada kehamilan trimester pertama karena kelainan kromosom janin. 


5. Kehamilan pada penderita PCOS

Kehamilan pada ibu yang mengalami Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) berisiko keguguran. Sebab 

PCOS meningkatkan risiko gangguan implantasi, resistensi insulin, inflamasi, juga kualitas ovulasi tidak optimal. Risiko keguguran makin tinggi bila disertai dengan berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan gula darah tidak stabil.


6. Kehamilan gangguan tiroid 

Ibu yang mempunyai masalah tiroid baik hypothyroidism maupun hyperthyroidism, ketika hamil berisiko mengalami keguguran. Sebab gangguan tiroid dapat menyebabkan gangguan hormon kehamilan, implantasi terganggu, juga pertumbuhan janin tidak optimal.


7. Kehamilan dengan kelainan rahim

Berbagai bentuk kelainan pada rahim seperti bentuk ragim abnormal, serviks lemah, miom tertentu, polip yang cukup besar pada ragim, sangat berisiko keguguran saat hamil. Sebab membuat janin sulit berkembang, aliran darah terganggu, dan ruang rahim kurang optimal. 


8. Kehamilan kembar tertentu

Kehamilan kembar memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai masalah kehamilan, seperti komplikasi plasenta, pertumbuhan janin, persalinan prematur, dan keguguran salah satu janin. Hal ini terutama pada kembar identik dengan plasenta bersama.


9. Kehamilan dengan infeksi tertentu 

Beberapa jenis infeksi ikut andil dalam meningkatkan risiko keguguran, seperti infeksi Rubella, Cytomegalovirus Infection, Toxoplasmosis, dan Listeriosis. 


Pencegahan keguguran 


Walaupun mencegah keguguran secara langsung sulit dilakukan, namun bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko keguguran tersebut. 


Berikut ini beberapa langkah pencegahan keguguran yang bisa dilakukan, setidaknya mengurangi risiko yang sebisa mungkin diintervensi sejak dini : 


1. Konsultasi dan perawatan prenatal 

Dapatkan perawatan prenatal secara teratur bahkan sebelum memulai kehamilan, atau ketika akan menjalankan program hamil. Untuk mengetahui kondisi fisik dan tubuh ibu dan mendeteksi adanya masalah yang memicu terjadinya keguguran.  


2. Jauhi faktor risiko keguguran 

Seperti merokok, minum alkohol, pola makan yang tidak sehat, kurang tidur dan istirahat, stres yang tidak terkendali, polusi dan lingkungan yang tidak sehat. 


3. Mengonsumsi multivitamin 

Untuk membantu daya tahan tubuh, memenuhi kebutuhan nutrisi harian selama hamil, dan mendukung perkembangan janin, perlu mengonsumsi multivitamin seperti asm folat dan vitamin B lainnya sesuai anjuran dokter.  


4. Mengendalikan kondisi kronis 

Sebelum promil, pastikan kondisi kesehatan dalam keadaan baik, jaga kenaikan berat badan dalam kisaran ideal agar tidak berlebihan apalagi obesitas yang sangat berisiko terhadap kehamilan. 


Mums, itulah langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya risiko keguguran. Kabar baiknya, ibu hamil yang pernah mengalami keguguran sebagian besar tetap bisa hamil kembali setelahnya. Dengan catatan tidak ada kondisi yang membuat keguguran berulang. Karena itu, konsultasi dengan dokter kandungan, persiapan sebelum menjalankan promil, dan tentu saja pemeriksaan kehamilan secara rutin sangat dibutuhkan. Agar pertumbuhan janin bisa terpantau dan kehamilan terjaga dengan baik. 


Referensi : 

Reproductive Health.2025. Non-genetic risk factors of miscarriage: a comprehensive umbrella review of systematic review and meta-analysis.

Kasih Saran, Yuk!