Mums pasti pernah mendengar bahwa kontraksi saat persalinan dan mengejan berdampak pada penglihatan, terutama yang bermata minus. Hal itu tidak salah. Namun, ada penyebab kerusakan mata, tepatnya pembuluh darah mata, yang tidak kalah berbahaya bahkan menyebabkan kebutaan. Waspada bagi ibu hamil yang memiliki diabetes, karena penyakit ini bisa menyebabkan kondisi yang disebut Retinopati Diabetik. Kondisi inilah yang dapat mengancam hilangnya penglihatan.
Dalam acara Forum Jurnalis Kesehatan bertajuk “Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik”, yang merupakan kolaborasi antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Roche Indonesia, di Jakarta, 20 Juli 2026, dipaparkan para ahli bahwa kasus Retinopati Diabetik ini mencapai lebih dari 40% penderita diabetes. Artinya, dari 10 penderita diabetes, 4 di antaranya mengalami komplikasi Retinopati Diabetik.
Yuk, kenali apa itu Retinopati Diabetik dan bahayanya terutama pada wanita dan ibu hamil!
Apa itu Retinopati Diabetik?
Retinopati diabetik adalah komplikasi diabetes yang merusak pembuluh darah kecil di retina, yaitu lapisan tipis di bagian belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya dan mengirimkan sinyal ke otak agar kita dapat melihat. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab utama kebutaan pada orang dewasa, terutama jika kadar gula darah tidak terkontrol dalam waktu lama.
Menurut Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD (Ketua Umum PERKENI), gula darah yang tidak terkendali pada penderita diabetes akan menyebabkan kerusakan pembuluh darah besar maupun kecil (makrovaskular dan mikrovaskular). Salah satu pembuluh darah kecil yang rentan rusak karena gula darah yang selalu tinggi adalah oembuluh darah di mata atau retina. Terjadilah Retinopati Diabetik.
Kadang, gejala Retinopati Diabetik ini tidak disadari, atau diabaikan. Hal ini dikatakan oleh Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, Ph.D., Sp.M., Guru Besar Oftalmologi dari UGM. .Masyarakat beranggapan bahwa gangguan fungsi penglihatan di usia tua akibat diabetes dianggap sebagai sesuatu yang wajar, tahu-tahu pembuluh darah di mata pecah dan menyebabkan kebutaan.
"Kerusakan pembuluh darah di belakang bola mata ini terjadi secara bertahap dan membuat sebagian besar pasien sama sekali tidak menyadari ancamannya dalam lima tahun pertama diabetes. Di sinilah media memegang peran yang sangat krusial," jelas Prof. Bayu.
Bahaya Retinopati Diabetik pada Kehamilan
Ibu empat orang anak, Anita Permata Sari SE, BBA (Hons), MM, membagikan pengalamannya yang nyaris kehilangan penglihatan akibat Retinopati Diabetik. Anita adalah penderita diabetes melitus selama 13 tahun. Tahun 2017, saat ia hamil anak kedua, Anita mengalami konntraksi di usia kehamilan 27 minggu.
"Kontraksi ini menyebabkan pecah pembuluh darah dan saya nyaris tidak bisa melihat, saya sampai meraba-raba bayi saya karena tidak bisa melihat. Setiap kali bergerak, darah seperti mengalir di dalam bola mata saya," ujar Anita mengenang masa-masa tergelapnya.
Rupanya, ia tidak mengetahui bahwa selama ini, ia mengalami komplikasi Retinopati Diabetik. Akhirnya Anita dirujuk ke RSCM dan harus menunggu 1 bulan untuk menjalani operasi mata. "Saya waktu itu bertekad, saya harus bisa melihat anak-anak saya, makanya saya berusaha semaksimal mungkin untuk sembuh," ujarnya.
Lebih lanjut Anita menjelaskan, dirinya termasuk beruntung karena bisa ditangani di rumah sakit besar. Ia membayangkan nasib ibu lain yang senaib dan tinggal di kota kecil, di mana fasilitas terbatas.
"Salah satu tantangan terbesar di Indonesia saat ini adalah masalah akses, dimana fasilitas untuk pemeriksaan retina—bukan sekadar cek mata biasa—belum tersedia secara merata di tingkat layanan kesehatan primer. Hambatan geografis dan keterbatasan alat ini sering kali membuat pasien enggan atau kesulitan untuk mendeteksi risiko lebih awal." ujarnya.
Cek Kesehatan Retina Akan Lebih Mudah dan Terjangkau
Untuk mengatasi berbagai hambatan ini, terutama dalam mendeteksi lebih awal Retinopati Diabetik, para pemangku kepentingan membentuk Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE) yang terdiri dari akademisi, tenaga kesehatan, dan industri farmasi.
Kolaborasi ini akan membangun proyek percontohan (pilot project) berupa pemeriksaan mata tele-ophthalmology komprehensif dari hulu ke hilir untuk menjembatani kesenjangan infrastruktur termasuk kurangnya ketersediaan tenaga kesehatan mata, di mana saat ini Indonesia rata-rata hanya memiliki 1 dokter spesialis mata per 116.961 penduduk.
Nantinya cek kesehatan retina, bisa dilakukan di Puskesmas. Untuk itu akan ditempatkan kamera retina (fundus camera) serta melatih dokter umum dan perawat di fasilitas kesehatan primer (Puskesmas), untuk menemukan "kasus tersembunyi" dan kemudian data-data yang diperoleh akan menjadi landasan pembuatan kebijakan Pemerintah.
Targetnya adalah endukung tercapainya target Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan 2025-2030 dari Kemenkes RI, yakni menargetkan penurunan gangguan penglihatan sebesar 25% dengan memastikan minimal 80% individu penderita diabetes menjalani skrining retina berkala, dan 60% dari mereka yang terdeteksi VTDR mendapatkan akses pengobatan yang tepat.
Nah buat para ibu hamil, terutama yang memiliki diabetes tipe 1 maupun 2, jangan abaikan kesehatan mata. Lakukan cek kesehatan mata secara rutin. "Retinopati Diabetik dan kebutaan ini sangat bisa dicegah. Kita harus ingat bahwa 85 persen informasi harian kita ditangkap secara visual, sehingga hilangnya kemampuan melihat tidak hanya menurunkan kualitas hidup penderita secara drastis, tetapi juga menjadi beban psikologis dan fisik bagi keluarga yang merawatnya," jelas Prof. Bayu.


