Sedih dan menangis adalah bagian dari emosi yang dimiliki manusia
Ada stigma bahwa laki-laki tidak seharusnya menangis karena akan dianggap lemah, sehingga banyak orang tua yang melarang anak laki-lakinya menangis.
Seorang anak laki-laki yang tidak menangis belum tentu tidak sedih. Ia mungkin hanya belajar bahwa menangis bukan cara yang “aman” untuk mengekspresikan perasaannya.
Mengajarkan anak laki-laki agar kuat tidak harus dengan melarangnya menangis, namun dengan memvalidasi perasaannya dan memberikan contoh melalui ayahnya.
Laki-laki jangan cengeng. Anak cowok harus kuat. Jangan nangis, malu sama orang. Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana dan bahkan sering dianggap sebagai cara untuk mengajarkan anak agar kuat. Namun, jika terus diulang, anak laki-laki bisa belajar bahwa menangis, takut, sedih, atau menunjukkan kerentanan adalah sesuatu yang tidak seharusnya ditampilkan.
Padahal, menjadi laki-laki bukan berarti harus selalu terlihat kuat. Budaya kita seringkali mengharuskan sejak kecil, anak laki-laki dapat menerima berbagai pesan mengenai seperti apa “seharusnya” seorang laki-laki. Harus mandiri, berani, tidak mudah takut, tidak terlalu emosional, dan mampu menyelesaikan masalah sendiri.
Norma tersebut tidak selalu buruk. Sikap mandiri, bertanggung jawab, dan berani menghadapi tantangan tentu dapat menjadi kualitas positif. Masalah muncul ketika maskulinitas dipahami secara kaku—misalnya ketika seorang anak merasa bahwa menunjukkan kesedihan atau meminta bantuan berarti dirinya lemah.
Akibatnya, anak mungkin belajar bukan untuk mengelola emosi, tetapi untuk menyembunyikannya. Apa dampaknya pada anak saat dewasa dan dituntut mampu mengelola emosinya?
Dampak Terbawa Hingga Dewasa
Seorang anak laki-laki yang tidak menangis belum tentu tidak sedih. Ia mungkin hanya belajar bahwa menangis bukan cara yang “aman” untuk mengekspresikan perasaannya.
Emosi yang tidak diekspresikan juga tidak otomatis hilang. Anak perlu belajar mengenali apa yang dirasakan, memahami penyebabnya, lalu memilih cara yang tepat untuk merespons.
Ketika kemampuan ini tidak berkembang, emosi bisa muncul dalam bentuk lain. Misalnya, kesedihan berubah menjadi mudah marah, frustrasi menjadi perilaku agresif, atau kecemasan justru terlihat sebagai menarik diri.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa norma maskulinitas tertentu memang berkaitan dengan cara pria memahami dan mengatur emosinya. Studi yang diterbitkan di Sex Roles pada 2025 terhadap 740 pria menemukan bahwa pesan yang diterima anak tentang bagaimana “seharusnya laki-laki bersikap” dapat berperan dalam membentuk kebiasaan emosionalnya.
Menangis ada manfaatnya
Menangis atau sedih adalah bagian dari emosi. Ada tiga alasan mengapa orang menangis.
1. Untuk menjaga kesehatan mata
Sepanjang hari kita memproduksi air mata yang mencegah mata menjadi kering. Air mata jenis ini disebut air mata basal. Untuk melindungi mata – ini sering kali merupakan respons terhadap perubahan lingkungan, misalnya saat ada kotoran masuk ke mata atau saat berada di dekat irisan bawang. Air mata jenis ini disebut air mata refleks.
2. Untuk mengekspresikan emosi
Ini bisa menjadi reaksi terhadap emosi yang sangat kuat. Manusia dianggap sebagai satu-satunya makhluk hidup yang memiliki kemampuan ini. Air mata jenis ini disebut air mata psikis.
Berdasarkan penelitian terhadap orang dewasa, alasan paling umum orang menangis adalah karena merasa stres dan sedih. Sebagian orang mengatakan bahwa mereka juga merasa lebih baik setelah menangis, hal ini mungkin karena air mata psikis memicu pelepasan pereda nyeri alami di dalam tubuh.
Ada pula yang merasa lega saat meluapkan emosi yang mungkin selama ini mereka pendam. Namun, sebagian orang merasa tidak nyaman saat menangis. Mereka mungkin takut dinilai oleh orang lain atau beranggapan bahwa menangis membuat mereka terlihat lemah atau rentan.
Menahan Tangis Bisa Berbahaya
Menahan tangis justru berbahaya, Mums! Jadi jangan larang anak laki-laki untuk menangis. Kalau memang si Kecil harus menangis, maka biarkan saja. Berikut dampak menahan tangis:
1. Terhambatnya perkembangan emosional
Ketika anak laki-laki belajar memendam perasaan alih-alih mengenalinya, kecerdasan emosional mereka akan terganggu.
2. Mengubah kesedihan menjadi kemarahan
Rasa sedih, takut, dan terluka tidak sekadar hilang begitu saja. Jika tidak diolah dengan baik, perasaan-perasaan ini sering kali berubah menjadi kemarahan, frustrasi, atau agresi fisik di kemudian hari.
3. Risiko kesehatan mental
Menahan tangis dan menyembunyikan stres dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan isolasi diri pada pria.
Mengajarkan anak laki-laki untuk kuat dengan cara yang berbeda
Mengajarkan anak laki-laki agar kuat tidak harus dengan melarangnya menangis.
1. Validasi emosi
Orang tua bisa mengatakan: “Kamu boleh sedih. Menangis boleh. Setelah lebih tenang, kita cari tahu apa yang membuat kamu sedih.”
Atau ketika anak marah: “Kamu boleh marah, tapi tidak boleh menyakiti orang lain. Yuk, ceritakan apa yang membuat kamu marah.”
Dengan cara ini, anak belajar bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua perilaku boleh dilakukan.
2. Beri contoh
Anak juga perlu melihat bahwa ayah atau figur laki-laki di sekitarnya dapat mengatakan, “Ayah sedang sedih,” “Ayah kecewa,” atau “Ayah butuh bantuan.” Ini membantu menunjukkan bahwa mengakui emosi bukan tanda kelemahan.
Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan membuat anak laki-laki tidak pernah menangis, tetapi membantunya tumbuh menjadi laki-laki yang mampu mengenali perasaannya, mengungkapkannya dengan sehat, mengendalikan perilakunya, dan tahu kapan harus meminta bantuan.
Karena laki-laki yang kuat bukan laki-laki yang tidak punya emosi, melainkan yang belajar memahami dan mengelola emosinya.


