Sistem kekebalan tubuh bayi baru lahir masih berkembang. Itu sebabnya bayi merupakan salah satu kelompok rentan yang dapat dengan mudah terkena infeksi. Seperti batuk pilek yang ditularkan dari orang dewasa di sekitarnya.
Mums, infeksi yang terlihat seperti batuk atau pilek biasa pada orang dewasa bisa menjadi lebih serius pada bayi. Salah satu virus yang perlu diwaspadai adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV). Virus ini menyerang saluran pernapasan dan umumnya menimbulkan gejala ringan seperti flu. Namun, pada bayi, terutama usia di bawah 6 bulan, RSV dapat berkembang menjadi bronkiolitis, pneumonia, bahkan membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Data WHO menyebutkan, RSV diperkirakan menyebabkan lebih dari 3,6 juta rawat inap pada anak di bawah usia 5 tahun setiap tahun. Angka ini menunjukkan bahwa RSV bukan sekadar batuk pilek biasa, khususnya bagi kelompok bayi yang rentan.
Kenali Gejala RSV
Sama seperti virus pada umumnya, RSV merupakan virus yang menginfeksi saluran pernapasan dan dapat menular dengan mudah melalui percikan ketika seseorang batuk atau bersin, kontak langsung, maupun melalui permukaan yang telah terkontaminasi.
Umumnya pada orang dewasa, infeksi RSV dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, tidak demikian dengan anak-anak maupun bayi. Bagi bayi dan anak kecil bila terinveksi RSV maka berisiko mengalami komplikasi karena saluran napasnya masih berukuran kecil.
Karena itu penting bagi orang tua untuk mengenal gejala RSV yang biasanya dialami, seperti :
Pilek atau hidung tersumbat
Batuk
Bersin
Demam
Nafsu makan menurun
Napas berbunyi atau mengi
Kesulitan bernapas
Khusus RSV yang terjadi pada bayi, orang tua perlu lebih waspada jika muncul napas cepat, dada terlihat tertarik saat bernapas, bayi sulit menyusu, tampak sangat lemas, atau mengalami jeda napas. Jangan diabaikan, kondisi tersebut membutuhkan pertolongan medis segera.
Cara Kerja Vaksin RSV
Sebagai antivirus, cara kerja vaksin RSV dirancang untuk membantu mencegah penyakit saluran pernapasan bawah akibat RSV, terutama penyakit berat yang dapat menyebabkan bronkiolitis dan pneumonia.
Untuk memberikan perlindungan kepada bayi, saat ini terdapat dua pendekatan utama, yaitu vaksin RSV untuk ibu hamil dan antibodi monoklonal untuk bayi.
Pada ibu hamil, vaksin RSV membantu tubuh membentuk antibodi. Antibodi tersebut kemudian dapat berpindah melalui plasenta kepada janin sehingga bayi mendapatkan kekebalan pasif setelah lahir. Sementara itu, bayi dapat memperoleh perlindungan langsung melalui antibodi monoklonal seperti nirsevimab atau clesrovimab pada kelompok dan kondisi tertentu.
Nah, ini yang sering bikin bingung: nirsevimab dan clesrovimab bukan vaksin. Keduanya merupakan antibodi monoklonal yang memberikan antibodi secara langsung kepada bayi.
Terkait hal ini, salah satu penelitian paling penting tentang vaksin RSV adalah Studi MATISSE — NEJM (2023) yang menghasilkan kesimpulan bahwa efektivitas terhadap RSV berat yang membutuhkan perawatan medis pada bayi mencapai 81,8% dalam 90 hari pertama. Efektivitas tersebut masih 69,4% hingga 180 hari setelah bayi lahir. Tidak ditemukan sinyal keamanan baru yang mengkhawatirkan dalam penelitian tersebut.
Artinya, vaksinasi RSV ibu selama kehamilan dapat memberikan perlindungan penting kepada bayi pada periode awal kehidupan ketika bayi belum dapat memperoleh vaksin RSV secara langsung.
Manfaat Vaksin RSV
Mums, ada sejumlah manfaat dari vaksin RSV yang diberikan pada ibu hamil. Manfaat ini tentu saja tidak hanya dirasakan oleh ibu, melainkan juga oleh bayi yang ada dalam kandungannya. Berikut ini manfaat vaskin RSV yang perlu diketahui :
1. Membantu mengurangi risiko RSV berat
Salah satu manfaat utama vaksin RSV pada ibu hamil adalah memberikan perlindungan kepada bayi pada bulan-bulan pertama kehidupannya, ketika bayi masih sangat rentan terhadap RSV berat.
Menurut WHO, vaksin RSV pada ibu dapat mengurangi penyakit RSV berat yang membutuhkan perawatan medis sekitar 82% pada tiga bulan pertama kehidupan dan 70% pada enam bulan pertama. Rawat inap akibat RSV juga dilaporkan berkurang lebih dari 55% selama enam bulan pertama kehidupan bayi.
2. Membantu mengurangi risiko rawat inap
Pada RSV berat dapat menyebabkan bayi mengalami gangguan pernapasan hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit. Karena itu perlindungan melalui imunisasi dapat membantu menurunkan risiko tersebut.
Sementara itu, antibodi monoklonal seperti nirsevimab juga menunjukkan efektivitas tinggi dalam mencegah penyakit RSV serius dan rawat inap. WHO melaporkan penurunan penyakit RSV serius yang membutuhkan rawat inap sekitar 77% selama lima bulan setelah pemberian nirsevimab.
3. Memberikan perlindungan sejak awal kehidupan
Karena perkembangan sistem imun bayi belum sempurna, maka ia rentan terhadap infeksi RSV. Nah, melalui vaksinasi ibu selama kehamilan, antibodi dapat ditransfer kepada janin sebelum lahir. Sementara itu, antibodi monoklonal dapat memberikan perlindungan langsung kepada bayi setelah diberikan.
Nirsevimab, misalnya, mulai memberikan perlindungan dalam waktu sekitar satu minggu dan dapat bertahan setidaknya lima bulan.
4. Membantu menurunkan risiko komplikasi
RSV yang awalnya terlihat seperti flu biasa dapat berkembang menjadi bronkiolitis atau pneumonia pada bayi tertentu. Karena itu, mencegah RSV berat berarti ikut membantu mengurangi risiko komplikasi pernapasan yang dapat membuat bayi membutuhkan perawatan medis.
Mums, itulah manfaat dari vaksin RSV yang diberikan saat kehamilan. Infeksi RSV memang sering menyebabkan infeksi saluran pernapasan ringan. Tetapi pada bayi tertentu, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan, infeksi ini bisa berkembang menjadi kondisi yang serius.
Perlindungan RSV bukan sekadar mencegah bayi terkena batuk atau pilek. Yang paling penting adalah membantu menurunkan risiko infeksi berkembang menjadi penyakit berat, bronkiolitis, pneumonia, hingga rawat inap.
Itulah sebabnya ibu hamil dan orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kandungan atau dokter anak untuk menentukan pilihan perlindungan yang paling sesuai. Dan perlindungan terhadap RSV tidak harus menunggu bayi lahir. Pada kondisi yang sesuai, perlindungan dapat dipersiapkan sejak masa kehamilan.
Referensi :
NEJM. 2023. Bivalent Prefusion F Vaccine in Pregnancy to Prevent RSV Illness in Infants


