Tidak semua kehamilan berjalan mulus. Ada beberapa kasuh kehamilan yang berujung duka karena janin meninggal di kandungan. Kondisi ini tentu saja sangat menyedihkan, apalagi bila kehamilan tersebut sudah sangat lama dinantikan.
Janin meninggal di kandungan atau stillbirth seharusnya bisa dikenali dengan. Meski tidak semua kasus ini dapat dicegah, mengenali penyebab dan tanda-tandanya dapat membantu ibu hamil segera mencari pertolongan medis.
Penyebab Janin Meninggal di Kandungan
Janin meninggal di kandungan adalah kematian janin yang terjadi pada usia kehamilan 20 minggu atau lebih sebelum proses persalinan berlangsung. Definisi ini dapat sedikit berbeda di setiap negara, tetapi secara umum merujuk pada kehilangan kehamilan pada trimester kedua akhir atau trimester ketiga.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan sekitar 1,9 juta kasus stillbirth yang terjadi di seluruh dunia setiap tahunnya. Sebuah pembaruan literatur medis internasional yang dipublikasikan dalam StatPearls (2025) menyebutkan bahwa meskipun teknologi obstetri terus berkembang, sebagian besar kasus stillbirth masih sulit dijelaskan secara pasti.
Temuan utamanya antara lain stillbirth didefinisikan sebagai kematian janin pada usia kehamilan ≥20 minggu di Amerika Serikat, atau ≥28 minggu menurut definisi internasional. Namun, hingga sekitar 76% kasus dapat tetap tidak memiliki penyebab yang benar-benar definitif, terutama jika pemeriksaan lanjutan tidak lengkap. Temuan ini menunjukkan bahwa janin meninggal dalam kandungan bukan selalu akibat kesalahan ibu, melainkan disebabkan oleh kondisi medis yang kompleks.
Sejumlah faktor diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya stillbirth, yaitu :
1. Gangguan pada plasenta
Plasenta berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Jika terjadi gangguan pada plasenta, kebutuhan janin dapat terganggu. Misalnya solusio plasenta, yaitu plasenta terlepas sebagian atau seluruhnya dari dinding rahim sebelum persalinan.
2. Kelainan bawaan atau genetik
Kelainan kromosom dan cacat bawaan tertentu memengaruhi perkembangan organ vital janin sehingga meningkatkan risiko kematian dalam kandungan. Seperti kelainan kromosom, kelainan jantung bawaan berat, gangguan perkembangan organ vital.
3. Infeksi selama kehamilan
Beberapa infeksi dapat menembus plasenta atau memengaruhi kondisi ibu sehingga berdampak pada janin, seperti: sifilis, listeriosis, malaria, infeksi sitomegalovirus (CMV), toksoplasmosis. Risiko infeksi cenderung lebih tinggi jika tidak terdeteksi dan tidak ditangani dengan baik.
4. Kondisi kesehatan ibu
Beberapa penyakit pada ibu hamil juga dikaitkan dengan peningkatan risiko stillbirth, antara lain:
diabetes yang tidak terkontrol, tekanan darah tinggi, preeklamsia, penyakit ginjal, gangguan tiroid, penyakit autoimun tertentu.
5. Gangguan pada tali pusat
Tali pusat berperan membawa oksigen dan nutrisi kepada janin. Pada sebagian kasus, komplikasi tali pusat dapat mengganggu aliran darah ke janin, misalnya: simpul tali pusat, lilitan tali pusat yang menyebabkan hambatan aliran darah, prolaps tali pusat. Walaupun tidak semua lilitan tali pusat menyebabkan kematian janin.
6. Gangguan pertumbuhan janin
Fetal Growth Restriction (FGR) atau hambatan pertumbuhan janin merupakan kondisi ketika ukuran janin lebih kecil dibanding usia kehamilannya akibat gangguan pasokan nutrisi atau oksigen.
7. Faktor gaya hidup
Beberapa gaya hidup yang tidak sehat selama kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi, seperti: merokok, konsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan terlarang, obesitas, kurangnya pemeriksaan kehamilan rutin.
Kenali Tanda Janin Meninggal di Kandungan
Memang tidak semua ibu hamil mengalami gejala yang jelas terkait kasus janin meninggal di kandungan. Namun, bila ibu hamil mengalami salah satu dari beberapa tanda berikut ini perlu segera diperiksakan ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat :
1. Gerakan janin berkurang atau tidak terasa
Ini merupakan tanda yang paling sering dilaporkan. Bila ibu hamil merasa gerakan janin berkurang secara signifikan atau tidak merasakan gerakan sama sekali, terutama setelah usia kehamilan 28 minggu, segera hubungi dokter atau bidan.
2. Tidak terdengar detak jantung janin
Detak jantung janin biasanya dipantau saat pemeriksaan antenatal. Pada kasus stillbirth, detak jantung tidak dapat ditemukan melalui alat Doppler dan perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG).
3. Kram atau nyeri perut hebat
Sebagian ibu hamil dapat mengalami nyeri perut hebat yang tidak biasa, terutama jika berkaitan dengan solusio plasenta.
4. Perdarahan dari jalan lahir
Perdarahan selama kehamilan tidak selalu berarti janin meninggal, tetapi tetap merupakan tanda bahaya yang membutuhkan evaluasi segera.
5. Keluar cairan ketuban sebelum waktunya
Pecah ketuban dini dapat meningkatkan risiko infeksi dan komplikasi lain yang membahayakan janin.
6. Ukuran perut tidak bertambah
Dalam beberapa kasus, ibu merasa ukuran perut tidak bertambah sesuai usia kehamilan. Namun, kondisi ini hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan medis.
Mums, itulah penyebab dan tanda janin meninggal di kandungan yang perlu dipahami. Janin meninggal dalam kandungan atau stillbirth merupakan kondisi yang dapat terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari gangguan plasenta, infeksi, kelainan bawaan, hingga penyakit pada ibu.
Tanda yang paling penting untuk diwaspadai adalah berkurangnya atau tidak adanya gerakan janin. Meskipun tidak semua kasus dapat dicegah, namun dengan pemeriksaan kehamilan rutin, pemantauan gerakan janin, dan penanganan dini terhadap faktor risiko dapat membantu menjaga kesehatan ibu dan janin selama kehamilan.
Referensi :
StatPearls Publishing. 2025. Stillbirth


